Lima Strategi Cerdas Mengelola THR
JAKARTA, investor.id — Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi salah satu momen peningkatan likuiditas rumah tangga yang bersifat musiman. Tambahan pemasukan di luar gaji rutin ini sering kali langsung terserap untuk kebutuhan konsumsi menjelang Idulfitri, seperti belanja pakaian, mudik, hingga pemberian hadiah bagi keluarga.
Tanpa perencanaan, THR kerap habis dalam waktu singkat dan tidak memberikan dampak berarti bagi kondisi keuangan setelah Lebaran. Dalam perspektif manajemen keuangan, THR dapat diposisikan sebagai momentum strategis untuk memperkuat struktur keuangan keluarga, bukan sekadar menambah belanja musiman.
Berikut lima (5) strategi alokasi THR agar memperoleh manfaat berkelanjutan:
1. Mendahulukan kewajiban dan berbagi (10%–15%)
Mengalokasikan dana untuk zakat fitrah, sedekah, atau membantu keluarga menjadi prioritas awal. Selain memenuhi kewajiban, langkah ini membantu membentuk disiplin dalam pengelolaan dana tambahan.
2. Mengurangi beban utang (10%–20%)
THR dapat dimanfaatkan untuk melunasi atau mengurangi cicilan konsumtif seperti kartu kredit atau paylater. Strategi ini efektif memperbaiki arus kas bulanan dan mengurangi tekanan keuangan setelah periode Lebaran.
3. Mengatur anggaran kebutuhan Lebaran (40%–50%)
Belanja kebutuhan hari raya tetap menjadi bagian penting dari tradisi. Namun, penetapan batas anggaran yang jelas membantu menjaga keseimbangan antara konsumsi dan stabilitas keuangan.
4. Memperkuat dana darurat dan instrumen likuid (10%–20%)
Sebagian THR sebaiknya dialokasikan untuk dana darurat atau instrumen yang mudah dicairkan, seperti tabungan, emas, maupun reksa dana pasar uang. Dana ini berfungsi sebagai bantalan jika terjadi kebutuhan mendesak setelah periode libur panjang.
5. Melengkapi perencanaan dengan perlindungan keuangan
Selain tabungan, manajemen risiko menjadi aspek penting dalam perencanaan finansial keluarga. Risiko kesehatan atau kecelakaan dapat menggerus tabungan secara signifikan. Karena itu, mempertimbangkan instrumen perlindungan, termasuk asuransi berbasis syariah yang menerapkan prinsip tolong-menolong (tabarru’), dapat menjadi bagian dari strategi keuangan jangka panjang.
Dalam konteks ini, sejumlah perusahaan asuransi syariah di Indonesia, termasuk Sun Life Syariah, menawarkan produk perlindungan yang dirancang sesuai prinsip syariah. Skema ini memungkinkan peserta saling berbagi risiko secara transparan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Pada akhirnya, THR bukan sekadar tambahan pendapatan musiman, melainkan peluang untuk memperkuat fondasi keuangan keluarga. Dengan alokasi yang terencana —mulai dari kewajiban, pengurangan utang, konsumsi terukur, pembentukan dana darurat, hingga perlindungan risiko —keluarga dapat menjaga stabilitas finansial tidak hanya saat Lebaran, tetapi juga setelahnya,” demikian pernyataan manajemen.
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





