Minggu, 21 Juni 2026

Kualitas Air Minum Buruk Tingkatkan Risiko Stunting

Penulis : Mardiana Makmun
11 Apr 2026 | 04:06 WIB
BAGIKAN
ilustrasi air minum (sumber: freepik)
ilustrasi air minum (sumber: freepik)

JAKARTA, investor.id – Kualitas air minum yang buruk dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, bahkan meningkatkan risiko anak menjadi stunting.

Selama ini, air yang tampak jernih, dingin, dan tidak berbau, diasumsikan aman. Padahal, sebuah publikasi ilmiah terbaru yang diterbitkan  dalam jurnal International Journal of Environmental Research and Public Health (IJERPH, 2026) menunjukkan bahwa kualitas air memiliki hubungan yang lebih besar dari yang selama ini dipahami, terutama dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Publikasi yang dilakukan oleh Tria Rosemiarti, Diana Sunardi, dan Netta Meridianti Putri ini menelaah 15 jurnal ilmiah yang sudah dipublikasikan sebagai referensi,  dari berbagai negara selama 15 tahun.

“Hasilnya konsisten: kontaminasi mikrobiologis air, khususnya oleh bakteri Escherichia coli, meningkatkan risiko stunting hingga 4,14 kali. Kajian ini menghadirkan gambaran global dan nasional tentang bagaimana kualitas air minum memengaruhi tumbuh kembang anak,” ungkap  Dokter spesialis gizi klinik di FKUI dan RSCM, Dr dr Diana Sunardi MGizi, SpGK mengungkap hasil publikasinya melalui keterangan tertulis.

ADVERTISEMENT

Temuan tersebut penting, terutama di tengah upaya pemerintah menekan prevalensi stunting nasional dan meningkatkan kualitas SDM Indonesia.

Air Jernih Tidak Selalu Aman

Jurnal IJERPH 2026 menjelaskan bahwa kontaminasi air tidak selalu terjadi di sumber air. Justru, kontaminasi paling banyak muncul di titik penggunaan, yakni ketika air ditampung di wadah, didinginkan, atau dipindahkan ke alat makan anak. Dalam beberapa studi, air yang secara visual jernih terdeteksi mengandung E. coli dalam jumlah signifikan.

Situasi ini menunjukkan bahwa persepsi masyarakat mengenai ‘air layak’ perlu diperbarui. Akses ke sumber air yang dinilai layak belum menjamin air yang benar‑benar aman diminum.

Gangguan Penyerapan Nutrisi

Salah satu kontribusi penting dari penelitian ini adalah penjelasan tentang mekanisme biologis yang tidak banyak diketahui publik, yaitu Environmental Enteric Dysfunction (EED). EED adalah gangguan usus kronis akibat paparan kuman yang membuat usus meradang, daya serap nutrisi menurun, dan berdampak pada pertumbuhan anak.

Dalam salah satu  publikasi yang ditelaah, sebuah studi menemukan bahwa paparan berulang terhadap bakteri air dapat menyebabkan peradangan usus tingkat rendah pada anak. Kondisi tersebut tidak menimbulkan diare, namun menghambat penyerapan nutrisi, sehingga pertumbuhan anak terhambat meski asupan makanannya cukup.

“EED diperkirakan menjadi salah satu penyebab mengapa banyak anak Indonesia tetap mengalami pertumbuhan yang lambat meski sudah mendapatkan makanan bergizi,” kata dr Diana.

Mengganggu Pertumbuhan Fisik dan Perkembangan Kognitif

Jurnal tersebut juga menyoroti hubungan antara kualitas air dan fungsi kognitif. Dalam beberapa studi jangka panjang di Indonesia dan negara lain, ditemukan bahwa anak-anak usia 9–12 tahun memiliki skor memori dan bahasa lebih baik apabila ibunya mengonsumsi air aman selama masa kehamilan.

Ini menunjukkan bahwa air tidak hanya berpengaruh pada bobot atau tinggi badan, tetapi juga kemampuan anak dalam belajar, mengingat informasi, dan beradaptasi di sekolah.

Usia 6–24 Bulan: Jendela Kritis

Hampir seluruh studi yang ditelaah menyimpulkan bahwa periode 6–24 bulan adalah masa paling rentan. Pada fase ini, anak mulai menerima makanan pendamping ASI (MPASI), sehingga penggunaan air meningkat drastis.

Kualitas air yang kurang aman pada masa ini dapat berdampak permanen pada perkembangan fisik dan kognitif anak.

Tantangan di Indonesia

Saat ini Indonesia menghadapi situasi paradoks: cakupan akses air ‘layak’ meningkat setiap tahun, namun banyak air rumah tangga tidak memenuhi standar mikrobiologis saat diuji. Fenomena ini tidak hanya terjadi di daerah terpencil, tetapi juga di kawasan perkotaan.

Publikasi dalam jurnal International Journal of Environmental Research and Public Health (IJERPH, 2026) memperlihatkan bahwa intervensi tidak cukup berhenti pada penyediaan infrastruktur air. Edukasi perilaku penyimpanan air, pembersihan wadah, dan kebiasaan keluarga sehari-hari memegang peran penting.

“Dalam konteks ini, standar industri air minum dalam kemasan yang menerapkan pengawasan ketat, seperti Aqua, dapat dijadikan rujukan sebagai pembanding standar kualitas, tentang bagaimana air minum seharusnya diuji dan dinyatakan aman untuk dikonsumsi,” kata dr Diana.  

Edukasi Rumah Tangga

Kesimpulan dari telaah ilmiah dari publikasi ini menyimpulkan bahwa: Pemerintah perlu memperkuat pemantauan kualitas air di titik penggunaan, bukan hanya di sumber. Edukasi rumah tangga perlu diperluas, mencakup cara menyimpan air, mencuci wadah, serta perilaku higienis sebelum menyiapkan makanan anak. Program pencegahan stunting harus memadukan akses air bersih, sanitasi, dan dukungan gizi. Usia 6–24 bulan harus menjadi prioritas utama intervensi karena dampaknya paling signifikan.

“Publikasi IJERPH 2026 memberikan bukti kuat bahwa air berperan lebih besar dari yang selama ini diperkirakan dalam perjalanan tumbuh kembang anak. Air yang tidak aman tidak hanya berdampak pada tinggi badan, tetapi juga pada memori, kemampuan belajar, dan masa depan pendidikan anak. Untuk Indonesia yang sedang mengejar target pembangunan SDM unggul, temuan ini menjadi pengingat bahwa investasi pada air aman dan perilaku higienis adalah investasi pada masa depan bangsa,” tegas dr Diana.

Editor: Mardiana Makmun

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 2 menit yang lalu

Bahlil Pastikan Rencana Konversi LPG ke CNG Masih dalam Proses

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa rencana konversi penggunaan LPG ke CNG masih dalam tahap proses.
Market 33 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia