Menlu Palestina Sebut Ketegangan AS-Iran Hambat Pemulihan Jalur Gaza
ANTALYA, investor.id – Rencana pemulihan dan perdamaian di Jalur Gaza kini menghadapi jalan buntu. Menteri Luar Negeri Palestina, Varsen Aghabekian, mengungkapkan bahwa eskalasi ketegangan antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel telah mengalihkan perhatian dunia dari krisis kemanusiaan di Palestina.
Dalam sela-sela forum Antalya Diplomacy Forum pada Sabtu (18/4/2026), Aghabekian menjelaskan tahap awal rencana perdamaian Gaza terpaksa terhenti. Ia menilai konflik segitiga antara AS, Israel, dan Iran telah mengaburkan prioritas proses pemulihan yang sangat dibutuhkan warga Palestina.
"Implementasi rencana tersebut terhenti di tahap pertama karena konflik antara AS, Israel, dan Iran mengalihkan perhatian dari proses pemulihan di Palestina," ujar Aghabekian menurut laporan RIA Novosti, Sabtu.
Pemerintah Palestina juga menyatakan kekhawatiran mendalam mengenai potensi serangan militer baru dari Israel. Menurut Aghabekian, pihak Israel secara terbuka menunjukkan niatnya untuk terus menjajah Jalur Gaza dan Tepi Barat.
"Tel Aviv tidak menginginkan perdamaian; mereka ingin wilayah Palestina selalu dirundung konflik," tegas sang Menlu. Ia menambahkan, ambisi ekspansi wilayah tersebut menjadi penghalang utama bagi terciptanya stabilitas di kawasan tersebut.
Nasib Resolusi DK PBB dan Rencana Trump
Ketidakpastian ini muncul di tengah upaya internasional yang sebelumnya dipelopori oleh Dewan Keamanan PBB. Pada November 2025 lalu, DK PBB telah mengesahkan resolusi yang mendukung rencana komprehensif rancangan Presiden AS Donald Trump.
Rencana tersebut mencakup beberapa poin krusial, di antaranya:
- Pembentukan administrasi internasional sementara di Jalur Gaza.
- Pembentukan "dewan perdamaian" yang dipimpin langsung oleh Donald Trump.
- Pengerahan pasukan stabilisasi internasional melalui koordinasi dengan Israel dan Mesir.
Meski didukung oleh 13 dari 15 anggota DK PBB, implementasi rencana ini masih menggantung seiring dengan meningkatnya suhu geopolitik di Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir.
Jalur Gaza telah menjadi pusat konflik berkepanjangan yang melibatkan krisis kemanusiaan luar biasa. Setelah rangkaian pertempuran hebat dalam beberapa tahun terakhir, komunitas internasional mencoba merumuskan mekanisme transisi untuk membangun kembali infrastruktur yang hancur.
Langkah Donald Trump melalui rencana "Dewan Perdamaian" (Board of Peace/ BoP) merupakan upaya ambisius untuk melibatkan kepemimpinan AS secara langsung dalam administrasi wilayah konflik.
Namun, keterlibatan Iran dalam peta konflik regional sering kali mengubah dinamika di lapangan. Iran, yang mendukung faksi-faksi perlawanan di Palestina, berada di posisi berseberangan dengan blok AS-Israel.
Ketika ketegangan antara Iran dan AS memuncak, terutama terkait isu nuklir dan keamanan maritim, isu kemanusiaan di Gaza sering kali terpinggirkan dari meja diplomasi utama. Hal ini membuat warga sipil tetap berada dalam ketidakpastian tanpa bantuan rekonstruksi yang memadai.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





