Pakar Beberkan 4 Ancaman Krisis Ekonomi Global
JAKARTA, investor.id - Analis di Elev8 menjabarkan empat ancaman utama yang berpotensi meningkatkan krisis ekonomi global di 2026.
Menurut analis di Elev8, risiko ancaman pertama adalah melebarnya tren Kecerdasan Buatan (AI). Para analis menyoroti besarnya investasi koletif AI yang dikeluarkan oleh raksasa teknologi asal AS, yakni Google, Microsoft, Meta, dan Amazon senilai lebih dari US$ 600 miliar.
"Proyeksi belanja modal yang sangat besar ini menimbulkan pertanyaan tentang kelayakan ekonomi banyak proyek AI dan memicu kekhawatiran tentang dampak yang lebih luas bagi pertumbuhan AS dan global. Kegagalan untuk memonetisasi investasi AI secara efektif dapat menyebabkan saham AS anjlok, menjerumuskan AS ke dalam resesi dan memicu pemotongan suku bunga Fed yang agresif," ungkap para analis di Elev8 dalam keterangannya, dikutip pada Rabu (18/2/2026).
Kedua, analis di Elev8 juga mengungkapkan risiko dari guuncangan harga minyak dunia. Hal ini menyusul sanksi internasional yang dihadapi Rusia, eksportir minyak terbesar kedua di dunia. Kondisi tersebutmembatasi produksi minyak, sementara ketegangan antara AS dan Iran telah mencapai titik kritis.
Dengan Iran memegang cadangan terbukti terbesar ketiga di dunia dan memiliki pengaruh atas Selat Hormuz, yang menjadi titik rawan bagi 20% minyak dunia, eskalasi apa pun menjadi konflik terbuka dapat langsung melumpuhkan aliran energi global.
"Mengingat perpaduan yang mudah berubah antara produksi yang mencapai puncaknya, risiko maritim yang aktif, dan diplomasi yang terpecah-pecah, kami melihat peningkatan risiko lonjakan tajam, meskipun sementara, pada harga minyak," kata para analis di Elev8.
Risiko ketiga, adalah perang dagang AS-China yang kembali memanas. "Risikonya adalah hambatan non-tarif akan meningkat dan kontrol ekspor logam tanah jarang akan muncul kembali. Dampaknya akan berupa lonjakan inflasi dan gangguan rantai pasokan," papar analis Elev8.
Adapun ancaman krisis lainnya, yaitu risiko krisis utang negara. Sejauh ini, investor telah mentolerir kenaikan utang pemerintah, tetapi kesabaran mereka tidak tak terbatas. Imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang di sebagian besar negara industri tidak jauh dari level tertinggi multi-tahun, dan hilangnya kepercayaan secara tiba-tiba dapat menyebabkan lonjakan.
"Jika pemerintah AS terpaksa memperkenalkan kembali QE atau mengadopsi kontrol kurva imbal hasil (YCC) untuk menstabilkan kenaikan utang nasional, kredibilitas global dolar dapat menghadapi kerusakan parah, yang berpotensi memicu devaluasi yang jauh lebih tajam. Prancis dan Inggris juga berisiko," beber analis di Elev8.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






