Minggu, 21 Juni 2026

JPMorgan Sebut Perang Iran Bisa Picu Ledakan Inflasi dan Bunga Kredit

Penulis : Grace El Dora
6 Apr 2026 | 17:39 WIB
BAGIKAN
Ketua Dewan dan CEO JPMorgan Chase & Co. Jamie Dimon di Miami, Florida, Amerika Serikat pada 8 Februari 2023. (Foto: REUTERS/Marco Bello/File Photo)
Ketua Dewan dan CEO JPMorgan Chase & Co. Jamie Dimon di Miami, Florida, Amerika Serikat pada 8 Februari 2023. (Foto: REUTERS/Marco Bello/File Photo)

NEW YORK, investor.id – CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon mengeluarkan peringatan keras terkait dampak ekonomi dari perang yang melibatkan Iran. Menurutnya, konflik tersebut berisiko memicu lonjakan harga minyak dan komoditas global yang dapat membuat inflasi tetap tinggi, sehingga memaksa suku bunga naik melampaui ekspektasi pasar.

Pernyataan ini disampaikan Dimon dalam surat tahunan kepada pemegang saham pada Senin (6/4/2026), tak lama setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran. Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan jika Iran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi pasokan energi dunia, lapor Reuters.

Dimon menekankan tantangan global saat ini sangat signifikan, mulai dari perang di Ukraina hingga ketegangan dengan China. Namun, perang di Iran menambah beban baru yang sangat berat.

"Karena perang di Iran, kita menghadapi potensi guncangan harga minyak dan komoditas yang berkelanjutan, serta perombakan rantai pasokan global. Hal ini dapat menyebabkan inflasi yang lebih 'lengket' dan pada akhirnya suku bunga yang lebih tinggi dari perkiraan pasar saat ini," tulis Dimon.

ADVERTISEMENT

Ia juga menyoroti ancaman terbesar dari Iran tetaplah proliferasi nuklir.

Kekhawatiran pasar terhadap inflasi akibat perang ini pun telah memupus harapan akan adanya pemotongan suku bunga dalam waktu dekat, meskipun pasar saham sempat mencatatkan rekor tertinggi tahun lalu.

Ketahanan Ekonomi dan Risiko Kredit

Meskipun dibayangi awan mendung geopolitik, Dimon menilai ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan. Konsumen masih memiliki daya beli dan sektor bisnis tetap sehat, meski ada sedikit pelemahan baru-baru ini. Ia juga memuji kebijakan deregulasi, stimulus fiskal, serta belanja modal berbasis AI sebagai faktor positif bagi ekonomi.

Terkait sektor kredit swasta yang bernilai US$ 1,8 triliun, Dimon berpendapat sektor ini mungkin belum menjadi risiko sistemik. Namun, ia memperingatkan bahwa kurangnya transparansi dan pelemahan standar kredit dapat menyebabkan kerugian yang lebih tinggi dari perkiraan jika siklus ekonomi memburuk.

Selain masalah makroekonomi, Dimon menggunakan suratnya untuk mengkritik keras revisi aturan modal perbankan (Basel-III dan GSIB) yang diusulkan regulator AS. Ia menyebut aturan yang membebani bank besar seperti JPMorgan dengan tambahan modal adalah hal yang tidak masuk akal dan tidak mencerminkan nilai Amerika (un-American).

Selat Hormuz merupakan titik nadi perdagangan minyak dunia, di mana sekitar seperlima dari total konsumsi minyak bumi global melintas setiap harinya. Penutupan atau gangguan di jalur ini hampir selalu memicu lonjakan harga energi secara instan. Peringatan Jamie Dimon ini muncul di tengah ketidakpastian pasar finansial yang baru saja melewati kuartal terburuk sejak 2022.

Dengan inflasi yang sulit turun (sticky inflation), bank sentral AS (The Fed) berada dalam posisi sulit untuk menurunkan suku bunga, yang pada akhirnya berdampak pada mahalnya biaya kredit bagi masyarakat dan pelaku usaha di seluruh dunia.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 5 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 5 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 6 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
International 6 jam yang lalu

Proyek Ambisius AI Kuras Kas, Investor Pantau Pasar Obligasi

Pembangunan pusat data AI kuras kas perusahaan teknologi. Investor kini wajib pantau suku bunga The Fed dan pasar obligasi global.
Business 6 jam yang lalu

Red Hat Dukung Pengembangan Agentic AI

Red Hat, penyedia solusi open source , baru-baru ini mengumumkan langkah inovatif yang signifikan pada portofolio  Red Hat AI untuk membantu menjembatani kesenjangan antara eksperimen AI dan kendali operasional di tingkat produksi.
International 6 jam yang lalu

Serangan Israel Tewaskan 16 di Lebanon, Dialog AS-Iran di Ujung Tanduk

Gencatan senjata rapuh, serangan Israel tewaskan 16 orang di Lebanon. Masa depan dialog damai nuklir AS-Iran kini kian terancam.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia