Pergerakan Harga Emas jadi Sinyal Kondisi Ekonomi Global
JAKARTA, investor.id - Pengamat di bank investasi ternama Amerika Serikat, Morgan Stanley memperkirakan harga emas dunia akan melanjutkan kenaikan hingga sekitar 5% di tahun 2025.
Dikutip dari Kitco News, Jumat (12/9/2025) Morgan Stanley memproyeksi nilai logam mulia tersebut akan mencapai puncak di level US$ 3.800 per ons pada akhir 2025.
"Emas memang cenderung berkinerja lebih baik setelah pemangkasan suku bunga The Fed, dan kami akan tetap memilih emas daripada perak, tetapi prospek kami untuk kedua logam tersebut tetap positif," kata Ahli Strategi Komoditas Logam & Pertambangan di Morgan Stanley, Amy Gower.
Gower menyoroti peran emas yang lebih dari sekadar aset safe haven, dengan pergerakan harganya menjadi sinyal bag investor tentang kondisi ekonomi dan pasar keuangan global.
“Emas selalu menjadi aset andalan di masa ketidakpastian. Namun pada tahun 2025, perannya terus berkembang. Investor mengamati emas bukan hanya sebagai lindung nilai terhadap inflasi, tetapi juga sebagai barometer untuk segala hal, mulai dari kebijakan bank sentral hingga risiko geopolitik," bebernya.
“Ketika harga emas bergerak, seringkali itu merupakan tanda bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi di bawah permukaan," lanjut Gower.
Ia pun membocorkan beberapa faktor kunci yang mendorong kenaikan harga emas, yang telah menanjak lebih dari 38% sepanjang tahun 2025.
Faktor pertama, adalah pembelian emas yang kuat oleh bank-bank sentral global. Bahkan, logam mulia kini mewakili porsi cadangan bank sentral yang lebih besar daripada obligasi pemerintah AS untuk pertama kalinya sejak 1996.
"Ini merupakan tanda kepercayaan yang kuat terhadap nilai emas dalam jangka panjang," jelas dia.
"Dengan inflasi yang masih di atas target di banyak negara ekonomi utama, daya tarik emas secara mengejutkan tetap kuat meskipun merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil. Dan investor bertaruh bahwa bank sentral mungkin akan segera memangkas suku bunga, yang dapat semakin mendongkrak harga emas," imbuh Gower.
Namun, Gower juga mencatat, ada satu hal penting yang perlu dipertimbangkan. Menurutnya, meskipun emas dipandang sebagai lindung nilai dan aset safe haven di tengah ketidakpastian makro, perhiasan merupakan bagian besar dari keseluruhan pasar logam mulia.
"Perhiasan menyumbang 40 persen permintaan emas dan 34 persen permintaan perak. Dan saat ini, bagaimana permintaan perhiasan akan berkembang masih belum diketahui," tambah Gower.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






