Minggu, 21 Juni 2026

Kekurangan Zat Besi Ganggu Working Memory Anak

Penulis : Mardiana Makmun
18 Apr 2026 | 08:04 WIB
BAGIKAN
Ahli gizi sekaligus President of Indonesian Nutrition Association, Dr dr Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC), Prof Dr dr Nila Djuwita F Moeloek, SpM(K), dan Executive Director of Indonesia Health Development Center (IHDC), Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, dalam paparan studi terbaru IHDC tentang pentingnya zat besi untuk konerja working memory anak di Jakarta.
Ahli gizi sekaligus President of Indonesian Nutrition Association, Dr dr Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC), Prof Dr dr Nila Djuwita F Moeloek, SpM(K), dan Executive Director of Indonesia Health Development Center (IHDC), Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, dalam paparan studi terbaru IHDC tentang pentingnya zat besi untuk konerja working memory anak di Jakarta.

JAKARTA, investor.id  – Kekurangan zat besi tak hanya ditandai dengan lesu, namun juga tak fokus saat belajar akibat terganggu working memory.

“Status gizi, tumbuh kembang, dan kemampuan kognitif anak menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang unggul. Sayangnya, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari stunting, kekurangan asupan gizi, hingga anemia defisiensi besi yang masih tinggi pada anak khususnya pada usia sekolah. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga berpotensi menurunkan kemampuan belajar, termasuk fungsi working memory yang penting dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, pemenuhan gizi optimal sejak dini menjadi langkah krusial untuk mendukung kualitas pembelajaran anak sekaligus mendorong tercapainya visi Indonesia Emas,” ujar Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC), Prof Dr dr Nila Djuwita F Moeloek, SpM(K).

Sejalan dengan hal tersebut, hasil studi yang dilakukan IHDC menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 5 anak (19,7%) mengalami anemia, sementara 22,1% mengalami kesulitan dalam working memory. Studi ini juga menemukan bahwa kadar hemoglobin yang lebih rendah berkaitan dengan performa working memory yang lebih rendah.

“Temuan ini menunjukkan bahwa anemia tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar,” tegas Prof Nila.

ADVERTISEMENT

Stunting

Hal ini dipertegas oleh Executive Director of Indonesia Health Development Center (IHDC), Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, yang menjelaskan bahwa hasil studi ini menunjukkan adanya keterkaitan yang konsisten antara status gizi anak dengan fungsi kognitif, khususnya working memory.

“Anak dengan anemia memiliki risiko hampir dua kali lebih tinggi mengalami kesulitan dalam memproses dan menyimpan informasi. Hal yang sama juga terlihat pada anak dengan stunting, yang memiliki risiko hingga tiga kali lebih tinggi mengalami defisit working memory. Selain itu, kami juga menemukan bahwa asupan gizi anak, terutama protein dan zat besi, masih belum optimal dan berkaitan erat dengan kondisi anemia. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam pemenuhan gizi anak usia sekolah, karena tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga pada kemampuan belajar mereka,” jelas dr Ray.

Dari sisi asupan gizi, anak dengan anemia juga cenderung memiliki asupan protein yang lebih rendah, yakni hanya sekitar 46% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang direkomendasikan. Hal ini semakin menunjukkan bahwa kecukupan zat besi dan protein, sebagai bagian dari status gizi yang optimal, berperan penting dalam mendukung fungsi kognitif anak, khususnya dalam proses belajar.

Stunting masih menjadi salah satu masalah gizi kronis di Indonesia yang tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga berpotensi memengaruhi perkembangan kognitif anak, termasuk kemampuan belajar dan kesiapan akademik. Anemia Defisiensi Besi (ADB) juga masih banyak dialami anak usia sekolah, dengan prevalensi yang diperkirakan mencapai 20%–40% .

Kondisi ini turut berisiko mengganggu fungsi kognitif anak, termasuk working memory, yaitu kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi yang berperan penting dalam mendukung konsentrasi, pemahaman, serta kemampuan anak dalam menyelesaikan tugas belajar sehari-hari. Sehingga diperlukan optimalisasi fungsi working memory yang menjadi salah satu faktor kunci dalam mendukung performa belajar anak.

Menjawab isu tersebut, Indonesia Health Development Center (IHDC), sebagai organisasi independen di bidang kesehatan komunitas, didukung Danone Indonesia meluncurkan publikasi hasil studi berbasis data lokal yang membahas keterkaitan antara stunting, anemia defisiensi besi, serta asupan gizi dengan fungsi working memory anak usia sekolah. Studi ini dilakukan melalui skrining pada anak sekolah dasar di Jakarta yang melibatkan sekitar 335 siswa, untuk menganalisis hubungan antara status gizi dan kemampuan kognitif anak.

20 Jenis Makanan Per Minggu

Ahli gizi sekaligus President of Indonesian Nutrition Association, Dr dr Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), menjelaskan bahwa pemenuhan gizi yang optimal memegang peranan penting dalam mendukung tumbuh kembang dan fungsi kognitif anak usia sekolah.

“Penting untuk memastikan asupan gizi yang optimal dan seimbang setiap hari. Protein dan zat besi menjadi dua zat gizi penting karena berperan dalam pembentukan jaringan tubuh serta mendukung perkembangan otak, konsentrasi, dan daya ingat anak. Namun, keduanya tetap perlu didukung oleh asupan zat gizi lain, seperti karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral, agar fungsi tubuh dan kognitif anak dapat berjalan optimal,” kata dr Luciana.

Kecukupan gizi ini juga penting dalam mencegah anemia dan stunting. Oleh karena itu, anak perlu mendapatkan pola makan bergizi seimbang dengan beragam sumber pangan, seperti telur, ikan, daging, susu, serta sumber nabati seperti tahu, tempe, sayur, dan buah.

“Selain itu, untuk mengoptimalkan penyerapan zat besi, perlu dikombinasikan dengan asupan yang mengandung vitamin C,” papar dr Luciana.

Dr Luciana memberi kiat agar anak mendapat gizi seimbang sehingga tidak kekurangan zat besi. “Variasikan jenis makanan yang dimakan sehari-hari. Setidaknya dalam seminggu pastikan ada 20 jenis makanan yang dimakan anak-anak. Misal, mulai dari nasi, telur, ikan, daging, tahu, tempe, sayur, dan buah. Dalam sayur sop pun misalnya sudah terdiri berapa jenis makanan itu, karena di dalamnya ada kentang, wortel, buncis, brokoli, ayam atau daging, dan lain-lain,” papar dr Luciana.

Editor: Mardiana Makmun

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 1 menit yang lalu

Bahlil Pastikan Rencana Konversi LPG ke CNG Masih dalam Proses

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa rencana konversi penggunaan LPG ke CNG masih dalam tahap proses.
Market 32 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia