Sabtu, 4 April 2026

Ilham Habibie: Tarif, Cara Trump Kembalikan Kekuatan Industri AS

Penulis :  Nasori
23 Apr 2025 | 18:06 WIB
BAGIKAN
Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ilham Akbar Habibie
Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ilham Akbar Habibie

JAKARTA, ID - Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ilham Akbar Habibie memiliki sudut pandang berbeda dari pandangan yang telah banyak mengemuka soal penerapan tarif bea masuk (BM) resiprokal yang diluncurkan Presiden Amerika serikat (AS) Donald Trump pada awal April lalu. Langkah kontroversial Trump tersebut tidak lain sebagai upaya untuk mengembalikan kekuatan industri ke dalam negeri AS.

Menurut Ilham, meskipun pendekatan yang dipilih Trump melalui perang dagang dapat menimbulkan perdebatan, terutama menyangkut keadilan dan dampaknya terhadap mitra dagang, tetapi filosofi di balik langkah tersebut tetap relevan. Filosofi dimaksud adalah bahwa suatu negara tidak bisa menjadi kuat, tanpa industri yang kuat.

"Menarik sekali kalau kita menganalisis, mengapa itu terjadi? Karena Amerika Serikat pun mau reindustrialisasi, karena dia mau mengembalikan industri yang tadinya sudah keluar. Caranya mungkin kita tidak sepakat, tapi filosofi di bagian itu adalah reindustrialisasi," ujar Ilham dalam diskusi PII dan Forum Pemred di Jakarta, Rabu (22/04/2025) malam.

Keputusan Trump soal tarif resiprokal, kata Ilham, dilatarbelakangai oleh pemahaman bahwa tanpa fondasi industri yang kokoh, keberlangsungan kekuatan nasional menjadi rapuh. Untuk itu, melalui penerapan kebijakan tarif, Trump berupaya kembali memperluas industri yang selama ini telah dilakukan di luar negeri.

Advertisement

"Sekarang, Amerika Serikat, dia mau mengembalikan yang tadinya dia sudah outsource. Dia mau mengembalikan dengan cara yang mungkin kita tidak sepakat, mungkin ada yang mengatakan itu salah. Itu juga bukan win-win tapi win-lose gitu ya. Seolah, dia (mau) menang sendiri, dia mendominasi yang lemah," papar putra sulung Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habiebie) itu.

Respons Beragam

Pada 2 April lalu, Presiden Trump mengumumkan rencana penerapan tarif bea masuk atau impor kepada sekitar 90 negara dan kawasan, atau yang disebut reciprocal tariff. Rencana pengenaan tarif ini pada awalnya berkisar antara 10% hingga 84% dan mulai diimplementasikan 9 April 2025. Pengumuman ini menciptakan efek kejut ke seluruh dunia, meningkatkan ketidakpastian dan menciptakan kepanikan di sektor riil dan pasar keuangan.

Respons dari berbagai negara cukup beragam. Beberapa hari setelah pengumuman rencana pengenaan tarif tersebut, Kanada dan Tiongkok mengumumkan rencana mereka untuk melakukan retaliasi atau balasan. Berbagai negara lain, seperti Jepang, Singapura, dan Australia, berusaha melakukan renegosiasi.

Sedangkan sejumlah negara berkembang, yang cenderung memiliki posisi tawar lebih lemah, mengajukan proposal kelonggaran hambatan perdagangan. Negara-negara itu di antaranya Vietnam, India, Thailand, dan Indonesia. Di sisi lain, Uni Eropa masih belum menentukan langkahnya dan Meksiko sudah mengumumkan untuk tidak melakukan retaliasi.

Pada tanggal 8 April, sehari sebelum diberlakukannya reciprocal tariff, dinamika negosiasi berbagai negara dengan AS masih mengalami kebuntuan dan makin memperkeruh kekhawatiran akan terjadinya gejolak ekonomi global. Ini terefleksikan dari CBOE Volatility Index (VIX), indikator acuan yang umum digunakan untuk mengukur persepsi volatilitas oleh pelaku pasar keuangan.

Menurut kajian LPEM FEB Universitas Indonesia (UI), VIX megalami peningkatan drastis ke level 52.33 pada 8 April dan mencapai titik tertingginya dalam sejarah setelah periode Krisis Keuangan Global 2008 dan periode Covid-19. Tetapi, pada 9 April, Presiden Trump mengumumkan penangguhan implementasi reciprocal tariff selama 90 hari sehingga memberikan waktu dan ruang untuk berbagai negara mempersiapkan dan merumuskan strategi dalam menghadapi potensi perang dagang berskala global.

Editor: Nasori

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 23 menit yang lalu

Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026

PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.
Business 24 menit yang lalu

Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru

Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.
National 45 menit yang lalu

Presiden Prabowo akan Sambut Kedatangan 3 Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon

Presiden Prabowo dijadwalkan menyambut kedatangan tiga jenazah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.
International 47 menit yang lalu

Enam Minggu Perang, Ribuan Nyawa Melayang dan 3 TNI Gugur

Update korban perang Timur Tengah: 3.500 tewas di Iran, 13 tentara AS gugur, dan 3 prajurit TNI Indonesia tewas saat tugas PBB di Lebanon.
Business 59 menit yang lalu

Perum Bulog Catat Stok Beras  4,4 Juta Ton, Lampaui Target 2026

Perum Bulog mencatat stok beras nasional 4,4 juta ton melebihi target serapan sebesar 4 juta ton. Swasembada pangan optimistis tercapai.
International 1 jam yang lalu

Trump Usulkan ’Golden Dome’ dan Anggaran Perang Rp 25,5 Kuadriliun

Presiden Trump usulkan anggaran militer AS 2027 US$ 1,5 triliun. Fokus pada sistem pertahanan Golden Dome dan pangkas dana domestik.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia