Prospek Ekonomi Global Diselimuti Awan Gelap
JAKARTA, investor.id - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi global akan mencatat kinerja yang lesu di 2026.
Dikutip dari US News, Jumat (9/1/2026) PBB memproyeksi ekonomi global akan terkontraksi menjadi 2,7% di 2026 dari 2,8% pada 2025 lalu, sebelum pulih dengan pertumbuhan 2,9% pada tahun 2027.
Proyeksi tersebut lebih rendah dari rata-rata pertumbuhan yang tercatat pada periode pra-pandemi sebesar 3,2% antara tahun 2010 dan 2019.
Laporan PBB mencatat, peningkatan tajam tarif perdagangan oleh AS di 2025 menciptakan ketegangan perdagangan baru. Namun rendahnya eskalasi telah membantu membatasi gangguan terhadap perdagangan internasional.
"Terlepas dari guncangan tarif, aktivitas ekonomi global terbukti tangguh, didukung oleh pengiriman yang dilakukan lebih awal, akumulasi persediaan, dan pengeluaran konsumen yang solid di tengah pelonggaran moneter dan pasar tenaga kerja yang secara luas stabil," tulis laporan Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB.
"Dukungan kebijakan makroekonomi yang berkelanjutan diharapkan dapat meredam dampak kenaikan tarif, tetapi pertumbuhan perdagangan dan aktivitas secara keseluruhan kemungkinan akan melambat dalam jangka pendek," ungkap PBB.
Baca Juga:
Penghambat Pemulihan EkonomiNamun, PBB memproyeksi pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat akan sedikit meningkat menjadi 2,0% di 2026 dan 2,2% pada 2027 mendatang, setelah sempat melambat di angka 1,9% pada 2025. Proyeksi ini didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter AS yang ekspansif.
Sementara itu, PBB memproyeksi perekonomian China akan melambat dengan pertumbuhan 4,6% pada di 2026 dan 4,5% pada tahun 2027 mendatang, turun dari perkiraan pertumbuhan 4,9% di 2025.
Adapun ekonomi kawasan Eropa yang diperkirakan tumbuh sebesar 1,3%di 2026 dan 1,6% pada 2027 mendatang, dibandingkan dengan 1,5% di 2025.
Laporan PBB juga menyebutkan pertumbuhan ekonimi di Asia Selatan diperkirakan akan melambat menjadi 5,6% di2026, dari 5,9% pada 2025.
"Di India, pertumbuhan diperkirakan mencapai 7,4% untuk tahun 2025 dan diproyeksikan sebesar 6,6% untuk tahun 2026 dan 6,7% untuk tahun 2027, didukung oleh konsumsi yang tangguh dan investasi publik yang kuat, yang sebagian besar akan mengimbangi dampak buruk dari kenaikan tarif AS," kata PBB.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






