Memahami Dunia Anak Autistik Agar Bisa Menerimanya
DEPOK, investor.id – Jumlah penderita autis secara global dan Indonesia terus meningkat. Sayangnya, tantangan terbesar di Indonesia justru masih terletak pada lingkungan sosial yang belum sepenuhnya siap. Karena itu, masyarakat diajak memahami dunia anak autistik agar siap menerima mereka.
Menurut WHO sekitar 1 dari 127 orang di dunia berada dalam spektrum autisme. Minimnya pemahaman masyarakat, stigma, serta keterbatasan akses terhadap informasi berbasis sains membuat banyak keluarga anak autistik masih menjalani perjalanan ini dalam kesunyian.
Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan kondisi perkembangan yang memengaruhi komunikasi, pemrosesan sensori, regulasi emosi, serta interaksi sosial seseorang. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga melibatkan peran penting lingkungan di sekitarnya, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dukungan dari ketiga lingkungan ini menjadi kunci agar individu autistik dapat tumbuh, belajar, dan berpartisipasi secara optimal dalam kehidupan sosial.
“Selama ini banyak keluarga berjalan sendiri dalam memahami autisme. Mencari informasi sendiri, menghadapi stigma sendiri, bahkan sering merasa bersalah. Melalui festival ini, kami ingin membuka ruang belajar bersama agar masyarakat memahami bahwa autisme bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dipahami,” ujar pendiri Peduli ASD, Dr Isti Anindya, SSi, MSc, pada Festival Peduli Autisme 2026 di Pesona Square, Depok, Sabtu (4/4/2026).
Festival digelar sebagai bagian dari peringatan World Autism Awareness Day yang jatuh pada 2 April. Ia menambahkan bahwa perubahan menuju masyarakat inklusif membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Ketika keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat dapat berjalan bersama, maka individu autistik memiliki kesempatan yang lebih besar untuk tumbuh, belajar, dan berpartisipasi secara optimal.
Selain tantangan pada tingkat pemahaman, individu autistik juga menghadapi risiko eksklusi sosial. Sejumlah studi menunjukkan hingga 40% individu dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) tidak memiliki teman dekat. Kondisi ini umumnya dipengaruhi oleh perbedaan dalam memproses komunikasi sosial, seperti memahami ekspresi wajah, emosi, serta membangun komunikasi dua arah yang sering kali disalah artikan oleh lingkungan.
Ketua IDAI Jakarta Timur, dr Arifianto, Sp.A(K) menyampaikan bahwa, “Tantangan terbesar bukan hanya pada anak, tetapi pada bagaimana lingkungan memahami mereka. Intervensi yang dilakukan sejak dini dapat memberikan dampak signifikan terhadap kualitas hidup individu autistik. Dengan pemahaman medis yang tepat, kita tidak hanya berfokus pada keterbatasan, tetapi juga dapat mengoptimalkan potensi individu autistik melalui pendekatan yang terstruktur dan berkelanjutan. Maka dari itu, ruang berbagi seperti ini penting agar orang tua tidak merasa sendiri dan mendapatkan pemahaman yang tepat dalam mendampingi anak,” ujarnya pada saat sesi talkshow bertema “Ruang Cerita dan Realita Autisme”.
Pendekatan Sains
Sementara itu, Science Communicator dan Molecular Biologist, Riza Arief Putranto, PhD, DEA, yang hadir sebagai pembicara talkshow membahas ‘Autisme dan Sains’, menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains dalam memahami autisme secara lebih utuh.
“Autisme bukan sekadar diagnosis, melainkan variasi dalam cara otak bekerja terutama secara biologis. Ketika kita memahami bagaimana individu autistik memproses informasi, maka cara kita berinteraksi pun akan berubah menjadi lebih tepat, lebih empatik, dan lebih inklusif. Pemahaman yang tepat penting untuk bisa membangun interaksi yang lebih relevan dan mendukung kualitas hidup individu autistik,” jelasnya.
Festival Peduli Autisme 2026 dirancang sebagai integrated inclusive experience di ruang publik. Festival ini menjadi bagian dari rangkaian kampanye literasi autisme yang telah berlangsung sejak akhir 2025. Melalui inisiatif ini, Peduli ASD berharap autisme tidak lagi dipandang sebagai isu individu semata, melainkan sebagai tanggung jawab bersama untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan berempati.
Editor: Mardiana Makmun
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now




