Jika Defisit APBN Jadi 4%
JAKARTA, investor.id - Suasana ruang Rapat Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026), berubah hening ketika Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memaparkan hasil simulasi skenario konflik geopolitik Timur Tengah kepada Presiden Prabowo Subianto.
Dengan nada serius, Airlangga menyampaikan bahwa ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel bukan hanya ancaman bagi stabilitas kawasan tetapi berpotensi menyeret Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menuju defisit di atas ambang batas maksimal 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Dengan berbagai skenario ini, defisit 3% sulit kita pertahankan, kecuali memotong belanja dan memotong pertumbuhan, Pak,” ujar Airlangga.
Skenario yang dipaparkan Airlangga dibangun atas sejumlah asumsi tekanan eksternal selama 6–10 bulan, terutama pada harga minyak mentah dunia yang melonjak tajam. Pemerintah meramu tiga skenario: rendah, moderat, dan terburuk—dan seluruhnya tidak memberikan ruang fiskal yang nyaman.
Skenario rendah:
- ICP: US$ 86/barel
- Kurs: Rp 17.000 per dolar AS
- Yield SBN 10 tahun: 7,2% per tahun
- Pertumbuhan ekonomi: 5,4% yoy
- Defisit APBN: 3,18% dari PDB
Skenario moderat:
- ICP: US$ 97 per barel
- Kurs: Rp 17.300 per dolar AS
- Yield SBN 10 tahun: 7,2% per tahun
- Pertumbuhan ekonomi: 5,2% yoy
- Defisit APBN: 3,53% dari PDB
Skenario terburuk:
- ICP: US$ 115 per barel
- Kurs: Rp 17.500 per dolar AS
- Yield SBN 10 tahun: 7,2% per tahun
- Pertumbuhan ekonomi: 5,2% yoy
- Defisit APBN: 4,06% dari PDB
“Ini beberapa skenario yang mungkin perlu kita rapatkan secara terbatas, Pak,” tegas Airlangga kepada Presiden Prabowo.
Selain menekan APBN secara nominal, sinyal pelebaran defisit juga membuka risiko pembiayaan yang jauh lebih berat, terutama dari sisi bunga utang dan sensitivitas pasar keuangan. Merespon hal ini, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai skenario pelebaran defisit tidak hanya menambah kebutuhan pembiayaan, tetapi juga meningkatkan beban bunga secara signifikan.
Dalam hitungan Celios, jika defisit APBN dinaikkan menjadi 4%, pemerintah dapat menarik utang baru Rp 339,4 triliun tambahan. Total penerbitan utang bisa melebar dari rencana APBN 2026 sebesar Rp 781,8 triliun menjadi Rp 1.121 triliun. Sedangkan tambahan bunga akan sebesar Rp 20,4 triliun per tahun.
Dalam skenario defisit dilebarkan menjadi 5%, pemerintah bisa menarik utang hingga Rp 596,6 triliun tambahan. Total pembiayaan utang menjadi Rp 1.378,4 triliun dan tambahan bunga Rp 35,8 triliun per tahun.
Bhima mengingatkan, kenaikan bunga SBN juga akan memperberat APBN 2026. Sensitivitas pemerintah menyebut setiap kenaikan bunga SBN 0,1% menambah defisit Rp 1,9 triliun. Apabila bunga SBN naik dari 6% menjadi 8%, defisit akan membengkak Rp 38 triliun.
“Tambahan beban utang akan meningkat seiring penurunan rating utang. Ini harus menjadi perhatian serius,” kata Bhima. Celios juga sebelumnya telah memperingatkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menekan ruang fiskal secara drastis bila diwujudkan 100%.
Minat Lelang SBN
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






