Intelijen AS Sebut Pendapatan Korut Meroket dari Jual Senjata ke Rusia dan Kejahatan Siber
WASHINGTON, investor.id – Pendapatan mata uang asing Korea Utara dilaporkan mencapai level tertinggi sejak sanksi internasional diperketat pada 2018. Lonjakan devisa ini dipicu oleh dua mesin uang utama: penjualan senjata ke Rusia dan aksi perampokan siber berskala global.
Laporan tahunan dari Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) Amerika Serikat mengungkapkan bahwa rezim Kim Jong Un setidaknya meraup US$ 1 miliar (sekitar Rp 15,7 triliun) setiap tahunnya dari operasi siber ilegal. Dana ini digunakan untuk mendanai ambisi militer serta pengembangan rudal canggih dan senjata nuklir, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (20/3/2026).
Korut dinilai semakin canggih dalam menembus sistem keamanan internasional. Laporan tersebut menyebutkan bahwa "pasukan" peretas Korea Utara fokus pada upaya menghindari sanksi finansial, mencuri dana, serta melakukan spionase siber guna menambal celah dalam program pengembangan senjata mereka.
Tak hanya mengandalkan peretasan, Korea Utara juga mengerahkan pekerja IT yang berbasis di luar negeri. Mereka sering kali menggunakan identitas palsu untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar dunia demi mencuri rahasia militer dan industri.
Keuntungan Besar dari Perang Ukraina
Selain sektor siber, kemitraan militer dengan Moskow menjadi sumber pendapatan baru yang sangat menggiurkan. Sebuah studi memperkirakan Korea Utara telah memasok senjata dan personel militer senilai hingga US$ 14 miliar untuk mendukung invasi Rusia di Ukraina.
Sinergi ini tidak hanya memberikan keuntungan finansial, tetapi juga transfer teknologi militer. Intelijen AS mencatat bahwa Korea Utara telah mendapatkan "pengalaman tempur yang berharga" serta teknologi militer dari Rusia sebagai imbalan atas partisipasi mereka dalam operasi tempur melawan Ukraina.
Ancaman Nuklir yang Kian Nyata
Kembalinya arus modal ini membuktikan bahwa sanksi ekonomi internasional mulai kehilangan taji. Dengan dana yang terus mengalir, Korea Utara dilaporkan telah berhasil menguji rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mampu menjangkau seluruh daratan Amerika Serikat.
"Korea Utara berkomitmen kuat untuk memperluas persenjataan nuklirnya, yang terlihat dari pesatnya frekuensi uji coba penerbangan dan pengungkapan kemampuan pengayaan uranium mereka," tulis laporan ODNI tersebut.
Sejak 2006, Dewan Keamanan PBB telah menjatuhkan serangkaian sanksi berat terhadap Korea Utara sebagai respons atas program nuklir dan uji coba rudal balistiknya. Sanksi ini dirancang untuk memutus jalur perdagangan utama seperti ekspor batu bara, tekstil, dan hasil laut guna menghentikan pendanaan militer negara tersebut.
Namun, pecahnya perang di Ukraina pada 2022 menciptakan dinamika geopolitik baru. Isolasi yang dialami Rusia dari Barat mendorong Moskow untuk mempererat hubungan dengan Pyongyang. Aliansi ini memberikan "napas baru" bagi ekonomi Korea Utara, di mana kebutuhan Rusia akan amunisi konvensional bertemu dengan kebutuhan Korea Utara akan pangan, energi, dan bantuan teknologi tinggi.
Transformasi Korea Utara dari negara terisolasi menjadi penyokong logistik perang global menunjukkan kegagalan strategi tekanan maksimum yang selama ini diterapkan oleh blok Barat.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






