Jumat, 15 Mei 2026

Harga Batu Bara Lanjut Menguat, Kabar dari Tiongkok Jadi Pemicunya

Penulis : Indah Handayani
10 Aug 2023 | 05:00 WIB
BAGIKAN
ilustrasi batu bara (Foto: REUTERS/Siphiwe Sibeko/File Foto)
ilustrasi batu bara (Foto: REUTERS/Siphiwe Sibeko/File Foto)

JAKARTA, investor.id – Harga batu bara lanjut menguat pada perdagangan Rabu (9/8/2023). Dipicu oleh data impor batu bara Tiongkok yang tetap tinggi pada Juli.  

Pada Rabu (9/8/2023), harga batu bara Newcastle untuk kontrak berjangka Agustus 2023 stagnan di US$ 142,50 per ton. Sedangkan kontrak berjangka September 2023 menguat US$ 3 (2,07%) menjadi US$ 148,25 per ton. Sedangkan kontrak berjangka Oktober 2023 bertambah US$ 2,65 (1,79%) menjadi US$ 150,90 per ton.

Sementara itu, hingga berita ini ditayangkan, harga batu bara Rotterdam untuk kontrak berjangka Agustus 2023 terkerek U$S 1,10 (0,96%) menjadi US$ 115,85. Sementara itu, kontrak berjangka September 2023 bertambah US$ 2,60 (2,20%) menjadi US$ 120,60. Serta, kontrak berjangka Oktober 2023 naik U$S 1,65 (1,39%) menjadi US$ 120,65.

ADVERTISEMENT

Dikutip dari Reuters, impor batu bara Tiongkok tetap pada tingkat yang tinggi pada bulan Juli setelah pembelian dari luar negeri hampir dua kali lipat pada paruh pertama tahun 2023. Karena utilitas terus mendatangkan pasokan yang lebih murah untuk memenuhi puncak permintaan listrik musim panas, data menunjukkan pada Selasa (8/8/2023).

Konsumen terbesar batu bara utama dunia tersebut mengimpor 39,26 juta metrik ton batu bara bulan lalu, sedikit di bawah 39,87 juta metrik ton pada bulan Juni dan dibandingkan dengan jumlah rata-rata bulanan sebesar 37 juta metrik ton antara Januari dan Juni, data dari Administrasi Umum Bea Cukai menunjukkan.

Pembelian Juli melonjak 67% dari 23,52 juta metrik ton setahun sebelumnya. Rekor impor batu bara bulanan Tiongkok adalah 43,56 juta metrik ton pada Januari 2020. Beban listrik telah melonjak dan mencapai puncak baru sejak pertengahan Juni karena sebagian besar negara mengalami periode suhu tinggi yang tidak normal.

Biaya pengiriman batu bara 3.800 kilokalori dari Indonesia dan Afrika Selatan, serta bahan bakar 5.500 kilokalori dengan kualitas lebih tinggi dari Australia, lebih rendah daripada harga pasokan domestik di Tiongkok.

Hal ini ditambah lagi laporan dari Research And Markets yang menyebutkan, pasar bahan bakar padat diproyeksikan tumbuh dari US$ 389,14 miliar pada 2022 menjadi US$ 401,54 miliar pada 2028, dengan CAGR 0,5% selama periode perkiraan. Ekspansi dan pengembangan kilang di seluruh dunia, ditambah dengan peningkatan produksi batu bara, mendorong pertumbuhan pasar.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 7 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 39 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 50 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 54 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia