Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO) Kaspar Situmorang (tengah), Komisaris Utama AGRO Budi Satria, serta jajaran direksi dan komisaris AGRO (dari kiri ke kanan) Eko B. Supriyanto, Rina Saadah, Achmad F.C. Barir, Arif Wicaksono, Ernawan, Bhimo Wikan Hantoro dan Sigit Murtiyoso, saat RUPSLB AGRO, Senin (27/9/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO) Kaspar Situmorang (tengah), Komisaris Utama AGRO Budi Satria, serta jajaran direksi dan komisaris AGRO (dari kiri ke kanan) Eko B. Supriyanto, Rina Saadah, Achmad F.C. Barir, Arif Wicaksono, Ernawan, Bhimo Wikan Hantoro dan Sigit Murtiyoso, saat RUPSLB AGRO, Senin (27/9/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

GRAB DIKABARKAN JAJAKI KERJA SAMA

BRI Agro Menjadi Bank Raya Indonesia

Selasa, 28 September 2021 | 11:28 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com) ,Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Membangun citra baru sebagai bank digital, PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (BRI Agro) berubah nama menjadi PT Bank Raya Indonesia Tbk (Bank Raya). Sebagai bank dengan layanan fully digital, Bank Raya siap bekerja sama dengan perusahaan big tech. Sebuah decacorn nasional, Grab, dikabarkan menjajaki kerja sama dengan emiten berkode AGRO itu.  

Direktur Utama PT Bank Raya Indonesia Tbk (Bank Raya) Kaspar Situmorang mengatakan, bank yang nama lamanya dekat dengan citra pertanian itu kini membuka diri untuk bekerja sama dengan perusahaan berbasis teknologi, dan terbuka dengan investor yang mau masuk.

Anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia Tbk tersebut, ke depan, antara lain fokus melayani nasabah di segmen gig economy atau pasar tenaga kerja yang ditandai dengan maraknya freelance work atau kontrak jangka pendek.

“Pekerja di segmen gig economy dibidik karena tercatat jumlahnya meningkat hingga 27,07% pada 2020. Misi kami adalah membantu menciptakan infrastruktur digital, agar pe kerja di segmen gig economy men dapat akses finansial secara sis tematis. Kecepatan dan disiplin eksekusi akan menjadi kunci untuk me lakukan penetrasi kepada nasabah di segmen ini,” katanya dalam konfe rensi pers secara daring, Senin (27/9).

Kaspar optimismis Bank Raya akan menggaet lebih banyak nasabah. Apalagi, perseroan didukung oleh Bank BRI sebagai perusahaan induk, yang memiliki infrastruktur keuangan dengan jangkauan luas hingga ke pelosok daerah.

“Itu adalah hal yang sangat sulit diperoleh bank lain. Sehingga, dengan dipadukan implementasi teknologi, kami akan menjadi first mover untuk merangkul pelaku usaha di segmen ekonomi gig ini,” katanya.

The Best Digital Bank

Bank Raya jauh melampaui kinerja pasar
Bank Raya jauh melampaui kinerja pasar

Kaspar menjelaskan, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BRI Agro telah menyetujui perubahan nama perseroan menjadi PT Bank Raya Indonesia Tbk, dan nama itu akan efektif setelah mendapatkan persetujuan Menteri Hukum dan HAM RI.

“Nama komersialnya Bank Raya. Langkah ini merupakan upaya rebranding perseroan untuk bertransformasi menjadi bank digital,” imbuhnya.

Kaspar Situmorang mengatakan, perseroan memiliki aspirasi baru yakni menjadi The Best Digital Bank for Agri & Beyond by Becoming House of Fintech & Home for Gig Economy. Perusahaan tengah menjalankan proses transformasi bisnis model baru, serta membenahi bisnis yang sudah ada.Arah transformasi tersebut akan menyasar segmentasi pasar yang baru, yaitu untuk memberikan layanan terhadap sektor gig economy atau sektor pekerja informal.

“Seiring dengan ulang tahun BRI Agro ke-32 tahun, kami telah mendapatkan persetujuan perubahan nama baru menjadi Bank Raya. Ini untuk mengubah image BRI Agro yang sebelumnya agrikultur atau sawit, hingga sepenuhnya berorientasi menjadi bank digital,” tutur Kaspar.

Kaspar mengungkapkan, setiap tahunnya, jumlah gig economy workers (pekerja sektor informal) di Indonesia meningkat secara konsisten. Laju tersebut juga semakin didorong oleh kondisi pandemic Covid-19.

Jumlah gig economy workers meningkat sebesar 27,07% secara tahunan (year on year/yoy), sedangkan jumlah karyawan penuh waktu menurun sebesar 8,84% (yoy). Lonjakan dari kehadiran gig workers ini berkontribusi terhadap pertumbuhan angkatan kerja secara positif, dalam bentuk penambahan sebanyak 1,94 juta gig workers baru selama masa pandemi. 

Ke depan, gig economy ini diproyeksikan mencapai 74,81 juta gig workers pada tahun 2025. Melihat perkembangan yang tengah terjadi dan menyadari shifting behavior ke arah digital yang terus memperkuat Indonesia, lanjut dia, gig economy workers akan menjadi pilar penting yang memperkuat dan memajukan perekonomian bangsa.

Kaspar Situmorang
Kaspar Situmorang

Kaspar menjelaskan, digital journey bank pelat merah itu dilakukan dengan transformasi berdasarkan 3 pilar. Pertama, digital, yaitu pengembangan produk digital baik dari sisi lending dan saving secara end-to-end sebagai aspirasi digital attacker BRI Group. Kedua, digitize, yaitu proses bisnis digitalization yang merupakan pengembangan bisnis yang dilakukan secara O2O (online to offline).

Ketiga, revamp, yaitu penataan kembali bisnis yang telah ada yang difokuskan pada shifting portofolio, revamp branch, mengoptimalkan efisiensi proses bisnis, dan memperkuat people & culture.

Salah satu wujud nyata yang telah dilakukan perseroan untuk merealisasikan aspirasi layanan digital adalah melalui penguatan people & culture, seperti merekrut bakat-bakat digital terbaik di industri, agar dapat menyediakan solusi perbankan digital terbaik bagi seluruh nasabah.

Selain itu, perseroan melakukan proses transformasi terhadap bagian lainnya seperti network, infrastructure, model bisnis, produk dan layanan, serta portofolio kredit baik dalam hal ticket size maupun kualitas.

“Kami sebagai anak perusahaan BRI sedang melakukan pembenahan model bisnis dan produk, serta bermigrasi untuk melayani gig economy. Pada tahun 2019, perseroan telah meluncurkan produk digital bernama Pinang,” paparnya.

Ia mengatakan, bank dengan ticker AGRO ini merupakan perusahaan pertama dalam mengakselerasi penyaluran kredit digital, dengan proses yang dilakukan sepenuhnya berbasis digital. Nasabah hanya perlu mengunduh aplikasi, memindai wajah, dan pengecekan identitas, kemudian dana diperoleh dalam waktu kurang dari dua menit.

“Dalam proses transformasi, kami menjalankan bisnis model yang baru dan membenahi bisnis yang sudah ada. Harapan kami perubahan ini dapat memaksimalkan penciptaan nilai yang kami berikan kepada pemangku kepentingan, memperoleh nasabah yang lebih luas, dan memberikan manfaat ekonomi kepada mitra bisnis dan pekerja,” ucap Kaspar.

OJK Beri Lampu Hijau

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: Investor Daily/David Gita Roza
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Kaspar menyebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah memberikan lampu hijau bagi Bank Raya untuk transformasi menjadi bank digital, dengan diperbolehkan pembukaan rekening sepenuhnya secara digital. Identifikasi nasabah dilakukan menggunakan biometrik, tanpa melalui video call dengan customer service.

Kaspar mengatakan, hal ini menjadi langkah penting dan membuka pintu akselerasi meningkatkan jumlah nasabah baru.

“Sebelumnya industri perbankan hanya memiliki akses terbatas pada gig economy, namun dengan menjadi bank digital, perseroan memiliki spectrum channel yang tidak dimiliki bank lain. Terlebih, sebagai anak usaha BRI yang memiliki banyak agen BRILink, Bank Raya akan semakin mempererat kolaborasi dengan agen BRILink, juga ekosistem digital lainnya,” imbuhnya.

Perbankan yang dulu menyasar pada korporasi, lanjut dia, kini difokuskan pada customer experience tanpa mengandalkan sistem bank lama. Open banking dengan salah satu open API jadi ujung tombak perbankan digital, akan mendorong pertumbuhan luar biasa, bukan hanya di bisnis perbankan tapi juga fintech.

“Saat ini, telepon seluler dipandang sebagai basis atas model perbankan yang baru, di mana perubahan tersebut mendorong perbankan untuk menerima bahwa kantor cabang bukan merupakan tombak bisnis dari sebuah bank. Indonesia dikenal sebagai tujuan pasar bagi digital banking karena populasi unbanked besar, dengan tingkat penetrasi telepon seluler dan penggunaan internet yang tinggi,” paparnya.

Kaspar menuturkan, bank digital dengan ekosistem spesifik dapat menghasilkan laba. Ini seperti halnya bank digital di Tiongkok yakni We-Bank dan MyBank, serta bank digital di Korea Selatan KakaoBank yang mencatatkan laba.

Sementara Melambat

Ikhtisar Kinerja Keuangan Bank Raya
Ikhtisar Kinerja Keuangan Bank Raya

Direktur Keuangan dan Operasional Bank Raya Arif Wicaksono mengatakan, langkah transformasi yang dilakukan perseroan akan berdampak secara sementara pada kinerja bank yang melambat. Hal tersebut disebabkan perseroan mulai menghentikan penyaluran kredit besar dan hanya memberikan kredit dengan nilai di bawah Rp 1 miliar dan tenor paling lama 12 bulan, seiring transformasi bisnis.

“Ini kami sampaikan, sejalan dengan upaya refocusing dari kredit menengah ke bisnis digital. Maka per Juli 2021, kami akan mengalami kerugian sebagai dampak peningkatan rasio kredit bermasalah (non performing loan/ NPL) kredit konvensional, dan peningkatan pencadangannya,” urai Arif.

Untuk itu, di semester kedua tahun ini, Bank Raya telah menyiapkan langkah- langkah antisipasi hingga akhir tahun 2021, untuk membawa bank kembali ke tingkat yang lebih sehat.

Dia menambahkan, perseroan akan tetap melakukan pencadangan terkait risiko kredit, karena diperkirakan rasio kredit macet akan meningkat akibat pembenahan portofolio.

“Harapannya, mulai tahun 2022 perseroan telah siap sepenuhnya memasuki era bisnis digital. Langkah transformasi ini tetap memperhatikan good corporate governance (GCG), pengelolaan manajemen risiko, dan persyaratan kecukupan pemenuhan modal minimum yang ditetapkan oleh regulator,” ucap Arif.

Kaspar menambahkan, perseroan berkomitmen melakukan transformasi dan mengubah dari fokus corporate lending menjadi digital. Bank Raya juga akan terus bersinergi dengan induk untuk memperluas akses, mengingat BRI memiliki banyak agen BRILink.

“Awal tahun ini, kami sudah melakukan penyetopan segmen menengah kami, korporasi di atas Rp 1 miliar tidak ada, ini juga akan memperbaiki kualitas aset. Kami akan beri kredit tenor pendek dan ticket size kurang dari Rp 1 miliar,” ujar Kaspar.

Bank Raya juga akan terus bersinergidengan induk, dengan sinergi utama terus menciptakan point of access. Hal ini memerlukan jaringan mumpuni, yang berimplikasi ke customer acquisition cost tidak boleh lebih besar dari customer lifetime value. Dengan demikian, profitabilitas baik dan kualitas aset lebih baik dari bank digital lain.

Masih Sasar Agribisnis

Perseroan juga masih menyasar segmen agribisnis, namun dengan nilai kredit yang kecil.

“Ini dengan fokus ke agen banking dan merchant terkait food and beverage untuk masuk ke pembiayaan rantai pasok. Penetrasi kami masuk merchant dan masuk fintech melalui open API. Sudah tentu seputar agritech dilakukan, tapi selektif ke fintech agri dan agritech yang butuh pembiayaan dari kami,” ucap Kaspar.

Sementara itu, total aset Bank Raya per Juni 2021 sebesar Rp 24,4 triliun, turun 2,98% (yoy), dengan kredit yang disalurkan senilai Rp 18,3 triliun, turun 4,29% (yoy). Dari sisi dana pihak ketiga (DPK) juga mengalami penurunan 4,82% (yoy) menjadi Rp 20 triliun.

“Penurunan portofolio ini terjadi karena penyelarasan bisnis transformasi digital yang kami lakukan. Ini terkait kami menyalurkan kredit dengan nominal kecil, dengan jumlah debitur yang lebih banyak,” papar Arif.

Sementara itu, kualitas aset pada semester I-2021 mencatatkan perbaikan, terlihat dari NPL gross turun ke posisi 4,59% dari tahun lalu 8,34%. Untuk coverage ratio meningkat ke posisi 128,47% pada Juni 2021. Perseroan juga meningkatkan komposisi dana murah, dari 26,35% pada Juni 2021, seiring peningkatan account sebesar 13,63% (yoy).

“Pertumbuhan ini kami tingkatkan seiring dengan peluncuran digital saving dalam waktu dekat,” imbuh dia.

Laba bersih AGRO tercatat sebesar Rp 26 miliar, tumbuh 30% (yoy) didorong pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang mencapai Rp 434 miliar atau tumbuh 34,21% (yoy). Peningkatan laba per Juni 2021 juga sejalan dengan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang membaik ke level 3,48%. Dari sisi permodalan, modal inti perseroan sebesar Rp 4,22 triliun dengan CAR 24,9% per Juni 2021.

Rights Issue

Guna membangun infrastruktur keuangan digital bagi pelaku gig economy dan mengakselerasi proses transformasi yang dijalani, perseroan berencana membangun fondasi keuangan yang kokoh untuk model bisnis baru, melalui penguatan permodalan. Perseroan akan menerbitkan sebanyak -banyaknya 2,15 miliar saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham, yang akan ditawarkan melalui PMHMETD atau 9,96% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

“Rencana submission/pendaftaran pertama ke OJK tanggal 30 September 2021. Kami roadshow di minggu kedua Oktober, exercise di bulan November,” ujar Arif.

Dana tunai yang diperoleh perseroan dalam PMHMETD atau rights issue digunakan untuk memperkuat permodalan, terutama sebagai modal kerja dalam penyaluran dana berbasis digital. Ini diharapkan akan berkontribusi positif terhadap kinerja keuangan perseroan.

“Penguatan struktur permodalan diharapkan mendukung kegiatan usaha perseroan ke depan. Ini akhirnya menciptakan value bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan,” kata dia. Setelah rights issue AGRO, kepemilikan Bank BRI diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 87,19% dari 86,06%. Sedangkan kepemilikan public diperkirakan akan terdilusi menjadi 12,81% dari 13,91%.

Pada perdagangan di BEI, kemarin, harga saham AGRO tercatat Rp 2.520 per unit, turun 1,95%. Market cap sekitar Rp 54,11 triliun, dengan price to earnings ratio sekitar 1.444. Secara year to date, harga saham AGRO udah melejit 147,06%.

Pada perdagangan kemarin tercatat asing melakukan transaksi pembelian senilai sekitar Rp 28,7 miliar dan penjualan Rp 14,7 miliar.

Grab

Bisnis pengantaran makanan bakal melonjak pesat
Bisnis pengantaran makanan bakal melonjak pesat

Sementara itu, beredar kabar bahwa perusahaan ride hailing Grab tengah mengincar bank untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia, dan AGRO mencuat sebagai calon bank yangakan dibidik Grab.

Menanggapi kabar tersebut, Kaspar tidak membenarkan dan tidak mengelak pula. Dia menegaskan perseroan terbuka untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan teknologi maupun fintech untuk berkembang.

“Saat ini kami tidak dapat berkomentar atas aksi korporasi terkait itu. Tapi perlu kami garis bawahi, pasar dan potensi di Indonesia sangat besar, untuk dapat market share dan eksponensial, perlu kolaborasi dengan pihak-pihak yang mumpuni. Kami sebagai bank digital pasti sangat membuka kesempatan selebar-lebarnya dengan fintech maupun perusahaan teknologi lainnya,” ucap Kaspar.

Hal senada diucapkan Arif. Menurut dia, perseroan membuka diri untuk para calon investor yang ingin bekerja sama melalui rights issue.

“Kami tidak bisa komentar banyak. Perusahaan akan melepas 2,15 miliar saham baru dan prosesnya akan dipengaruhi pricing yang ditentukan dan akan diumumkan kemudian,” kata dia.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) sebagai induk AGRO pun ikut angkat bicara. BRI juga membuka peluang bagi perusahaan yang ingin bekerja sama dengan anak perusahaannya tersebut.

“Informasi tersebut merupakan spekulasi yang terjadi di pasar. Sebagai bank yang disiapkan BRI untuk menyediakan layanan digital, tentunya AGRO akan membuka peluang kerja sama dengan startup dan fintech dalam mengembangkan ekosistem digital,” ujar Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto kepada Investor Daily.

Aestika menambahkan, BRI sebagai pemegang saham mayoritas dan perusahaan induk, saat ini mempersiapkan AGRO untuk menjadi digital attacker yang menghadirkan solusi layanan digital. Untuk mewujudkan hal tersebut, AGRO akan memenuhi dan patuh terhadap peraturan serta persyaratan yang ditetapkan regulator.

Menarik Investor

Reza Priyambada, Pengamat Pasar Modal, Asosiasi Analis Efek Indonesia
Reza Priyambada, Pengamat Pasar Modal, Asosiasi Analis Efek Indonesia

Pengamat pasar modal dari Asosiasi Analis Efek (AAEI) Reza Priyambada mengatakan, rights issue yang dilakukan AGRO menarik bagi para investor. Hal ini terkait tujuan dari gelaran rights issue, dengan dana akan digunakan untuk pengembangan digitalisasi perseroan.

“Selain itu, upaya digitalisasi AGRO juga didukung oleh induk usahanya, yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). BBRI lebih fokus menjadi bank konvensional dan pembiayaan UMKM,” ucapnya kepada Investor Daily.

Meski demikian, langkah dari Agro untuk menjadi bank digital dinilainya tidak mudah. Reza melanjutkan, AGRO masuk pada bisnis bank digital yang tengah tren dan bentuk ketahanan model bisnis dari AGRO ini akan diuji.

“Saat ini, banyak bank-bank dari BUKU 2 dan 3 yang juga berusaha meningkatkan pertumbuhan dengan menjadi bank digital. Sehingga, Agro akan dihadapkan dengan banyak pesaing pada model bisnis yang sama,” ujarnya.

Soal rebranding, Reza menegaskan, hal itu untuk memberikan semangat baru manajemen ke perusahaan. Rebranding ini hendaknya diiringi dengan peningkatan kinerja atau realisasi dari digitalisasi yang sedang direncanakan. Misalnya, peningkatan keamanan atau beberapa upaya sejenis yang berpotensi memperkuat fundamental perseroan.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara. Foto: IST
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara. Foto: IST

Dihubungi terpisah, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengungkapkan, beberapa persyaratan perlu diperhatikan untuk Bank Raya jika ingin berkompetisi di pasar bank digital.

Pertama, Bank Raya harus terpisah secara entitas atau sistem dengan BRI, sehingga ada independensi untuk uji coba atau inovasi. Sebab, kalau masih terikat dengan BRI yang sifatnya masih tradisional, akan menyulitkan proses inovasi.

“Kedua, integrasi dengan platform digital yang ada. Contohnya menjalin kerja sama dengan e-commerce, platform transportasi online, platform edutech, dan healthtech, serta harus menjalin kerja sama terutama dalam hal pembayaran dan pinjaman dengan platform eksis. Misalnya dengan e-commerce, untuk memberikan pinjaman kepada merchant yang jualan,” tutur Bhima kepada Investor Daily.

Ketiga, menjaga kepercayaan nasabah, yang dimulai dengan sistem keamanan data dan transaksi yang prima. Ini harus dilakukan uji coba, pengawasan, serta upgrade keamanan sistem.

Semakin aman sistemnya, maka akan kecil kemungkinan terjadi kebocoran data, dan kepercayaan nasabah akan semakin tinggi.  Keempat, bisnis digital membutuhkan modal yang sangat besar,

Bhima mengungkapkan, dalam kurun waktu 3 tahun pertama sejak transformasi digital, investasi teknologi digital dan infrastruktur akan sangat besar, sehingga harus ada concern manajemen untuk investasi digital secara besar tapi terukur.

“Kelima, bagaimanapun juga AGRO ini BUMN, problemnya birokrasi. Kalau mau bersaing dengan bank digital swasta, maka birokrasi itu harus dibuat seefisien mungkin, eksekusi dan keputusan harus secepat mungkin. Maka itu saya usul harus terpisah entitasnya dengan induk BRI,” tandas Bhima. (th/jm/lm/ant/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN