Outlook Nikel dan Saham Vale (INCO), Target Harga Baru
JAKARTA, investor.id – Ketidakpastian relaksasi suku bunga makin menekan stabilitas harga komoditas, termasuk nikel. Proyeksi harga nikel kemudian direvisi dan margin menjadi lebih konservatif. Akibatnya, laba salah satu pemain besar nikel, PT Vale Indonesia Tbk (INCO), diperkirakan turun 8% pada 2024 dan tumbuh 1% pada 2025.
Belakangan ini, saham sektor komoditas tertekan karena ketidakpastian seiring meningkatnya persediaan. Tekanan ini diperkirakan berlanjut hingga terjadi penurunan suku bunga.
“Ketidakpastian relaksasi suku bunga makin menekan stabilitas harga komoditas, sementara harapan terhadap prospek persediaan yang lebih baik seiring pemulihan ekonomi regional guna mendorong permintaan belum sepenuhnya terwujud,” tulis RHB Sekuritas dalam risetnya.
Adapun lonjakan harga nikel pada April hingga pertengahan Mei 2024 bersifat sementara. Harga nikel di London Metal Exchange (LME) sempat melesat 30%, tapi setelah itu terpangkas 20% menjadi US$ 17.000/ton.
Hal itu dipicu oleh pasokan bahan baku yang bermasalah, karena penundaan izin di Indonesia dan risiko politik di Kaledonia Baru. Kemudian, diikuti oleh sentimen penurunan harga, menyusul penguatan dolar AS dan pelemahan permintaan yang berkepanjangan.
RHB telah merevisi proyeksi harga nikel LME tahun ini menjadi US$ 17.500/ton dari sebelumnya US$ 18.500/ton. RHB juga memperkirakan melemahnya sentimen kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di masa depan, karena lebih banyak gangguan akibat bahan pengganti katoda baterai. Volume permintaan nikel dari EV ditaksir turun 25% dari estimasi awal.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Sementara itu, RHB melihat ada beberapa faktor terkait Vale Indonesia. Pertama, perubahan dewan direksi. Kedua, perkiraan dilusi dari rencana penerbitan HMETD. Ketiga, minimnya penundaan dari output smelter karena pemeliharaan tahun depan. Keempat, peningkatan porsi bagi hasil setelah perpanjangan izin.
Terlepas dari pengaruh harga, yaitu 1% perubahan pada harga jual rata-rata (average selling price/ASP) akan berdampak 5-6% pada laba per saham (EPS), Vale Indonesia diyakini bakal memiliki margin operasional yang stabil pada tahun ini. Emiten berkode saham INCO tersebut dianggap sebagai proksi terdekat dari pergerakan nikel LME, karena kandungan nikel kualitas tinggi membuatnya lebih mudah diakses oleh berbagai pasar, baik segmen kelas I maupun II.
Sebab itu, RHB tidak mengubah pandangannya soal profitabilitas INCO, meski dengan perkiraan margin yang lebih konservatif, seiring fluktuasi harga energi dan berbagai tingkat utilisasi dalam memproses bahan baku. Secara keseluruhan, arus kas INCO akan tetap sehat. Kebutuhan ekspansi INCO bakal tercukupi oleh neraca keuangan yang sehat ke depan.
RHB kemudian mempertahankan rekomendasi buy untuk saham INCO. Target harga baru saham INCO – dengan metode discounted cash flow (DCF) dan multiple EV/EBITDA – sebesar Rp 4.500 dari sebelumnya Rp 4.810.
“Target harga tersebut telah memasukkan 2% diskon ESG sesuai dengan nilai ESG INCO sebesar 2,9 yang berada di bawah median negara,” pungkas RHB.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






