Akhiri Tahun Dengan Kenaikan, Harga Minyak Catat Penurunan Keuntungan Tahunan
NEW YORK, investor.id - Harga minyak akhiri tahun dengan mencatatkan kenaikan pada perdagangan Jumat (30/12/2022). Terdorong ketatnya pasokan di tengah perang di Ukraina. Namun, harga minyak menutup tahun ini dengan penurunan keuntungan tahunan.
Harga minyak melonjak pada Maret karena invasi Rusia ke Ukraina meningkatkan aliran minyak mentah global. Dengan patokan internasional Brent mencapai US$ 139,13 per barel, tertinggi sejak 2008. Harga mendingin dengan cepat di semester kedua karena bank sentral menaikkan suku bunga dan memicu kekhawatiran resesi.
"Ini merupakan tahun yang luar biasa bagi pasar komoditas, dengan risiko pasokan yang menyebabkan peningkatan volatilitas dan kenaikan harga. Tahun depan akan menjadi tahun ketidakpastian, dengan banyak volatilitas," kata analis ING Ewa Manthey.
Minyak mentah Brent pada perdagangan Jumat (30/12/2022), hari terakhir perdagangan tahun ini, US$ 2,45 per barel (3%) menetap di US$ 85,91 per barel. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (AS) AS terkerek US$ 1,86 (2,4%) menetap di US$ 80,26 per barel.
Untuk tahun ini, Brent naik sekitar 10%, setelah melonjak 50% pada 2021. Minyak mentah WTI AS naik hampir 7% pada 2022, menyusul kenaikan tahun lalu sebesar 55%. Kedua tolok ukur tersebut turun tajam pada 2020 karena pandemi Covid-19 memangkas permintaan bahan bakar.
Investor pada tahun 2023 diperkirakan akan terus mengambil pendekatan yang hati-hati, mewaspadai kenaikan suku bunga dan kemungkinan resesi.
"Permintaan dan pertumbuhan permintaan akan menjadi pertanyaan nyata karena tindakan keras oleh bank sentral global dan perlambatan yang mereka coba rekayasa," kata John Kilduff, partner di Again Capital LLC di New York.
Sebuah survei terhadap 30 ekonom dan analis memperkirakan Brent akan mencapai rata-rata US$ 89,37 per barel pada tahun 2023. Angka itu 4,6% lebih rendah dari konsensus dalam survei November. Minyak mentah WTI AS diproyeksikan rata-rata US$ 84,84 per barel pada tahun 2023, turun dari pandangan sebelumnya.
Sementara lonjakan perjalanan liburan akhir tahun dan larangan Rusia atas penjualan minyak mentah dan produk minyak telah mendukung minyak mentah, pasokan yang lebih ketat akan diimbangi tahun depan dengan penurunan konsumsi bahan bakar karena lingkungan ekonomi yang memburuk, kata analis CMC Markets Leon Li.
Penurunan minyak pada paruh kedua tahun 2022 karena kenaikan suku bunga untuk melawan inflasi mendorong dolar AS. Itu membuat komoditas berdenominasi dolar seperti minyak mentah lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Sednagkan dolar berada di jalur untuk membukukan kenaikan tahunan terbesar sejak 2015.
Pembatasan nol-Covid di Tiongkok, yang baru dilonggarkan bulan ini, telah menghancurkan harapan pemulihan permintaan. Importir minyak terbesar dunia dan konsumen terbesar kedua pada tahun 2022 mencatat penurunan pertama dalam permintaan minyak selama bertahun-tahun.
Sementara permintaan minyak Tiongkok diperkirakan akan pulih pada tahun 2023, lonjakan kasus Covid-19 baru-baru ini telah meredupkan harapan akan dorongan segera dalam pembelian barel.
Untuk indikator pasokan ke depan, jumlah rig minyak dan gas AS naik 33% untuk tahun ini, kata perusahaan jasa energi Baker Hughes Co (BKR.O) dalam laporan terbarunya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






