Minggu, 21 Juni 2026

Jika Defisit APBN Jadi 4%

Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah
15 Mar 2026 | 20:44 WIB
BAGIKAN
Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (13/3/2026). (Foto: BPMI Setpres/Cahyo)
Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (13/3/2026). (Foto: BPMI Setpres/Cahyo)

JAKARTA, investor.id - Suasana ruang Rapat Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026), berubah hening ketika Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memaparkan hasil simulasi skenario konflik geopolitik Timur Tengah kepada Presiden Prabowo Subianto.

Dengan nada serius, Airlangga menyampaikan bahwa ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel bukan hanya ancaman bagi stabilitas kawasan tetapi berpotensi menyeret Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menuju defisit di atas ambang batas maksimal 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Dengan berbagai skenario ini, defisit 3% sulit kita pertahankan, kecuali memotong belanja dan memotong pertumbuhan, Pak,” ujar Airlangga.

ADVERTISEMENT

Skenario yang dipaparkan Airlangga dibangun atas sejumlah asumsi tekanan eksternal selama 6–10 bulan, terutama pada harga minyak mentah dunia yang melonjak tajam. Pemerintah meramu tiga skenario: rendah, moderat, dan terburuk—dan seluruhnya tidak memberikan ruang fiskal yang nyaman.

Skenario rendah:

  • ICP: US$ 86/barel
  • Kurs: Rp 17.000 per dolar AS
  • Yield SBN 10 tahun: 7,2% per tahun
  • Pertumbuhan ekonomi: 5,4% yoy
  • Defisit APBN: 3,18% dari PDB

Skenario moderat:

  • ICP: US$ 97 per barel
  • Kurs: Rp 17.300 per dolar AS
  • Yield SBN 10 tahun: 7,2% per tahun
  • Pertumbuhan ekonomi: 5,2% yoy
  • Defisit APBN: 3,53% dari PDB

Skenario terburuk:

  • ICP: US$ 115 per barel
  • Kurs: Rp 17.500 per dolar AS
  • Yield SBN 10 tahun: 7,2% per tahun
  • Pertumbuhan ekonomi: 5,2% yoy
  • Defisit APBN: 4,06% dari PDB
Jika Defisit APBN Jadi 4%
(kiri-kanan) Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (13/3/2026). (Foto: BPMI Setpres/Cahyo)

“Ini beberapa skenario yang mungkin perlu kita rapatkan secara terbatas, Pak,” tegas Airlangga kepada Presiden Prabowo.

Selain menekan APBN secara nominal, sinyal pelebaran defisit juga membuka risiko pembiayaan yang jauh lebih berat, terutama dari sisi bunga utang dan sensitivitas pasar keuangan. Merespon hal ini, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai skenario pelebaran defisit tidak hanya menambah kebutuhan pembiayaan, tetapi juga meningkatkan beban bunga secara signifikan.

Dalam hitungan Celios, jika defisit APBN dinaikkan menjadi 4%, pemerintah dapat menarik utang baru Rp 339,4 triliun tambahan. Total penerbitan utang bisa melebar dari rencana APBN 2026 sebesar Rp 781,8 triliun menjadi Rp 1.121 triliun. Sedangkan tambahan bunga akan sebesar Rp 20,4 triliun per tahun.

Jika Defisit APBN Jadi 4%
Asumsi dasar ekonomi makro 2026. (Sumber: APBN 2026, ilustrasi: Investor Daily)

Dalam skenario defisit dilebarkan menjadi 5%, pemerintah bisa menarik utang hingga Rp 596,6 triliun tambahan. Total pembiayaan utang menjadi Rp 1.378,4 triliun dan tambahan bunga Rp 35,8 triliun per tahun.

Bhima mengingatkan, kenaikan bunga SBN juga akan memperberat APBN 2026. Sensitivitas pemerintah menyebut setiap kenaikan bunga SBN 0,1% menambah defisit Rp 1,9 triliun. Apabila bunga SBN naik dari 6% menjadi 8%, defisit akan membengkak Rp 38 triliun.

“Tambahan beban utang akan meningkat seiring penurunan rating utang. Ini harus menjadi perhatian serius,” kata Bhima. Celios juga sebelumnya telah memperingatkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menekan ruang fiskal secara drastis bila diwujudkan 100%.

Minat Lelang SBN

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 30 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 1 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 8 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia