IHSG 2022? Ini Prediksi Macquarie
JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksi menuju level 7.400 pada 2022. Penguatan yang signifikan diperkirakan terjadi pada semester I dibandingkan semester II. Sebab pada semester II-2022, Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, kemungkinan menaikkan suku bunga acuan hingga tiga kali.
Head of Research Macquarie Sekuritas Ari Jahja mengungkapkan, IHSG pada 2022 diproyeksikan mencapai level 7.400 atau meningkat 12% dibandingkan proyeksi akhir 2021 di level 6.700. Pada semester I-2022, kenaikan IHSG terutama akan banyak terdongrak oleh pertumbuhan laba bersih dari komponen IHSG yang secara bertahap berhasil keluar dari tekanan pandemi. Laba per saham (earning per share/EPS) emiten bahkan bisa tumbuh rata-rata sebesar 20-25%.
Selain itu, vaksinasi akan meningkat pada tahun depan, sehingga dapat mengurangi beberapa risiko penyebaran Covid-19, termasuk varian Omicron. Sementara itu, imbal hasil obligasi juga bakal meningkat. Sedangkan inflasi akan cukup memberikan risiko karena berpotensi naik, yang mana tahun ini terkendali di 1,6%.
Sentimen lain yang akan menentukan pergerakan IHSG pada semester I-2022 adalah penawaran umum perdana (initial public offering/IPO). Misalnya, IPO Gojek dan Tokopedia (GoTo) yang menargetkan valuasi mencapai US$ 35-40 miliar. Blibli juga dikabarkan bakal IPO pada periode tersebut. "Jadi, investor asing akan subscribe di IPO ini. Dengan demikian, dana asing akan highly liquid masuk ke Indonesia pada semester I-2022," katanya.
Menurut Ari, kondisi ekonomi makro juga akan memberikan kontribusi positif terhadap kenaikan IHSG pada semester I tahun depan. Tidaklah berlebihan, bila dalam risetnya, dia memproyeksikan Gross Domestic Product (GDP) Indonesia pada akhir 2022 bertumbuh 5% dibandingkan akhir tahun ini yang hanya 3,8%.
Proyeksi pertumbuhan GDP itu karena keberhasilan Indonesia keluar dari tekanan pandemi Covid-19. Terbukti, saat ini margin sudah kembali normal. Karena itu, pada kuartal IV-2022, merupakan kali pertama GDP bisa kembali menyentuh 5% selepas pandemi. Artinya, tahun depan GDP Indonesia sudah kembali ke jalur yang tepat.
Sebab setelah pandemi, fundamental akan naik. Lalu, dari sisi kebijakan fiskal dan moneter, untuk pertama kalinya Indonesia juga berhasil menembus target berkat kontribusi harga komoditas yang cukup bagus.
“Jadi, naratif lain yang cukup penting adalah harga komoditas. Meski harga batu bara dan palm oil akan turun, tapi tahun depan harga komoditas akan tetap lumayan dibandingkan harga sebelumnya. Variabel komoditas ini juga penting untuk menjaga sentimen pasar dan membantu pendapatan negara,” paparnya.
Ditambah, dalam hal moneter, proyeksi cadangan devisa cukup tinggi untuk bisa mendukung rupiah yang juga merupakan komponen penting. Naratif lain yang akan membuat IHSG pada semester I-2022 lebih cerah adalah Foreign Direct Investment (FDI) yang akan kembali pulih. Tercermin dari bagaimana pemerintah menyiapkannya secara agresif, salah satunya dengan memberlakukan Omnibus Law untuk menarik investasi asing.
"Jadi, dari segi FDI, perbaikan iklim investasi di Indonesia ditunjukkan dengan membangun kawasan industri hijau (Green Industry Park) di Kalimantan Utara untuk mendukung electric vehicle. FDI ini diharapkan makin banyak setelah kita keluar dari pandemi,” jelas Ari.
Pendorong selanjutnya datang dari dana abadi atau sovereign wealth fund (SWF) Indonesia, yakni Indonesia Investment Authority (INA), yang kini mulai agresif. Apalagi, INA baru-baru ini telah mengantongi modal setelah pemerintah mengalihkan saham Bank Mandiri dan BRI ke INA.
Dengan begitu, pada semester I-2022, INA ingin membuktikan diri setelah tahun sebelumnya banyak pihak yang mempertanyakan kinerja INA. Artinya, banyak sentimen postif yang akan mendukung membaiknya kondisi pasar pada semester I-2022.
Memasuki semester II-2022, ceritanya akan sedikit berbeda. Menurut Ari, kenaikan IHSG pada periode tersebut diperkirakan tidak lebih signifikan dibandingkan semester I-2022. Sebab pada semester II-2022, The Fed akan menaikkan suku bunga hingga tiga kali dan kemungkinan akan terus berlanjut sampai 2023.
Dampaknya, kemungkinan akan terjadi foreign outflow pada semester II-2022. Seiring dengan kebijakan The Fed menaikkan suku bunga, maka BI pun akan mengikuti langkah tersebut. “Secara keseluruhan, IHSG akan tetap lebih bagus pada pertengahan tahun dibandingkan akhir tahun. “Pada semester II-2022, IHSG masih akan naik ke level 7. 000,” tuturnya.
Walaupun kenaikan IHSG pada semester II-2022 kemungkinan tidak semoncer pada semester I-2022, hal itu masih bisa disiasati sepanjang sektor domestik dapat memberikan dukungan. Ari pun meyakini, target IHSG di 7.400 pada 2022 nanti merupakan level yang masih bisa dicapai.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now



