BBCA hingga GOTO Jadi Pilihan Taktis untuk Kuartal I
JAKARTA, investor.id – Perang dagang II mereda, namun tetap ada. Sentimen tersebut masih akan kuat memengaruhi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Sejumlah saham bisa menjadi pilihan taktis untuk kuartal I-2025, mulai dari saham BBCA hingga GOTO.
Seperti diberitakan, Presiden AS Donald Trump menunda penerapan tarif impor sebesar 25% untuk Kanada dan Meksiko selama 30 hari, seiring berlangsungnya negosiasi untuk meningkatkan upaya penegakan hukum di perbatasan negara-negara tersebut dengan Amerika Serikat (AS).
Sedangkan tambahan tarif impor sebesar 10% untuk China bakal berlaku sesuai jadwal, yaitu mulai Selasa (4/2/2025) waktu setempat.
BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya mengungkapkan bahwa risiko eksternal mengintai, tapi kondisi domestik yang membaik dapat menjadi pelindung. Kondisi saat ini berbeda dengan tahun 2018 atau saat perang dagang I. Defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia kini dalam kondisi lebih baik, yakni -0,6% dari produk domestik bruto (PDB) per kuartal III-2024.
“Tim makro kami juga mencatat pergeseran yang signifikan melalui disiplin fiskal, terlebih adanya pemangkasan suku bunga BI baru-baru ini, yang menandakan pergeseran kebijakan ke arah pro-pertumbuhan,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Wilastita Muthia Sofi dalam risetnya.
Selain itu, imbal hasil (yield) Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI terus turun. Rata-rata yield SRBI turun menjadi 6,71% atau berada di bawah level setelah pemangkasan suku bunga BI pada September 2024. Ini berpotensi meningkatkan likuiditas.
Sebagai informasi, selama perang dagang I pada 2018-2019, rupiah anjlok sekitar 15% dan yield obligasi melebar. Hal itu dipicu oleh depresiasi yuan serta kekhawatiran atas defisit transaksi berjalan Indonesia yang mencapai -3,7% dari PDB pada kuartal IV-2018 di tengah memburuknya neraca perdagangan.
Sementara itu, selama periode Februari-Oktober 2018, IHSG ambles 11%. Beberapa sektor mencatatkan kinerja terburuk, di antaranya sektor media (-39%) dan properti (-36%). Sedangkan sektor yang mencetak kinerja lebih baik dibandingkan pasar, antara lain sektor teknologi (+52%) dan perunggasan (+42%).
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






