Minggu, 21 Juni 2026

Harga Emas Bisa Lampaui US$ 3.700, Siap-siap!

Penulis : Natasha Khairunisa Amani
16 Sep 2025 | 14:00 WIB
BAGIKAN
ilustrasi perdagangan emas 
Sumber; AP
ilustrasi perdagangan emas Sumber; AP

JAKARTA, investor.id - Harga emas dunia terus mencetak rekor baru, dengan kenaikan dalam beberapa hari terakhir mendorong nilai logam mulia mendekati level US $ 3.700 per ons.

Dikutip dari Kitco News, Selasa (16/9/2025) Direktur Strategi ETF di manajer investasi Aberdeen, Robert Minter mengungkapkan bahwa harga emas berada di jalur yang tepat untuk mencapai level US$ 3.700 per ons di akhir tahun.

Namun, Minter juga melihat, harga emas juga dapat terus meningkat jika Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin.

“The Federal Reserve memiliki peluang untuk mengambil langkah proaktif yang dramatis dan memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin,” ungkap Minter dalam wawancara dengan Kitco. Menurutnya, kenaikan suku bunga tersebut dapat memberi momentum pada harga emas.

Sentimen pendorong pada kenaikan harga emas juga termasuk kekhawatiran seputar kondisi ekonomi AS juga disertai dengan ketegangan antara pemerintahan Presiden Presiden Donald Trump terhadap The Fed, yang tengah didesak untuk segera menurunkan suku bunga.

Adapun pendorong lainnya pada lonjakan harga emas baru-baru ini, yaitu rilis Biro Statistik Tenaga Kerja menunjukkan angka ketenagakerjaan AS yang lemah, termasuk klaim pengangguran dan pertumbuhan lapangan kerja musim panas yang lambat. Hal ini memperbesar kemungkinan langkah agresif The Fed pada 16-17 September mendatang.

Bahkan tanpa pemangkasan suku bunga yang signifikan, Minter memperkirakan The Fed masih dapat mengirimkan sinyal kuat dengan memproyeksikan siklus pelonggaran yang berkepanjangan hingga tahun 2026, dalam prospek ekonomi yang diperbarui. Hal itu, tambahnya, juga dapat mendorong harga emas melampaui level US 3.700.

“Pemotongan sebesar 50 basis poin secara tradisional dianggap sebagai langkah panik, tetapi mereka memiliki alasan dengan data untuk mengambil langkah yang lebih besar, dan mereka dapat keluar dan mengatakan bahwa mereka berusaha untuk mengantisipasi ancaman resesi apa pun," paparnya.

"Tidak diragukan lagi bahwa suku bunga harus turun. Imbal hasil dua tahun menunjukkan bahwa suku bunga dana The Fed 100 basis poin terlalu tinggi," jelas Minter.

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 30 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 1 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 8 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia