Raksasa Minyak Dunia Bakal Raup Keuntungan Miliaran Dolar dari Konflik Iran
HOUSTON, investor.id – Perang yang melibatkan Iran telah memicu guncangan hebat pada pasokan energi global. Namun, di balik krisis tersebut, perusahaan-perusahaan minyak raksasa (Big Oil) diprediksi akan meraup keuntungan fantastis hingga miliaran dolar akibat lonjakan harga energi di pasar internasional.
Harga minyak mentah acuan global, Brent, mencatat rata-rata sekitar US$ 97 per barel sepanjang Maret ini. Angka tersebut melonjak tajam sebesar 33% dibandingkan rata-rata Februari yang hanya US$ 69.
Eskalasi konflik yang dimulai pada akhir Februari 2026 telah melumpuhkan seperlima pasokan dunia yang biasanya melintasi Selat Hormuz.
Para analis menilai situasi ini serupa dengan saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 meroketkan laba industri minyak ke level rekor. "Kuartal pertama tahun ini akan menjadi periode yang fenomenal bagi perusahaan-perusahaan ini," ujar analis riset senior Roth Capital Partners Leo Mariani seperti dikutip Reuters, Jumat (27/3/2026).
Chevron, Shell, dan Exxon Mobil di Atas Angin
Data LSEG menunjukkan para analis telah merevisi proyeksi keuntungan untuk perusahaan migas utama:
- Chevron: Estimasi laba per saham naik rata-rata 40%. Berdasarkan kalkulasi, kenaikan harga minyak dapat menambah pendapatan hingga US$ 4 miliar hanya untuk Maret 2026.
- Shell: Estimasi laba bersih meningkat sekitar 15%. Perusahaan asal London ini dijadwalkan merilis pembaruan finansial pada 8 April 2026.
- Exxon Mobil: Sebagai produsen terbesar AS, Exxon diperkirakan meraup tambahan pendapatan sekitar US$ 5,1 miliar pada Maret, meski beberapa fasilitasnya di Timur Tengah terdampak konflik.
Produsen 'Shale Gas' AS Jadi Pemenang Terbesar
Pihak yang paling diuntungkan dalam situasi ini adalah produsen minyak shale asal Amerika Serikat yang tidak memiliki aset di Timur Tengah.
Mereka menikmati kenaikan harga global tanpa harus menanggung risiko kerusakan fasilitas akibat serangan atau gangguan pengiriman. Contohnya, Diamondback Energy yang proyeksi laba per sahamnya melonjak hingga 28% pasca-meletusnya perang.
Meski meraup "durian runtuh", para eksekutif industri menegaskan bahwa keuntungan besar ini kemungkinan tidak akan digunakan untuk meningkatkan belanja modal atau menambah produksi baru secara drastis. Industri tetap waspada karena lonjakan harga akibat perang sering kali bersifat jangka pendek dan volatil.
Selat Hormuz merupakan jalur maritim paling vital bagi industri energi dunia, menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan konsumen di seluruh penjuru bumi.
Setiap harinya, jutaan barel minyak mentah dan gas alam cair (LNG) melintasi perairan sempit ini. Ketegangan bersenjata yang melibatkan Iran secara langsung mengancam stabilitas pasokan ini, yang seketika memicu premi risiko pada harga pasar.
Kenaikan harga energi yang drastis akibat konflik geopolitik sering kali menimbulkan perdebatan mengenai "laba tidak terduga" (windfall profit). Di satu sisi, kenaikan ini memberikan napas segar bagi neraca keuangan perusahaan migas dan meningkatkan dividen bagi pemegang saham.
Namun di sisi lain, lonjakan ini memicu inflasi global yang membebani konsumen akhir dan sering kali memicu seruan politik untuk pengenaan pajak tambahan bagi perusahaan energi guna membantu masyarakat yang terdampak kenaikan harga BBM.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






