Harga Emas Mulai Kasih Tanda-tanda Pelemahan, Harganya Bisa Turun Jadi Segini
JAKARTA, investor.id - Harga emas mulai memberikan tanda-tanda pelemahan. Hal ini seiring dengan pelaku pasar menantikan rilis data Indeks Manajer Pembelian (IMP) dari China, sehingga harganya bisa turun jadi segini.
Pada pukul Senin (30/9/2024) pada pukul 10.30 WIB, harga emas berada pada 2.654,86 turun 0,13%. Sedangkan rekor tertinggi harga emas sepanjang masa (all time high/ATH) berada di level 2.685 yang dicatat pada 26 September lalu.
Analis Dupoin Indonesia Andy Nugraha mengatakan, saat ini emas berada dalam fase yang menarik. Berdasarkan indikator teknis Moving Average, tren bullish emas yang terjadi belakangan ini mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Meskipun emas menunjukkan pemulihan, namun potensi penurunan masih ada dengan target harga menuju US$ 2.624 jika tren melemah terus berlanjut.
“Saat ini, harga emas berada di titik kritis. Namun, jika rebound terjadi, harga emas bisa mencapai US$ 2.670. Namun, jika harga emas tidak menembus level support tersebut, rebound harga bisa terjadi dengan potensi kenaikan hingga US$ 2.670 sebagai target terdekat,” tegas Nugraha.
Saat ini, lanjut Nugraha, para investor menantikan rilis data Indeks Manajer Pembelian (IMP) dari China. Stimulus sebesar 1 triliun Yuan yang diumumkan oleh Politbiro China minggu lalu telah memperkuat sentimen pasar, namun pengaruhnya mulai terbatas seiring dengan perubahan kebijakan moneter global yang tidak terlalu dovish.
“Beberapa bank sentral, seperti Swiss National Bank (SNB) dan Bank of Mexico (Banxico), hanya memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, sementara Bank Sentral Sri Lanka bahkan mempertahankan suku bunga mereka tetap stabil,” tambah Nugraha.
Sementara itu, Nugraha menyebut, jajak pendapat Reuters mengindikasikan bahwa Reserve Bank of India (RBI) kemungkinan akan menurunkan suku bunga sebesar 50 basis poin dalam enam bulan mendatang. Namun, fokus pasar saat ini tertuju pada data IMP China. Prakiraan menunjukkan IMP Manufaktur China akan naik ke 49,5 di bulan September dari 49,1, sementara IMP Jasa diprediksi naik tipis ke 50,4 dari 50,3.
“Jika data ini lebih lemah dari perkiraan, hal ini bisa memberikan tekanan tambahan pada emas, mengingat China merupakan salah satu importir terbesar emas dunia,” paparnya.
Dorongan Positif
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






