Gandeng Aliansi Ekonom, B-Universe Bedah Strategi Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6%
TANGERANG, investor.id – B-Universe, sebagai grup media multiplatform terdepan, menyelenggarakan The Forum: B-Universe Focus Group Discussion (FGD) dengan tema "Outlook 2026: Atur Strategi Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi 6%". Acara yang digelar di HQ B-Universe PIK2, Tangerang, Rabu (14/1/2026), ini menggandeng Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) untuk membedah arah kebijakan ekonomi nasional.
Sejumlah narasumber ahli dari AEI turut hadir, di antaranya Wijayanto Samirin, Mohamad Ikhsan, Teuku Riefky, Rizki Siregar, Vivi Alatas, Lili Yan Ing, dan Mervin Goklas.
Perwakilan AEI sekaligus CEO Asakreativita, Vivi Alatas, memberikan apresiasi tinggi terhadap forum ini. Menurutnya, sinergi antara ekonom, pelaku pasar, dan media sangat krusial dalam mencari solusi bagi persoalan ekonomi yang kompleks.
“Agenda ini sangat-sangat baik, karena kita semua mencintai Indonesia dan tahu ada banyak hal-hal yang butuh pemikiran bersama. Baik dari ekonom, pelaku pasar, dan media adalah alat utama untuk memastikan bahwa ini terjadi. Saling rembuk, FGD bersama, memikirkan bersama, tentu saja dalam upaya mencari solusi. Karena kita semua kembali lagi cintai Indonesia,” jelas Vivi.
Dia menekankan bahwa mengejar target pertumbuhan 6% bukan sekadar soal angka, melainkan bagaimana target tersebut dicapai secara terencana, terarah, dan terukur. Ia menyoroti fenomena penurunan kelas menengah serta pentingnya kepastian hukum sebagai tantangan nyata yang harus dijawab.
“Apakah itu sudah menjawab persoalan pelik bangsa? Tentang middle class yang turun, hingga memastikan adanya kepastian. Itu yang mungkin lebih penting daripada sekadar berbicara soal angka,” tegasnya.
Terkait kebijakan fiskal, Vivi menyarankan agar pemerintah Presiden Prabowo Subianto melakukan evaluasi mendalam terhadap pelaksanaan APBN 2026. Mengingat adanya tren penurunan penerimaan pajak, alokasi anggaran harus dilakukan secara sangat selektif dan tepat sasaran pada sektor yang memiliki dampak pengganda (multiplier effect) paling besar.
“Mungkin sekarang saatnya pemerintah melihat pain factor-nya di mana? Kita harus memastikan alokasi anggaran yang terbatas ini diarahkan ke sektor yang paling efisien,” pungkas Vivi.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






