Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Vital Iran Jika Kesepakatan Gagal
DUBAI, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran pada Selasa (31/3/2026). Trump menegaskan akan menghancurkan sumber daya energi dan infrastruktur vital Iran, termasuk instalasi desalinasi air minum, jika kesepakatan untuk mengakhiri perang tidak segera tercapai dalam waktu dekat.
Ancaman ini muncul di tengah eskalasi konflik yang kian meluas di kawasan Teluk, lapor Associated Press, Selasa (31/3/2026). Sementara Trump menggertak melalui media sosial, Iran dilaporkan telah menyerang pembangkit listrik dan air di Kuwait, serta menargetkan kilang minyak di Israel.
Sebuah pesawat nirawak (drone) juga menghantam kapal tanker minyak Kuwait di perairan Dubai, memicu kebakaran hebat pada Selasa pagi.
Diplomasi di Tengah Desing Peluru
Meski situasi di lapangan memanas, Trump mengklaim adanya kemajuan dalam jalur diplomasi. Ia menyebut pemerintahannya tengah bernegosiasi dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf.
Namun, pihak Iran membantah adanya negosiasi langsung dan menyebut proposal 15 poin dari AS sebagai tuntutan yang dinilai tidak realistis dan tidak rasional.
Dalam unggahannya, Trump mengancam akan melakukan "penghancuran total" terhadap:
- Pembangkit listrik dan sumur minyak Iran.
- Hub ekspor minyak di Pulau Kharg.
- Fasilitas desalinasi air yang menjadi tumpuan hidup warga sipil.
"Jika kesepakatan tidak tercapai segera, dan jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali, AS akan memperluas ofensifnya," tulis Trump seperti dikutip Associated Press, Selasa. Adapun Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi seperlima pasokan minyak dunia.
Para pakar hukum internasional memperingatkan serangan terhadap infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan air memiliki ambang batas legal yang sangat tinggi. Serangan yang menyebabkan penderitaan berlebihan bagi warga sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Di Iran, dampak serangan mulai dirasakan warga. Pemadaman listrik total dilaporkan terjadi di wilayah Karaj selama berjam-jam setelah serangan udara menghantam area sekitarnya.
"Saya sangat takut. Saya pikir mereka menghantam pembangkit listrik dan kami tidak akan punya listrik lagi," ungkap seorang warga setempat.
Eskalasi Regional dan Krisis Energi Global
Konflik ini tidak lagi hanya melibatkan AS, Israel, dan Iran. Pemberontak Houthi dari Yaman telah menyatakan bergabung dalam perang dengan meluncurkan serangan rudal pertama mereka. Sementara itu, aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) melaporkan telah mencegat rudal balistik yang ditembakkan dari Iran di atas wilayah udara Turki.
Ketegangan ini berdampak langsung pada ekonomi dunia. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak ke level US$ 115, naik hampir 60% sejak perang pecah. Serangan Iran terhadap infrastruktur energi dan ancaman penutupan Selat Hormuz dikhawatirkan akan memicu krisis energi global yang berkelanjutan.
Di Lebanon, situasi tak kalah tragis. Tiga anggota pasukan penjaga perdamaian PBB asal Indonesia (UNIFIL) dilaporkan gugur dalam waktu kurang dari 24 jam. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat pada hari Selasa untuk membahas krisis ini.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru yang lebih berbahaya pada awal 2026. Konflik terbuka ini dipicu oleh serangan pada 28 Februari 2026 yang mengakhiri periode diplomasi panjang. Inti dari perselisihan ini tetap berpusat pada program nuklir Iran, pengaruh kelompok proksi di kawasan seperti Hizbullah dan Houthi, serta kendali atas jalur pelayaran energi internasional.
Ancaman terhadap Selat Hormuz menjadi instrumen tekanan paling kuat yang dimiliki Iran, mengingat signifikansi jalur tersebut bagi ekonomi global.
Di sisi lain, kembalinya Donald Trump ke panggung kepemimpinan AS membawa kembali kebijakan tekanan maksimum yang lebih agresif, yang kini tidak hanya terbatas pada sanksi ekonomi, tetapi juga tindakan militer langsung terhadap aset-aset ekonomi strategis.
Eskalasi ini telah menyeret negara-negara tetangga seperti Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA) ke dalam pusaran konflik, menciptakan ketidakstabilan keamanan yang paling parah di kawasan tersebut dalam beberapa dekade terakhir.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






