Jumat, 15 Mei 2026

BBCA hingga GOTO Jadi Pilihan Taktis untuk Kuartal I

Penulis : Jauhari Mahardhika
4 Feb 2025 | 15:13 WIB
BAGIKAN
Pengunjung berada di galeri BEI, Jakarta. (Investor Daily/David Gita Roza)
Pengunjung berada di galeri BEI, Jakarta. (Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id – Perang dagang II mereda, namun tetap ada. Sentimen tersebut masih akan kuat memengaruhi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Sejumlah saham bisa menjadi pilihan taktis untuk kuartal I-2025, mulai dari saham BBCA hingga GOTO.

Seperti diberitakan, Presiden AS Donald Trump menunda penerapan tarif impor sebesar 25% untuk Kanada dan Meksiko selama 30 hari, seiring berlangsungnya negosiasi untuk meningkatkan upaya penegakan hukum di perbatasan negara-negara tersebut dengan Amerika Serikat (AS).

Sedangkan tambahan tarif impor sebesar 10% untuk China bakal berlaku sesuai jadwal, yaitu mulai Selasa (4/2/2025) waktu setempat.

ADVERTISEMENT

BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya mengungkapkan bahwa risiko eksternal mengintai, tapi kondisi domestik yang membaik dapat menjadi pelindung. Kondisi saat ini berbeda dengan tahun 2018 atau saat perang dagang I. Defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia kini dalam kondisi lebih baik, yakni -0,6% dari produk domestik bruto (PDB) per kuartal III-2024.

“Tim makro kami juga mencatat pergeseran yang signifikan melalui disiplin fiskal, terlebih adanya pemangkasan suku bunga BI baru-baru ini, yang menandakan pergeseran kebijakan ke arah pro-pertumbuhan,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Wilastita Muthia Sofi dalam risetnya.

Selain itu, imbal hasil (yield) Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI terus turun. Rata-rata yield SRBI turun menjadi 6,71% atau berada di bawah level setelah pemangkasan suku bunga BI pada September 2024. Ini berpotensi meningkatkan likuiditas.

Sebagai informasi, selama perang dagang I pada 2018-2019, rupiah anjlok sekitar 15% dan yield obligasi melebar. Hal itu dipicu oleh depresiasi yuan serta kekhawatiran atas defisit transaksi berjalan Indonesia yang mencapai -3,7% dari PDB pada kuartal IV-2018 di tengah memburuknya neraca perdagangan.

Sementara itu, selama periode Februari-Oktober 2018, IHSG ambles 11%. Beberapa sektor mencatatkan kinerja terburuk, di antaranya sektor media (-39%) dan properti (-36%). Sedangkan sektor yang mencetak kinerja lebih baik dibandingkan pasar, antara lain sektor teknologi (+52%) dan perunggasan (+42%).

Rekomendasi dan Target Harga Saham 

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 11 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 43 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 54 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 58 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia