ANTM dan NCKL Jadi Bidikan Utama
JAKARTA, investor.id – Rekomendasi untuk sektor pertambangan logam (emas, nikel, timah, dan lain-lain) dinaikkan menjadi overweight. Lantas, saham mana yang menjadi pilihan prioritas? Apakah saham ANTM, NCKL, TINS, atau INCO?
“Rekomendasi overweight didukung oleh dinamika margin yang diperkirakan membaik pada kuartal IV-2025 (4Q25), serta visibilitas laba yang lebih kuat menuju 2026 di tengah prospek pasokan nikel yang lebih disiplin,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey dan Naura Reyhan Muchlis dalam risetnya, Jumat (13/2/2026).
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan terjadi perbaikan laba di sektor pertambangan logam – emas, nikel, timah, dan lain-lain – pada 4Q25. Ini terutama didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) dan ekspansi margin, bukan oleh pertumbuhan volume yang agresif.
“Kenaikan ASP pada berbagai komoditas berbasis nikel (+0,1-1,1% qoq), termasuk kenaikan sekitar 0,5% qoq pada bijih nikel saprolit (kadar 1,6%), menopang ekspansi margin,” jelas Andhika.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan laba PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam tetap solid, mencapai 109% dari estimasi BRI Danareksa Sekuritas dan 110% dari estimasi konsensus.
Hal itu ditopang oleh kontribusi yang kuat dari segmen nikel, meskipun volume penjualan emas Antam (ANTM) diperkirakan lebih lemah pada 4Q25.
BRI Danareksa Sekuritas juga fokus pada PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), yang menunjukkan pemulihan operasional secara signifikan, terutama dari dimulainya kembali segmen HGNM (high grade nickel matte).
Pemulihan tersebut ditopang oleh peningkatan ASP sekitar 5% yoy, serta penurunan biaya tunai sebesar 9% yoy, yang mendorong perbaikan margin MBMA.
Memasuki 2026, kebijakan pemerintah – khususnya rencana pemangkasan produksi nikel sebesar 34% yoy menjadi sekitar 250 juta wmt – berpotensi menjadi katalis utama bagi saham-saham logam berbasis nikel.
“Dalam laporan kami sebelumnya mengenai PT Vale Indonesia Tbk (INCO), kami menyoroti potensi perubahan struktural pasar nikel global dari surplus sekitar 107 kt menjadi defisit 705 kt,” ungkap Andhika.
Rekomendasi Saham dan Target Harga
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






