Tren Bullish Harga Emas Makin Kuat, Siap-siap Tembus US$ 2.800
JAKARTA, investor.id – Tren bullish harga emas semakin menguat. Bahkan, harga emas diprediksi bersiap menembus US$ 2.800 pada Rabu (30/10/2024). Hal itu seiring dengan meningkatnya kemungkinan The Fed kembali memangkas suku bunga.
Saat berita ini ditulis, harga emas terlihat terus melaju, naik 0,26% menjadi Rp US$ 2.781,9. Bahkan, di awal sesi perdagangan, sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level US$ 2.788,6.
Analis Dupoin Indonesia Andy Nugraha mengatakan, kenaikan ini dipicu oleh data terbaru dari Survei Lowongan Kerja dan Perputaran Karyawan (JOLTS) AS yang menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja di Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran, yang mana lowongan pekerjaan mencapai angka 7,44 juta di bulan September, lebih rendah dari perkiraan yang mencapai 8 juta.
Menurut Andy, penurunan angka lowongan pekerjaan ini menambah kekhawatiran akan melambatnya pertumbuhan ekonomi AS dan dapat meningkatkan kemungkinan The Fed untuk segera memangkas suku bunga. “Kebijakan suku bunga yang lebih rendah dianggap menguntungkan emas karena aset ini tidak memberikan bunga, sehingga lebih menarik saat imbal hasil aset lain melemah,” jelas Andy.
Berdasarkan indikator Moving Average yang saat ini terbentuk, Andy mengungkapkan, tren bullish harga emas semakin menguat, dan potensi kenaikan masih terbuka hingga ke level US$ 2.800. “Namun, jika terjadi pembalikan arah (reversal), kemungkinan harga emas akan mengalami koreksi hingga ke target terdekatnya di US$ 2.763,” papar Andy.
Selain data tenaga kerja, Andy menyebut, harga emas juga mendapat dukungan dari penurunan harga minyak mentah. Harga minyak global mengalami penurunan signifikan, dengan harga Brent jatuh sekitar 6% pada hari Senin. Penurunan harga minyak ini didorong oleh laporan bahwa Israel hanya menyerang target militer di Iran, sehingga instalasi minyak dan nuklir Iran tetap aman dari serangan.
“Harga minyak yang lebih rendah berpotensi mengurangi tekanan inflasi global, karena bahan bakar merupakan salah satu komponen utama dalam biaya produksi dan transportasi,” ucap Andy.
Tekanan Inflasi
Lebih lanjut Andy mengatakan, dengan adanya tekanan inflasi yang lebih rendah, peluang bagi bank sentral, termasuk The Fed, untuk menurunkan suku bunga semakin besar. Bagi emas, yang merupakan aset yang tidak membayar bunga, kondisi suku bunga rendah akan semakin meningkatkan daya tariknya bagi para investor.
Selain faktor ekonomi, Andy menambahkan, ketegangan geopolitik juga memperkuat arus safe haven ke emas. Konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah serta eskalasi perang di Ukraina telah memicu sentimen ketidakpastian di kalangan investor. Terlebih lagi, berita bahwa Korea Utara telah mengirim pasukan untuk mendukung Rusia dalam konflik Ukraina menambah tekanan di pasar global.
“Kondisi geopolitik yang penuh ketidakpastian ini meningkatkan daya tarik emas sebagai aset yang relatif aman dalam situasi krisis,” paparnya.
Andy menilai, konflik yang berlarut-larut di kawasan Timur Tengah dan ketegangan yang semakin memanas di Eropa Timur akan terus mendukung permintaan emas sebagai aset safe haven. "Investor saat ini mengalihkan sebagian besar portofolio mereka ke emas sebagai langkah antisipasi dari kemungkinan eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut," jelasnya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






