9 Persiapan Haji untuk Lansia dan Penderita Penyakit Kronik
JAKARTA, investor.id – Jamaah haji Indonesia kloter pertama akan tiba di Saudi Arabia pada 22 April 2026. Sebelum berangkat, ada baiknya jamaah haji terutama lansia dan penderita penyakit kronik menyiapkan beberapa hal terkait kesehatan.
Laman Nusuk Haji Saudi Arabia (https://hajj.nusuk.sa/nusuk/health/guidelines) per 21 April 2026 memberikan sembilan rekomendasi bagi jamaah Haji yang masuk dalam kelompok lanjut usia dan juga mereka yang punya penyakit kronik.
“Rekomendasi ini tentunya perlu jadi perhatian jamaah haji dan petugas kesehatan haji kita,” kata Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara dan Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes Prof Tjandra Yoga Aditama dalam keterangan tertulis.
- Konsultasi Kesehatan
Para calon jamaah haji lansia dan berpenyakit kronik disarankan melakukan konsultasi kesehatan sebelum berangkat. Secara jelas disebutkan bahwa yang dimaksud penyakit kronik berat mencakup kanker lanjut, penyakit paru dan jantung, penyakit hati dan ginjal yang lanjut dan senilitas.
“Jamaah haji ini harus berkonsultasi pada petugas kesehatan untuk menilai kesiapan fisiknya dan juga kondisi kesehatannya secara keseluruhan,” ujar Prof Tjandra, mantan Kepala Klinik Kesehatan Haji Indonesia di Mekkah 1990 – 1991 dan Ketua Team Pengawasan Pengendalian (WasDal)l Kesehatan Haji Indonesia 2013.
- Siapkan Dokumentasi Medik
Jamaah haji harus menyiapkan dokumentasi medik terkait penyakit yang dideritanya. Dokumen ini harus diperoleh dari petugas kesehatan yang memeriksanya di tanah air, dan harus berisi informasi rinci tentang kondisi kesehatannya, obat-obat yang diresepkan untuk dikonsumsi, dan berbagai informasi terkait lainnya.
- Membawa obat-obatan
Rekomendasi ke tiga adalah tentang obat-obatan. Jemaah haji harus membawa obat-obat yang mereka perlukan dalam jumlah yang mencukupi untuk selama di Saudi Arabia. Juga dianjurkan untuk membawa informasi nama generik dari obat yang dibawa, karena nama /merek dagang obat di Saudi Arabia mungkin berbeda dengan nama di tanah air.
- Sesuaikan Waktu Minum Obat
Jamaah haji direkomendasikan untuk menyiapkan kemungkinan penyesuaian waktu dari obat yang dikonsumsi selama di Saudi Arabia, tentu setelah berkonsultasi dengan dokternya. Dalam hal ini jamaah perlu mempertimbangkan perbedaan waktu antara Saudi Arabia dengan negara kita, jadual keberangkatan dan kepulangan serta faktor terkait lainnya.
- Status Vaksinasi
Jamaah haji harus menyiapkan status vaksinasi. Laman Nusuk Haji menyebutkan bahwa para jemaah (secara umum dari berbagai negara di dunia) perlu meng update status vaksinasi mereka, termasuk untuk penyakit menular seperti diphtheria, tetanus, pertussis, polio, campak (measles), varicella, dan mumps.
- Memastikan Alat Kesehatan Khusus Berfungsi Baik
Jamaah haji yang memerlukan peralatan khusus sehari-hari harus memastikan bahwa alat-alat itu dapat berfungsi baik, baterainya cukup, dan juga pelengkap lainnya. Alat kesehatan yang disebut antara lain adalah pembantu pernapasan, alat bantu dengar, implan koklear, dan lain-lain.
- Siapkan Kursi Roda
Jamaah haji yang memang memerlukan kursi roda direkomendasikan untuk membawa kursi roda dan ada keluarga atau kerabat yang siap untuk mendorongnya. Disebut juga untuk menyiapkan bagaimana mengatasi kalau ban kursi rodanya bocor atau kalau diperlukan maka dapat membeli kursi roda di toko farmasi di Makkah.
- Siapkan Kebugaran Fisik
Jamaah lansia dan yang berpenyakit kronik dianjurkan untuk menghindari aktifitas fisik berlebihan dan memberi prioritas bagi kesehatan. Mereka juga dianjurkan untuk menggunakan kursi roda pada saat Tawaf dan Sai antara Safa dan Marwa dan juga pada keadaan-keadaan lain yang diperlukan.
“Memang laman Nusuk Haji ini hanya menyebut tentang kursi roda, tetapi kita tahu bahwa ada modalitas transportasi elektronik yang kini tersedia untuk Tawaf dan Sai ini,” kata Prof Tjandra.
- Siapkan Penanganan Kesehatan
Jamaah haji juga harus memastikan agar segera mendapat penanganan kesehatan bila diperlukan. Berbagai keadaan kesehatan yang harus jadi perhatian jamaah haji lansia dan yang berpenyakit kronik, yaitu antara lain nyeri dada, sesak napas, berbagai komplikasi yang berhubungan dengan gula darah atau masalah kesehatan lain, yang memang perlu untuk segera memeriksakan diri.
“Ditegaskan bahwa jamaah haji lansia dan berpenyakit kronik harus selalu memberi prioritas penting bagi keadaan kesehatannya selama menjalankan ibadah haji,” ujar Prof Tjandra yang kini menjabat Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia.
Editor: Mardiana Makmun
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






