Survei: Ekonomi Indonesia Cenderung Memburuk
JAKARTA, investor.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) bertolak dari pandangan para ekonom, menilai bahwa kondisi ekonomi domestik cenderung memburuk atau paling tidak tetap stabil tanpa kemajuan.
Dalam laporan bertajuk Survei LPEM Ahli Ekonomi Semester I-2026 disebutkan 41 responden (48%), menilai kondisi ekonomi Indonesia lebih buruk dibandingkan kuartal sebelumnya. Sementara itu, 32 responden (38%) tidak melihat adanya perbaikan maupun penurunan. Hanya 12 responden (14%) yang menilai kondisi saat ini sudah membaik.
“Secara umum, survei ini menunjukkan pandangan yang berhati-hati di kalangan para pakar. Banyak responden menilai bahwa kondisi ekonomi memburuk atau tetap stagnan, sementara tekanan inflasi semakin dipandang sebagai kekhawatiran,” dikutip dari dokumen yang diterima pada Minggu (15/3/2026).
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi secara bulanan mencapai 0,68% pada Februari 2026. Lalu inflasi tahunan terjadi sebesar 4,76% sedangkan inflasi tahun kalender sebesar 0,53%. Kondisi inflasi secara bulanan tidak terlepas dari kenaikan harga pangan sehingga mendorong inflasi pada Februari 2026.
Dari hasil survei LPEM FEB UI, rata-rata respons sebesar -0,39 mencerminkan kecenderungan para ahli menilai perekonomian saat ini sedang memburuk, dengan skor keyakinan yang tinggi sebesar 7,37 dari 10. Hasil ini masih konsisten dengan persepsi survei sebelumnya pada Oktober dan Maret 2025, menunjukkan setelah tiga survei berturut-turut dalam rentang 18 bulan, para ahli masih meyakini kondisi perekonomian Indonesia tidak kunjung membaik.
Menanggapi hal ini, Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengatakan para ekonom melihat adanya kendala serius dalam mesin pertumbuhan ekonomi. Beberapa poin utamanya yaitu tekanan inflasi lalu kenaikan harga pangan dan energi global mulai menggerus daya beli masyarakat di dalam negeri. Selain itu, pasar kerja lebih sulit, ini berdampak langsung pada terhambatnya pertumbuhan upah dan pendapatan rumah tangga.
Baca Juga:
Jika Defisit APBN Jadi 4%“Ada sinyal-sinyal bahwa pemerintah ingin meminimalisir swasta, sehingga membuat lingkungan bisnis saat ini lebih buruk, yang bisa berdampak pada tertahannya ekspansi investasi,” ucap Rahma saat dihubungi pada Minggu (15/3/2026).
Rahma juga menuturkan bahwa saat ini pemerintah sedang berhadapan dengan tantangan besar untuk membuktikan bahwa target pertumbuhan 5,4% - 5,6% tidak sekadar angka di atas kertas.
Tiga Rekomendasi
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






