Jumat, 15 Mei 2026

Emas Hitam Menguat Imbas Rencana Pembatasan Minyak Rusia

Penulis : Indah Handayani
3 Jan 2023 | 11:10 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi harga minyak. REUTERS/Tatiana Meel/File Photo
Ilustrasi harga minyak. REUTERS/Tatiana Meel/File Photo

JAKARTA, investor.id - Pergerakan minyak mentah pada perdagangan Selasa pagi (3/1/2023) bergerak naik ke level US$ 80,57 per barel. Terdorong oleh sentimen larangan pasokan minyak mentah dan produk minyak Rusia serta harapan pulihnya permintaan Tiongkok akibat pembukaan wilayah

Tim Research and Development mengatakan, pada perdagangan lalu, Pembatasan harga minyak Rusia oleh negara-negara G7 dan Uni Eropa dilakukan untuk memperkecil dana yang disalurkan pada kebutuhan senjata dan amunisi dalam perang melawan Ukraina. Hal ini memicu Presiden Vladimir Putin untuk melarang pasokan minyak mentah dan produk minyak mulai 1 Februari selama lima bulan ke negara-negara yang mematuhi batas tersebut dalam sebuah dekrit, yang juga memasukkan klausul yang memungkinkan Putin membatalkan larangan tersebut dalam kasus-kasus khusus. Minyak mentah Rusia telah dialihkan ke India dan Tiongkok dari Eropa.

Di Tiongkok, Tim Research and Development mengatakan, importir minyak mentah terbesar dunia dan konsumen minyak terbesar kedua, mulai membongkar Covid yang paling ketat di dunia. Dengan melakukan rencana pembukaan wilayah terlihat beberapa orang di kota-kota utama melawan cuaca dingin dan peningkatan infeksi Covid-19 untuk kembali ke aktivitas regular.

ADVERTISEMENT

“Hal ini dapat meningkatkan prospek peningkatan ekonomi dan minyak permintaan karena lebih pulih dari infeksi,” tulis Tim Research and Development dalam risetnya, Selasa (3/1/2023).

Tim Research and Development menambahkan, sentimen negatif yang dapat menekan harga minyak lebih lanjut karena kepala Dana Moneter Internasional memperingatkan tentang tahun 2023 yang lebih karena ekonomi utama mengalami aktivitas yang melemah.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan pada hari Minggu bahwa Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok yang merupakan mesin utama pertumbuhan global memperkirakan semuanya melambat secara bersamaan, membuat tahun 2023 lebih sulit daripada tahun 2022 untuk ekonomi global.

“Hal ini membuat kekhawatiran pada permintaan minyak kedepan,” tegas Tim Research and Development.

Tim Research and Development melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$82.00 per barel. “Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 78 per barel,” tutup Tim Research and Development.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 14 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 46 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 57 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia