Laba Emiten Nikel Bakal Terangkat, Fokus ke Saham Ini Saja
JAKARTA, investor.id – Reli harga nikel di London Metal Exchange (LME) baru-baru ini dipicu oleh larangan listing logam Rusia di bursa tersebut. Selain itu, terjadi kerusuhan di Kaledonia Baru, negara penghasil nikel terbesar ketiga di dunia. Lantas, apa dampaknya bagi emiten nikel di Indonesia dan pergerakan sahamnya?
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya mengungkapkan bahwa meskipun harga nikel naik, risiko pasokan tetap ada karena tambahan produk kelas 1 dari konversi produk perantara dan peningkatan kapasitas di China dan Indonesia, yang dapat menjaga produk kelas 1 tetap surplus dalam jangka waktu yang lebih lama.
Namun, dengan permintaan dari sektor baterai yang diperkirakan tumbuh dari 17% pada 2024 menjadi 20% pada 2026, harganya diprediksi hanya akan turun sejauh mayoritas biaya yang dikeluarkan produsen. “Karena itu, kami mengembalikan asumsi harga nikel LME pada level US$ 18.000 dan US$ 17.500 per ton untuk tahun 2024 dan 2025,” tulis Timothy dalam risetnya.
Sementara itu, seiring dengan penurunan harga nickel pig iron (NPI) ke titik terendah US$ 11.000 per ton, produksi Indonesia pada kuartal I-2024 sedikit turun menjadi 353 kt (-1,5% qoq). Namun, dia yakin bakal ada permintaan yang berkelanjutan dari China, seiring permintaan nikel global yang diperkirakan tumbuh 5%. Itu berarti permintaan nikel bisa tumbuh 9,5% pada 2024, berdasarkan perkiraan WoodMac.
“Dengan pertumbuhan produksi yang kuat hingga 2,2 juta ton, kami melihat dinamika pasokan dan permintaan NPI lebih seimbang, jauh lebih rendah dibandingkan kelebihan pasokan sebesar 200 ribu ton pada 2023,” jelas Timothy.
Di level korporasi, melesetnya laba pada kuartal I-2024 sebagian besar disebabkan oleh keterlambatan penerbitan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB), yang mengakibatkan penjualan tertunda, seperti dialami PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Belum lagi, rata-rata harga nikel merosot menjadi US$ 16.600 per ton dibandingkan konsensus 2024 yang sebesar US$ 17.600 per ton.
Namun, karena harga nikel di LME naik menjadi US$ 18.650 per ton pada kuartal II-2024, perolehan laba diperkirakan meningkat pada kuartal II-2024. Terlebih, ada beberapa penjualan kuartal I-2024 yang dialihkan. “Kami memprediksi INCO (PT Vale Indonesia Tbk) akan membukukan pertumbuhan laba terkuat, diikuti oleh ANTM,” sebut Timothy.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Dengan berbagai faktor yang ada, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rating atau peringkat overweight untuk sektor penambangan logam. Hal itu seiring tren positif permintaan NPI dari industri baja tahan karat (stainless steel) guna mendorong keseimbangan pasar yang lebih baik.
BRI Danareksa Sekuritas lebih memilih perusahaan yang memiliki eksposur terhadap penjualan bijih dalam bauran pendapatannya, yaitu NCKL (15%) dan ANTM (14%), di tengah kuatnya profitabilitas margin bijih dan masih adanya penundaan penerbitan RKAB.
Preferensi berikutnya adalah produsen NPI berbiaya rendah dibandingkan produsen kelas 1 (dipatok LME). Produsen NPI berbiaya rendah dinilai lebih memiliki visibilitas dalam hal laba. Sedangkan produsen yang dipatok LME menghadapi risiko penurunan lebih tinggi dari kelebihan pasokan produk kelas 1.
Dengan demikian, secara berurutan, preferensi BRI Danareksa Sekuritas terkait perusahaan penambangan logam, yaitu NCKL, MDKA, MBMA, ANTM, dan INCO.
BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan buy saham NCKL dengan target harga Rp 1.300. Begitu juga dengan saham MDKA, rekomendasi buy dengan target harga Rp 3.100. Kemudian, buy saham MBMA dengan target harga Rp 700.
Selanjutnya, buy saham ANTM dengan target harga Rp 2.000 dan buy INCO dengan target harga Rp 6.100.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






