Minggu, 21 Juni 2026

Kesepakatan AS-Iran Terhambat, Pembicaraan di Swiss Batal

Penulis : Grace El Dora
19 Jun 2026 | 15:03 WIB
BAGIKAN
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin telah membahas soal kebocoran dokumen yang diduga rahasia, yang merinci persiapan Israel untuk serangan balasan yang dinyatakannya terhadap Iran dengan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant, demikian kata Pentagon pada Selasa (22/10/2024). (Foto: ANTARA/Anadolu/py)
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin telah membahas soal kebocoran dokumen yang diduga rahasia, yang merinci persiapan Israel untuk serangan balasan yang dinyatakannya terhadap Iran dengan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant, demikian kata Pentagon pada Selasa (22/10/2024). (Foto: ANTARA/Anadolu/py)

WASHINGTON, investor.id – Optimisme pasar sempat mencuat menyusul pengumuman kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, harapan akan perdamaian jangka panjang kini kembali diuji setelah rencana pembicaraan lanjutan di Swiss pada Jumat (19/6/2026) mendadak dibatalkan.

Kementerian Luar Negeri Swiss mengonfirmasi perundingan yang dijadwalkan berlangsung di Bürgenstock tidak dapat dilanjutkan sesuai rencana, lapor CNBC internasional, Jumat (19/6/2026).

Senada dengan hal tersebut, Gedung Putih menyatakan Wakil Presiden JD Vance membatalkan perjalanannya ke Swiss dengan alasan masalah logistik yang belum terselesaikan.

"Rencana pembicaraan teknis belum difinalisasi, dan delegasi AS sebenarnya sudah siap untuk berangkat. Namun, logistik perundingan ini memang tidak pernah sederhana atau dapat diprediksi," ujar juru bicara Gedung Putih, Jumat.

ADVERTISEMENT

Pembatalan ini terjadi hanya sehari setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman (MoU) sebagai langkah awal untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Tantangan Menuju Perdamaian Permanen

Para analis memperingatkan kesepakatan tersebut hanyalah langkah awal yang rapuh. UBS, dalam sebuah laporan, menyebut proses ini adalah permulaan dan bukan akhir dari upaya mengakhiri perang sekaligus menangani kapabilitas nuklir Iran.

Adel Abdel Ghafar selaku peneliti senior dari Australian Strategic Policy Institute menyoroti masih adanya titik krusial yang belum terselesaikan, seperti kampanye Israel di Lebanon. "Jika tidak ditangani, ada skenario kita kembali ke konflik, meski saat ini kedua belah pihak ingin menghindarinya," jelas Ghafar.

Di sisi lain, kesepakatan ini memberikan dampak positif bagi stabilitas di Selat Hormuz. Gangguan pelayaran yang sebelumnya terdampak oleh serangan Iran dan blokade Angkatan Laut AS kini mulai mereda.

David Roche dari Quantum Strategy menilai penurunan harga minyak akibat stabilnya jalur pelayaran dapat membantu menekan inflasi global.

Meski demikian, Roche tetap skeptis terhadap stabilitas jangka panjang. Ia khawatir kesepakatan ini justru memperkuat posisi Iran di Teluk dan membatasi intervensi eksternal terhadap urusan dalam negeri negara tersebut.

Pembelaan Trump dan Vance

Kesepakatan ini memicu kritik di dalam negeri AS, dengan tuduhan soal AS memberikan konsesi terlalu besar kepada Iran. Menanggapi kritik tersebut, Presiden Trump menegaskan keberhasilannya melalui platform Truth Social.

"Mereka yang berpikir saya kurang tegas terhadap Iran adalah orang-orang yang cemburu atau bodoh, apalagi saat ini pasar saham mencapai rekor tertinggi dan harga minyak sedang terjun bebas," tulis Trump.

Wakil Presiden JD Vance juga menepis kekhawatiran tersebut dengan memastikan pemerintah AS tidak memberikan dana sepeser pun kepada Iran dalam kesepakatan ini.

Hubungan AS dan Iran telah lama diwarnai oleh ketegangan diplomatik, sanksi ekonomi, dan persaingan pengaruh di Timur Tengah. Konflik ini semakin memuncak akibat ambisi nuklir Iran serta keterlibatan proksi di berbagai wilayah, yang memicu ketidakstabilan di jalur perdagangan minyak vital di Selat Hormuz.

Kesepakatan ini menjadi upaya diplomasi tingkat tinggi yang jarang terjadi di tengah retorika konfrontatif kedua negara, namun tetap menghadapi penolakan keras dari sekutu regional, terutama Israel, yang memandang ambisi nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 2 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 2 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 3 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
International 3 jam yang lalu

Proyek Ambisius AI Kuras Kas, Investor Pantau Pasar Obligasi

Pembangunan pusat data AI kuras kas perusahaan teknologi. Investor kini wajib pantau suku bunga The Fed dan pasar obligasi global.
Business 3 jam yang lalu

Red Hat Dukung Pengembangan Agentic AI

Red Hat, penyedia solusi open source , baru-baru ini mengumumkan langkah inovatif yang signifikan pada portofolio  Red Hat AI untuk membantu menjembatani kesenjangan antara eksperimen AI dan kendali operasional di tingkat produksi.
International 3 jam yang lalu

Serangan Israel Tewaskan 16 di Lebanon, Dialog AS-Iran di Ujung Tanduk

Gencatan senjata rapuh, serangan Israel tewaskan 16 orang di Lebanon. Masa depan dialog damai nuklir AS-Iran kini kian terancam.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia