Pilihan BYD Cs Bahayakan Saham Nikel
JAKARTA, investor.id – Sejumlah pabrikan kendaraan listrik China, seperti BYD, Chery, hingga SAIC lebih memilih menggunakan baterai lithium ferro phospate (LFP) di kendaraan besutan mereka. Hal iini bisa membahayakan saham sektor nikel di Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Beberapa risiko saham sektor nikel dan mineral adalah perubahan regulasi pemerintah, kenaikan biaya energi di atas prediksi, harga jual di bawah proyeksi, dan makin canggihnya pengembangan baterai LFP,” tulis Macquarie dalam riset saham sektor mineral, dikutip Kamis (27/6/2024).
Diketahui, semua model BYD yang dijual di Indonesia menggunakan baterai LFP. Demikian pula dengan Chery dan Wuling. Para pendatang baru, sebut saja Neta, GAC, dan Aion juga memakai baterai bebas nikel dan kobalt ini.
Tren dunia kini juga mengarah ke penggunaan LFP, lantaran lebih murah dari lithium ion yang katodanya mengandung nikel, kobalt, mangan/aluminium. Bahkan, raja BEV dunia asal Amerika Serikat (AS), Tesla, memakai baterai LFP buatan CATL di sejumlah model yang dijual di China, seperti Model Y. Bahkan, Tesla dan CATL berniat membangun pabrik baterai LFP di AS.
Berdasarkan laporan carnewschina.com, BYD kini menyiapkan generasi baru baterai Blade LFP dengan densitas 190 Wh per kilogram, naik tajam dari generasi saat ini 150 Wh/kg yang diperkenalkan pada 2020.
“Generasi baru baterai Blade akan lebih kompak dan bisa mengurangi penggunaan listrik per 100 kilometer,” tulis media otomotif China itu.
Saham Pilihan
Kembali ke riset Macquarie. Bank investasi Australia itu memprediksi pasokan nikel kelas dua, nickel pig iron (NPI) mengetat tahun ini. Namun, pasokan nikel kelas 1, dalam hal ini nikel sulfat dan MHP, malah meningkat. Imbasnya, harga NPI, bahan baku baja nirkarat, kemungkinan lebih tinggi, sedangkan nikel di bursa LME berpotensi turun.
Meski begitu, Macquarie menilai, kenaikan harga bijih nikel diharapkan bisa menahan kejatuhan harga nikel lebih dalam. Macquarie memprediksi support harga nikel di LME berkisar US$ 16-17 ribu per ton, berdasarkan biaya produksi NPI US$ 12 ribu per ton dan biaya konversi NPI ke nikel kelas satu US$ 4-5 ribu per ton.
Macquarie menjadikan saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel sebagai saham pilihan. Ada tiga alasannya, yakni satu-satunya emiten di BEI yang memiliki fasilitas HPAL, biaya produksi terendah dibandingkan pesaing, dan valuasi yang sudah sangat murah. Saham NCKL kini diperdagangkan PER 2025 6 kali.
Sebelumnya, BASF dan Eramet memutuskan keluar dari proyek smelter nikel penghasil bahan baku baterai mobil listrik. Alasan BASF, penjualan BEV dunia melambat dan pasokan nikel kelas satu sebagai bahan baku baterai terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Editor: Harso Kurniawan
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






