Harga Minyak Bergerak Bearish Terbebani Lonjakan Drastis Stok AS
JAKARTA, investor.id - Harga minyak Kamis pagi (12/1/2023) terpantau bergerak bearish. Terbebani sentimen dari lonjakan drastis stok minyak mentah AS dan potensi tambahan pasokan minyak dari Tiongkok. Sementara, di saat yang sama, proyeksi positif dari Goldman Sachs dan gangguan di ladang minyak Norwegia memberikan dukungan pada harga minyak.
Baca Juga:
Harga Minyak Bakal Lanjutkan PenguatanTim Research and Development ICDX menjelaskan, dalam laporan yang dirilis Rabu malam oleh badan statistik pemerintah AS Energy Information Administration (EIA), menunjukkan stok minyak mentah AS melonjak naik sebesar 18.96 juta barel, di luar prediksi sebelumnya yang memperkirakan stok akan turun sebesar 2.24 juta barel. “Kenaikan tersebut sekaligus merupakan peningkatan stok terbesar sejak Februari 2021,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Kamis (12/1/2023).
Tim Research and Development ICDX menambahkan, untuk stok bensin juga dilaporkan naik sebesar 4.11 juta barel, melebihi prediksi awal yang memperkirakan stok akan naik sebesar 1.19 juta barel. EIA mengatakan bahwa kenaikan tersebut disebabkan karena permintaan yang sedang lesu serta ditambah dengan aktifitas kilang yang melambat dalam proses pemulihan produksi pasca pembekuan akibat suhu dingin.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, turut membebani pergerakan harga lebih lanjut, produsen minyak dan gas lepas pantai terbesar Tiongkok CNOOC pada hari Rabu mengumumkan peningkatan target produksi minyak dan gas tahun 2023 sekitar 8% ke rekor 650 juta hingga 660 juta barel setara minyak (boe). CNOOC juga mengatakan akan meluncurkan sembilan proyek produksi baru tahun ini, termasuk lapangan domestik Bozhong 19-6 di cekungan Bohai Bay dan Lufeng 12-3 di cekungan Pearl River Mouth, dan proyek global seperti Mero 2 di Brasil dan Payara di Guyana.
Sementara itu, Tim Research and Development ICDX mengatakan, Goldman Sachs Group Inc pada hari Rabu mengatakan bahwa pembukaan kembali Tiongkok secara penuh berpotensi mendorong terjadinya lonjakan besar permintaan, sehingga akan sangat menentukan arah harga komodias terutama minyak mentah. Satu barel harga minyak jenis Brent dapat mencapai $110 per barel pada kuartal III tahun ini, ujar Jeff Currie, kepala penelitian komoditas global bank tersebut.
Tim Research and Development ICDX menyebut, sentimen positif lainnya datang dari berita penghentian produksi di sebagian ladang minyak Johan Sverdrup Norwegia, produsen terbesar minyak mentah di Laut Utara, pada hari Rabu yang diakibatkan oleh gangguan pada pasokan listrik, ungkap juru bicara operator Equinor. Sverdrup memiliki kapasitas total produksi minyak sekitar 720,000 bph dan mengandalkan pasokan listrik dari jalur darat. Akibat pemadaman listrik yang terjadi tersebut, berdampak pada Sverdrup Phase 2, yang memiliki kapasitas produksi sebesar 185,000 bph.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 80 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 75 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






