Pengamat Sebut Kunjungan Prabowo ke Jepang Jadi Langkah Strategis
Kunjungan Prabowo menghasilkan 11 nota kesepahaman (MoU) senilai total 23,63 miliar dolar AS atau sekitar Rp401,71 triliun yang diumumkan dalam Forum Bisnis Indonesia–Jepang di Tokyo.
Kerja sama tersebut mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari hilirisasi energi bersih, pengembangan gas dan panas bumi, ekosistem semikonduktor dan AI, hingga penguatan sistem keuangan dan investasi.
Bagi Zenzia, nilai tersebut bukan sekadar angka, melainkan sinyal kuat kepercayaan Jepang terhadap prospek ekonomi Indonesia.
“Ini menunjukkan Jepang tidak keluar dari Indonesia, justru memperdalam keterlibatan dengan pendekatan baru yang lebih strategis,” ujarnya.
Kunjungan ini juga dinilai tepat karena memanfaatkan momentum kebijakan “China Plus One” yang tengah dijalankan perusahaan Jepang. Banyak perusahaan Jepang mulai mendiversifikasi basis produksi mereka keluar dari China.
Indonesia dipandang sebagai kandidat kuat karena stabilitas politik, pasar besar, dan kekayaan sumber daya alam, terutama mineral kritis seperti nikel.
“Ini peluang besar bagi Indonesia untuk naik kelas dalam rantai pasok global,” kata Zenzia.
Lebih jauh, Zenzia menilai kunjungan ini tidak semata berdimensi ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek keamanan strategis kawasan.
Kerja sama di bidang maritim, jalur pelayaran, dan stabilitas kawasan menjadi bagian penting dari hubungan Indonesia–Jepang, terutama di tengah dinamika geopolitik di Laut China Selatan.
“Ekonomi dan keamanan sekarang tidak bisa dipisahkan. Jepang adalah mitra yang relatif netral dan terpercaya dalam konteks itu,” ujarnya.
Zenzia menegaskan, langkah Prabowo ke Jepang menunjukkan upaya rebalancing atau penyeimbangan kembali arah diplomasi Indonesia.
Di satu sisi, Indonesia tetap menjaga hubungan dengan China. Namun di sisi lain, Indonesia mulai menguatkan kembali kemitraan dengan Jepang sebagai pilar penting dalam strategi jangka panjang.
“Ini bukan soal memilih satu dan meninggalkan yang lain. Ini soal menempatkan mitra sesuai karakter dan kepentingan nasional,” kata dia.
Menurutnya, jika strategi ini konsisten dijalankan, Indonesia berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Asia dengan dukungan teknologi Jepang dan skala pasar domestik.
“Ini langkah yang tepat, dan memang sudah seharusnya dilakukan sejak awal,” tutup Zenzia.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






