Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Akhir 2025, Surplus Dagang Jadi Penopang
JAKARTA,investor.id – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai kinerja perekonomian Indonesia pada akhir tahun 2025 akan menjadi dasar yang kuat bagi kinerja ekonomi ke depan. Lantaran sejumlah indikator menunjukkan ketahanan dalam menghadapi sejumlah tekanan.
Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal, Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan perekonomian Indonesia di penutup tahun 2025 tetap resilien, didukung aktivitas manufaktur yang ekspansif, inflasi yang terkendali, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus.
“Faktor-faktor tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di tahun 2026,” ujar Febrio dalam keterangan resmi yang diterima pada Selasa (6/1/2026).
Pada November 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus US$2,66 miliar, melanjutkan tren yang telah berlangsung sejak Mei 2020. Secara kumulatif Januari – November 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar US$38,54 miliar, naik US$9,30 miliar (ctc). Ekspor Januari – November 2025 tercatat sebesar US$256,56 miliar, meningkat 5,61 % (ctc).
Peningkatan ekspor terutama disumbang oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi 10,41 %, mencerminkan meningkatnya nilai tambah ekspor nasional. Sementara itu, impor pada periode yang sama tercatat sebesar US$218,02 miliar, naik 2,03 % (ctc). Penyumbang utama peningkatan impor adalah dari sisi impor Barang Modal dengan kontribusi 3,28%, sejalan dengan aktivitas produksi yang ekspansif.
“Ke depan, dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama akan terus diperkuat untuk mengantisipasi berbagai dinamika global,” tutur Febrio.
Baca Juga:
Mewaspadai Kontraksi EksporSecara terpisah, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menilai surplus neraca perdagangan ini positif untuk menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia lebih lanjut.
“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna meningkatkan ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” tutur Ramdan.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan pertumbuhan ekspor akan mengalami normalisasi setelah lonjakan permintaan sebelum tarif timbal balik Amerika Serikat pada Agustus 2025, meskipun penyesuaiannya akan berlangsung secara bertahap.
“Hal ini akan didukung oleh permintaan yang stabil dari mitra dagang utama untuk komoditas tertentu,” tutur Josua.
Sementara itu, tekanan perang dagang telah mereda karena AS mengadopsi sikap negosiasi yang lebih akomodatif. Jaringan perjanjian perdagangan Indonesia yang terus berkembang dan integrasi yang lebih dalam ke rantai pasokan global diperkirakan akan semakin mendukung kinerja ekspor, dengan upaya berkelanjutan untuk mendapatkan akses bebas tarif ke Amerika Serikat untuk produk-produk utama memberikan potensi tambahan.
Lebih lanjut, surplus neraca perdagangan akan menyempit. Lantaran kinerja ekspor tidak bisa melebihi pertumbuhan impor. Kondisi tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang semakin pro-pertumbuhan.
“Perluasan impor sebagian besar didorong oleh barang modal dan bahan baku, mencerminkan aktivitas investasi dan produksi yang lebih kuat,” tutur Josua.
Baca Juga:
Waspada Peningkatan Defisit APBNMenurut dia, neraca transaksi berjalan tahun 2025 akan mengalami defisit sekitar 0,11% dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini menyempit dari defisit neraca transaksi berjalan 0,62% dari PDB pada 2024. Kondisi tersebut menegaskan ketahanan sektor eksternal Indonesia.
“Pada 2026, neraca diproyeksikan mencatat defisit moderat, melebar menjadi sekitar 0,59% PDB, yang menunjukkan posisi eksternal yang stabil dengan tekanan terbatas pada cadangan devisa,” kata Josua.
Editor: Arnoldus Kristianus
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





