Minggu, 21 Juni 2026

Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Akhir 2025, Surplus Dagang Jadi Penopang

Penulis : Arnoldus Kristianus
6 Jan 2026 | 11:05 WIB
BAGIKAN
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) berbincang dengan Direktur Jendral Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu (kanan) saat menghadiri konferensi pers APBN KiTa Edisi November 2025 di Jakarta, Kamis (20/11/2025). (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) berbincang dengan Direktur Jendral Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu (kanan) saat menghadiri konferensi pers APBN KiTa Edisi November 2025 di Jakarta, Kamis (20/11/2025). (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

JAKARTA,investor.id – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai kinerja perekonomian Indonesia pada akhir tahun 2025 akan menjadi dasar yang kuat bagi kinerja ekonomi ke depan.  Lantaran sejumlah indikator menunjukkan  ketahanan  dalam menghadapi sejumlah tekanan.

Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal, Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan perekonomian Indonesia di penutup tahun 2025 tetap resilien, didukung aktivitas manufaktur yang ekspansif, inflasi yang terkendali, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus.

“Faktor-faktor tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di tahun 2026,” ujar Febrio  dalam keterangan resmi yang diterima pada Selasa (6/1/2026).

ADVERTISEMENT

Pada November 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus US$2,66 miliar, melanjutkan tren yang telah berlangsung sejak Mei 2020. Secara kumulatif Januari – November 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar US$38,54 miliar, naik US$9,30 miliar (ctc). Ekspor Januari – November 2025 tercatat sebesar US$256,56 miliar, meningkat 5,61 % (ctc).

Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Akhir 2025, Surplus Dagang Jadi Penopang
Grafik Neraca Perdagangan (Sumber :Badan Pusat Statistik)

Peningkatan ekspor terutama disumbang oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi 10,41 %, mencerminkan meningkatnya nilai tambah ekspor nasional. Sementara itu, impor pada periode yang sama tercatat sebesar US$218,02 miliar, naik 2,03 % (ctc). Penyumbang utama peningkatan impor adalah dari sisi impor Barang Modal dengan kontribusi 3,28%, sejalan dengan aktivitas produksi yang ekspansif.

“Ke depan, dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama akan terus diperkuat untuk mengantisipasi berbagai dinamika global,” tutur Febrio.

Secara terpisah, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menilai surplus neraca perdagangan ini positif untuk menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia lebih lanjut.

“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna meningkatkan ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” tutur Ramdan.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan  pertumbuhan ekspor akan mengalami normalisasi setelah lonjakan permintaan sebelum tarif timbal balik Amerika Serikat pada Agustus 2025, meskipun penyesuaiannya akan berlangsung secara bertahap.

“Hal ini akan didukung oleh permintaan yang stabil dari mitra dagang utama untuk komoditas tertentu,” tutur Josua.

Sementara itu, tekanan perang dagang telah mereda karena AS mengadopsi sikap negosiasi yang lebih akomodatif. Jaringan perjanjian perdagangan Indonesia yang terus berkembang dan integrasi yang lebih dalam ke rantai pasokan global diperkirakan akan semakin mendukung kinerja ekspor, dengan upaya berkelanjutan untuk mendapatkan akses bebas tarif ke Amerika Serikat untuk produk-produk utama memberikan potensi tambahan.

Lebih lanjut, surplus neraca perdagangan akan menyempit. Lantaran kinerja ekspor tidak bisa melebihi pertumbuhan impor. Kondisi tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang semakin pro-pertumbuhan.

“Perluasan impor sebagian besar didorong oleh barang modal dan bahan baku, mencerminkan aktivitas investasi dan produksi yang lebih kuat,” tutur Josua.

Menurut dia, neraca transaksi berjalan  tahun 2025 akan mengalami defisit sekitar 0,11% dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini menyempit dari defisit neraca transaksi berjalan 0,62% dari PDB pada 2024. Kondisi tersebut menegaskan ketahanan sektor eksternal Indonesia.

“Pada 2026, neraca diproyeksikan mencatat defisit moderat, melebar menjadi sekitar 0,59% PDB, yang menunjukkan posisi eksternal yang stabil dengan tekanan terbatas pada cadangan devisa,” kata Josua.

Editor: Arnoldus Kristianus

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 14 menit yang lalu

Bahlil Pastikan Rencana Konversi LPG ke CNG Masih dalam Proses

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa rencana konversi penggunaan LPG ke CNG masih dalam tahap proses.
Market 45 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia