JPMorgan Sebut Perang Iran Bisa Picu Ledakan Inflasi dan Bunga Kredit
NEW YORK, investor.id – CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon mengeluarkan peringatan keras terkait dampak ekonomi dari perang yang melibatkan Iran. Menurutnya, konflik tersebut berisiko memicu lonjakan harga minyak dan komoditas global yang dapat membuat inflasi tetap tinggi, sehingga memaksa suku bunga naik melampaui ekspektasi pasar.
Pernyataan ini disampaikan Dimon dalam surat tahunan kepada pemegang saham pada Senin (6/4/2026), tak lama setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran. Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan jika Iran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi pasokan energi dunia, lapor Reuters.
Dimon menekankan tantangan global saat ini sangat signifikan, mulai dari perang di Ukraina hingga ketegangan dengan China. Namun, perang di Iran menambah beban baru yang sangat berat.
"Karena perang di Iran, kita menghadapi potensi guncangan harga minyak dan komoditas yang berkelanjutan, serta perombakan rantai pasokan global. Hal ini dapat menyebabkan inflasi yang lebih 'lengket' dan pada akhirnya suku bunga yang lebih tinggi dari perkiraan pasar saat ini," tulis Dimon.
Ia juga menyoroti ancaman terbesar dari Iran tetaplah proliferasi nuklir.
Kekhawatiran pasar terhadap inflasi akibat perang ini pun telah memupus harapan akan adanya pemotongan suku bunga dalam waktu dekat, meskipun pasar saham sempat mencatatkan rekor tertinggi tahun lalu.
Ketahanan Ekonomi dan Risiko Kredit
Meskipun dibayangi awan mendung geopolitik, Dimon menilai ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan. Konsumen masih memiliki daya beli dan sektor bisnis tetap sehat, meski ada sedikit pelemahan baru-baru ini. Ia juga memuji kebijakan deregulasi, stimulus fiskal, serta belanja modal berbasis AI sebagai faktor positif bagi ekonomi.
Terkait sektor kredit swasta yang bernilai US$ 1,8 triliun, Dimon berpendapat sektor ini mungkin belum menjadi risiko sistemik. Namun, ia memperingatkan bahwa kurangnya transparansi dan pelemahan standar kredit dapat menyebabkan kerugian yang lebih tinggi dari perkiraan jika siklus ekonomi memburuk.
Selain masalah makroekonomi, Dimon menggunakan suratnya untuk mengkritik keras revisi aturan modal perbankan (Basel-III dan GSIB) yang diusulkan regulator AS. Ia menyebut aturan yang membebani bank besar seperti JPMorgan dengan tambahan modal adalah hal yang tidak masuk akal dan tidak mencerminkan nilai Amerika (un-American).
Selat Hormuz merupakan titik nadi perdagangan minyak dunia, di mana sekitar seperlima dari total konsumsi minyak bumi global melintas setiap harinya. Penutupan atau gangguan di jalur ini hampir selalu memicu lonjakan harga energi secara instan. Peringatan Jamie Dimon ini muncul di tengah ketidakpastian pasar finansial yang baru saja melewati kuartal terburuk sejak 2022.
Dengan inflasi yang sulit turun (sticky inflation), bank sentral AS (The Fed) berada dalam posisi sulit untuk menurunkan suku bunga, yang pada akhirnya berdampak pada mahalnya biaya kredit bagi masyarakat dan pelaku usaha di seluruh dunia.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






