China Siapkan Balasan Jika Trump Nekat Naikkan Tarif Impor
BEIJING, investor.id – Pemerintah China secara tegas menyatakan akan mengambil "langkah balasan" apabila Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mewujudkan ancamannya untuk mengenakan tarif baru terhadap produk-produk asal Negeri Tirai Bambu tersebut.
Ancaman ini mencuat setelah muncul laporan yang menuduh pemerintah China telah memasok atau berencana mengirimkan persenjataan ke Iran di tengah ketegangan perang yang sedang berlangsung, lapor AFP, Selasa (14/4/2026).
Pekan lalu, Presiden Trump menyatakan bakal memukul komoditas China dengan tarif sebesar 50% jika terbukti memberikan bantuan militer kepada Iran. Pernyataan ini cukup mengejutkan mengingat Trump dijadwalkan akan mengunjungi Beijing bulan depan untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping.
Tuduhan Intelijen AS
Ketegangan ini bermula dari laporan CNN internasional yang mengutip sumber intelijen bahwa China tengah bersiap mengirimkan sistem pertahanan udara baru ke Iran dalam beberapa pekan ke depan. Selain itu, New York Times juga melaporkan pejabat AS menduga otoritas China mungkin telah mengirimkan rudal panggul ke wilayah tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun membantah keras kabar tersebut dalam konferensi pers hari ini. Ia menyebut laporan-laporan itu sebagai rekayasa semata.
"Jika Amerika Serikat bersikeras menggunakan alasan ini untuk membebankan tarif tambahan, China dipastikan akan mengambil langkah balasan yang tegas," ujar Guo.
Hubungan China-Iran: Transaksional atau Militer?
Otoritas China memang merupakan mitra ekonomi utama Iran, terutama sebagai pembeli terbesar minyak mentah dari negara Timur Tengah tersebut. Namun, banyak analis menilai hubungan kedua negara lebih bersifat transaksional daripada kemitraan militer formal.
Di sisi lain, China juga memiliki kepentingan ekonomi yang kuat dengan negara-negara Teluk lainnya. Selama ini, China cenderung kritis terhadap serangan-serangan Iran yang menargetkan wilayah Teluk selama perang berlangsung guna menjaga keseimbangan hubungan di kawasan tersebut.
Perselisihan tarif antara Amerika Serikat dan China bukanlah hal baru, namun keterkaitannya dengan isu militer di Timur Tengah menandai babak baru yang lebih berisiko. Sejak era pertama kepemimpinannya, Donald Trump kerap menggunakan instrumen tarif sebagai senjata negosiasi untuk menekan defisit perdagangan AS dan membatasi pengaruh global China.
Di sisi lain, posisi China di Timur Tengah dinilai unik. Sebagai importir energi terbesar dunia, China berkepentingan menjaga stabilitas di Selat Hormuz dan sekitarnya.
Meskipun China kerap menggunakan pengaruh ekonominya untuk membantu Iran menghindari isolasi Barat, pemerintahnya juga harus berhati-hati agar tidak merusak hubungannya dengan negara-negara Arab sekutu AS yang menjadi pemasok minyak utama lainnya.
Ancaman tarif 50% ini diprediksi tidak hanya akan mengganggu hubungan bilateral kedua negara, tetapi juga berpotensi mengacaukan rantai pasok global yang baru mulai pulih.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






