Purbaya: Dampak Lonjakan Harga Minyak Dievaluasi dalam Sebulan ke Depan
JAKARTA, investor.id – Pemerintah terus memantau dampak eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terhadap stabilitas fiskal dalam negeri, terutama terkait lonjakan harga minyak dunia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan melakukan evaluasi mendalam selama satu bulan ke depan untuk menentukan langkah penyesuaian (adjustment) anggaran yang diperlukan.
Purbaya menegaskan, hingga saat ini pemerintah belum berencana mengubah alokasi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Namun, evaluasi lebih lanjut akan dilakukan jika konflik geopolitik tersebut berlangsung berkepanjangan dan mulai menekan keuangan negara.
”Saya akan evaluasi selama satu bulan ke depan apa yang terjadi dan kami akan lakukan adjustment seperlunya. Namun yang jelas kami cukup pintar, adjustment yang dilakukan tidak akan mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi,” ujar Purbaya saat meninjau Pasar Tanah Abang, Senin (9/3/2026).
Menurut Purbaya, kondisi perekonomian nasional saat ini masih berada dalam tahap ekspansi. Ia menilai kenaikan harga minyak global belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi domestik.
Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah Brent terpantau melonjak lebih dari 15% hingga menembus level di atas US$ 100 per barel pada Senin (9/3). Penguatan harga ini dipicu oleh pemangkasan produksi di Timur Tengah menyusul gangguan logistik di Selat Hormuz.
“Saya belum lihat ada gangguan dari aktivitas ekonomi dalam negeri gara-gara harga yang naik tinggi. Jadi teman-teman yang lain jangan cepat-cepat memastikan atau menyimpulkan harga akan US$ 100, bahkan ada yang bilang menuju US$ 150, dan kita anggarannya akan tidak kuat. Kita akan assessment terus dari waktu ke waktu,” tegasnya.
Pemerintah berkomitmen menggunakan APBN sebagai peredam guncangan (shock absorber) untuk melindungi ekonomi nasional dari tekanan global. Selain memantau harga, kajian berkala terhadap ketersediaan stok minyak di dalam negeri juga terus dilakukan. Purbaya memastikan stok minyak nasional saat ini masih berada dalam batas wajar dan mencukupi untuk kebutuhan rutin.
“Setiap saat kami menyetok untuk sekian puluh hari, kalau tidak salah 15 hari lebih ya. Ini kan stoknya 20 hari berarti berlebih bukan habis. Nanti kalau itu bisa beli lagi. Itu stok yang normal, bukan darurat,” pungkas Purbaya.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






