Jumat, 15 Mei 2026

Waspada Sentimen Negatif, Begini Strategi Trading Tiga Saham Jelang Libur Panjang Idulfitri  

Penulis : Indah Handayani
1 Apr 2024 | 05:00 WIB
BAGIKAN
Seorang investor melihat layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta. (B-Universe Photo/David Gita Roza)
Seorang investor melihat layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta. (B-Universe Photo/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id - Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) Dimas Krisna Ramadhani mengingatkan traders untuk waspada pada tiga sentimen negatif pada pekan ini, yaitu inflasi inti tahunan Indonesia, persiapan libur panjang Hari Raya Idulfitri dan Non-Farm Payroll Amerika Serikat (AS) pada Maret. Untuk itu, begini strategi trading tiga saham menjelang libur panjang Idulfitri.

"Saat ini IHSG sedang menguji support MA50. Apabila tidak mampu bertahan maka IHSG berpotensi untuk terus turun ke 7.180 - 7.200,"  ungkap Dimas dalam risetnya, Minggu (31/3/2024). 

Dimas menjelaskan, tepat pada 1 April Indonesia akan merilis data inflasi inti tahunan untuk bulan Maret. Berdasarkan konsensusnya, inflasi inti tahunan Indonesia akan berada di level 1,7%. Pada bulan sebelumnya, indikator ini berada di level 1,68%.

ADVERTISEMENT

“Meskipun secara konsensus mengalami peningkatan, namun angka ini masih berada di dalam rentang target yang ditetapkan oleh BI yakni inflasi tahunan di 2024 sebesar 2% plus minus 1,” papar Dimas. 

Terkait sentimen persiapan libur panjang Hari Raya Idulfitri, terang Dimas, fenomena tahunan ini akan berdampak pada pengeluaran masyarakat dan transaksi harian di bursa. Pengeluaran masyarakat akan meningkat pada masa ini dan berpotensi memberikan katalis positif untuk emiten consumer untuk kuartal II nanti, sedangkan transaksi di bursa akan berlaku sebaliknya.

“Umumnya orang akan melakukan penarikan dana dari RDN-nya menjelang libur Lebaran. Ditambah lagi, dengan persiapan mudik yang membuat transaksi harian bursa menurun pada masa ini,” papar Dimas.

Selanjutnya, Dimas mengatakan, terkait sentimen Non-Farm Payroll AS pada Maret yang dirilis pada Jumat akhir pekan ini, berdasarkan konsensusnya NFP untuk bulan Maret atau penambahan tenaga kerja diprediksi akan mendapat tambahan tenaga kerja sebesar 200 ribu. Pada bulan sebelumnya, NFP tercatat tambahan tenaga kerja sebesar 275 ribu, yang jauh berada di atas konsensusnya yang hanya sebesar 200 ribu. Hal ini menandakan kuatnya kondisi tenaga kerja di AS saat ini.

"Bagai pisau bermata dua, ketika data tenaga kerja menunjukkan hal yang positif dengan banyaknya tambahan tenaga kerja berimbas terhadap berputarnya roda ekonomi. Namun di sisi lain, jika hal ini tidak dapat dikendalikan dengan baik, bisa membuat tingkat inflasi semakin menjauh dari target yang ditetapkan oleh The Fed di 2024 yakni 2%," jelas Dimas.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 15 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 47 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 58 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia