Kinerja Stabil Medikaloka Hermina (HEAL)
JAKARTA, investor.id — PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), pengelola jaringan RS Hermina, diproyeksikan mengalami pertumbuhan volume pasien sebesar 19% pada 2022. Meskipun demikian, pandemi Covid-19 yang mulai melandai, berpotensi menggerus marjin perseroan.
Analis CGS CIMB Sekuritas Patricia Gabriela dan Marcella Regina menyampaikan, volume pasien perseroan pada tahun ini diperkirakan tumbuh 19% yang didorong oleh kunjungan rawat jalan.
Adapun kontribusi pasien dari Covid-19 diproyeksikan berkurang, sehingga mempengaruhi pendapatan per pasien. “Secara keseluruhan kami memperkirakan penjualan perseroan akan stagnan di 1%,” ujar dia.
Perlu diketahui, marjin laba kotor (gross profit margin/ GPM) Medikaloka Hermina mengalami peningkatan dari 44,1% pada 2019 menjadi 51,2% pada tahun 2021, sehingga setiap penurunan kasus Covid-19 akan mengurangi margin perseroan.
Selain itu, pemerintah telah mengubah basis reimbursement dari per hari menjadi per kasus, yang juga akan mengurangi margin.
“Oleh karena itu, kami memperkirakan GPM Hermina akan normal pada kisaran 46%, dengan margin EBITDA sepanjang 2022 menurun sebesar 4,3% menjadi 28,5%. Akibatnya, laba bersih untuk selama 2022 harus berkontraksi sebesar 15% yoy, dengan memperhitungkan asumsi porsi laba bersih 80% dari pendapatan, dibandingkan estimasi 2021 sebesar 77%,” ujar dia.
CGS CIMB Sekuritas memangkas EPS perseroan pada periode tahun 2022-2023 sebesar 13%-14% untuk margin yang rendah, namun untuk EPS pada 2021 dinaikan menjadi 9% seiring dengan asumsi volume pasien yang tinggi.
Medikaloka Hermina telah berinisiatif untuk menerapkan ESG dalam kegiatan operasionalnya. Perseroan pun belum lama ini telah mengumumkan rencana sustainability untuk jangka waktu 5 tahun. Semua rumah sakit perseroan saat ini telah mengadopsi konsep rumah sakit hijau dan telah memperkenalkan energi surya di rumah sakitnya di Depok dan Bogor.
“Secara keseluruhan, performa ESG perseroan sama seperti rumah sakit lainnya yang ada di Indonesia. Adapun peningkatan terbesar dalam performa ESG perseroan dalam beberapa tahun kebelakang adalah aspek lingkungan,” ujar dia.
Target harga saham Medikaloka Hermina untuk saat ini berada di Rp 1.100 (WACC 11%, LTG 4%).Target ini berdasarkan EV/EBITDA pada tahun 2022 yang berada di 12,5 kali.
Adapun upside risk-nya adalah pemulihan yang lebih cepat dalam volume pasien dan margin yang lebih baik dari perkiraan.
Sementara downside risk nya pertumbuhan laba bersih yang lebih lambat. “Kami merekomendasikan cut to hold untuk saham HEAL,” ujar dia.
Capex Jumbo
Perseroan pada tahun ini menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) jumbo hingga Rp 1 triliun yang akan digunakan untuk pengembangan pelayanan dan juga rumah sakit baru.
Direktur Keuangan dan Pengembangan Strategi Aristo Setiawidjaja menjelaskan, perseroan berniat mengembangkan layanan pada sektor medical tourism yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Indonesia sebelum pandemi. Pengembangan layanan ini, meliputi pelayanan kesehatan yang lebih kompleks.
“Karena selama pandemi, medical tourism lebih sulit dilakukan. Sehingga, memberikan satu structural opportunity bagi jasa kesehatan di Indonesia,” jelasnya dalam paparan public virtual.
Jumlah capex tahun ini lebih tinggi daripada rata-rata belanja modal yang dikeluarkan perseroan dalam rentang 2018-2020.
Sedangkan pada 2021, perseroan juga menganggarkan capex yang kurang lebih sama. Aristo menambahkan, untuk itu perseroan menganggarkan capex yang lebih besar untuk meningkatkan kapabilitas dan kemampuan dengan training kepada dokter dan juga perlengkapan alat pendukungnya. Termasuk, penambahan tiga rumah sakit baru, pada saat bersamaan perseroan akan fokus mengembangkan center of excellence.
Secara rinci, rumah sakit pertama berlokasi di Soreang, Jawa Barat, yang sudah dibangun sejak Juli 2021 dan akan dibuka pada kuartal I-2022. Sedangkan dua rumah sakit lainya direncanakan perseroan akan berdiri di Tasikmalaya dan Banda Aceh.
Menurut Aristo, berbagai rencana ini sejalan dengan proyeksi dari perseroan bahwa mayoritas pendapatan akan ditopang oleh pasien non Covid-19.
“Meski demikian, kemungkinan fluktuasi dari jumlah pasien Covid-19 masih sangat mungkin terjadi, mengingat saat ini masih dalam situasi pandemi,” ujar dia.
Perseroan juga belum lama ini tengah melakukan pembelian kembali (buyback) saham maksimum sebanyak 80 juta saham. Aksi korporasi ini dilakukan untuk menyetabilkan harga dalam kondisi pasar yang fluktuatif.
Hermina menganggarkan dana Rp 100 miliar untuk program tersebut. “Adapun perseroan membatasi harga pembelian kembali saham maksimum Rp 1.450,” ungkap manajemen Medikaloka Hermina dalam keterangan tertulis.
Menurut Aristo, aksi korporasi itu tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan, sebab perseroan memiliki modal kerja dan arus kas yang memadai untuk melaksanakan rencana pembelian kembali saham. Namun, dengan adanya perubahan pada jumlah saham yang beredar, maka rencana pembelian kembali saham berdampak secara tidak signifikan terhadap laba per saham HEAL.
Selain bertujuan untuk menyetabilkan harga saham, buyback juga memberikan fleksibilitas bagi perseroan dalam mengelola modal jangka panjang, dimana saham treasuri dapat dijual di masa yang akan datang dengan nilai yang optimal, jika perseroan memerlukan penambahan modal.
Pembelian kembali saham perseroan ini dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama 15 hari setelah tanggal keterbukaan informasi, yaitu terhitung mulai 12 Januari 2022 hingga 26 Januari 2022.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now


