Isi Proposal OJK ke MSCI: Transparansi Kepemilikan 1% Berlaku Februari, Free Float Maret
JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempercepat implementasi sejumlah regulasi kunci yang menjadi perhatian penyedia indeks global, MSCI. Langkah ini dilakukan untuk memastikan Indonesia tetap kompetitif dalam penilaian pasar global dan mampu mempertahankan aliran dana asing yang menguat sejak 2025.
Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari, mengatakan bahwa seluruh permintaan MSCI sudah disampaikan dalam bentuk proposal. Namun, MSCI menekankan pentingnya realisasi, bukan sekadar rencana.
“Semua yang diminta MSCI sudah kami sampaikan dalam proposal. Tetapi mereka tidak hanya ingin proposal, melainkan realisasi dari action plan yang telah kita susun,” ujar Friderica di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada Senin (2/2/2026).
Baca Juga:
MSCI Apresiasi Respons Kilat OJK dan SRO1. Keterbukaan Kepemilikan Saham Diturunkan Jadi 1% Februari 2026
Salah satu poin reformasi paling krusial adalah penurunan batas keterbukaan informasi pemegang saham dari 5% menjadi 1%, yang menjadi syarat penting bagi peningkatan transparansi pasar.
“Data kepemilikan saham yang sebelumnya terbuka untuk batas 5% kini menjadi 1%. Bahkan Februari ini sudah bisa diterapkan,” katanya.
Kebijakan ini diharapkan memperbaiki kualitas data pasar, mempersempit ruang bagi transaksi tidak wajar, serta meningkatkan kepercayaan investor global.
2. Aturan Free Float Paling Lambat Terbit Maret 2026
Selain transparansi kepemilikan, OJK juga memfinalisasi ketentuan peningkatan minimum free float dari 7,5% menjadi 15%. Reformasi ini bertujuan memperbesar likuiditas saham-saham di Bursa Efek Indonesia agar memenuhi standar pasar maju MSCI.
“Ketentuan peningkatan free float kita targetkan bisa keluar pada Maret. Jika tidak, paling lambat tetap di bulan itu,” jelas Friderica.
Kebijakan ini diyakini akan berdampak pada sejumlah emiten dengan free float kecil dan berpotensi mendorong aksi korporasi seperti divestasi maupun penawaran saham tambahan.
3. Granularitas Data Pasar Ditingkatkan
OJK juga memperbaiki granularitas data pasar yang sering menjadi sorotan MSCI, termasuk detail statistik transaksi, fragmentasi order, dan kategori kepemilikan.
“Untuk granularitas data, kami perkirakan butuh waktu sampai Maret,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa peningkatan detail data akan memperkuat kredibilitas pasar Indonesia dan membuka peluang naik kelas dalam pemeringkatan MSCI.
Reformasi ini menjadi krusial mengingat aliran dana asing ke pasar modal Indonesia terus bertambah sejak 2025, terutama di saham berkapitalisasi besar dan Surat Utang Negara (SUN). Kepatuhan pada standar MSCI menjadi faktor penting dalam mempertahankan sentimen positif tersebut.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






