Minggu, 21 Juni 2026

ANTM dan NCKL Jadi Bidikan Utama

Penulis : Jauhari Mahardhika
13 Feb 2026 | 21:37 WIB
BAGIKAN
Kegiatan usaha PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel. (Foto: NCKL)
Kegiatan usaha PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel. (Foto: NCKL)

JAKARTA, investor.id – Rekomendasi untuk sektor pertambangan logam (emas, nikel, timah, dan lain-lain) dinaikkan menjadi overweight. Lantas, saham mana yang menjadi pilihan prioritas? Apakah saham ANTM, NCKL, TINS, atau INCO?

“Rekomendasi overweight didukung oleh dinamika margin yang diperkirakan membaik pada kuartal IV-2025 (4Q25), serta visibilitas laba yang lebih kuat menuju 2026 di tengah prospek pasokan nikel yang lebih disiplin,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey dan Naura Reyhan Muchlis dalam risetnya, Jumat (13/2/2026).

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan terjadi perbaikan laba di sektor pertambangan logam – emas, nikel, timah, dan lain-lain – pada 4Q25. Ini terutama didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) dan ekspansi margin, bukan oleh pertumbuhan volume yang agresif.

ADVERTISEMENT

“Kenaikan ASP pada berbagai komoditas berbasis nikel (+0,1-1,1% qoq), termasuk kenaikan sekitar 0,5% qoq pada bijih nikel saprolit (kadar 1,6%), menopang ekspansi margin,” jelas Andhika.

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan laba PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam tetap solid, mencapai 109% dari estimasi BRI Danareksa Sekuritas dan 110% dari estimasi konsensus.

Hal itu ditopang oleh kontribusi yang kuat dari segmen nikel, meskipun volume penjualan emas Antam (ANTM) diperkirakan lebih lemah pada 4Q25.

BRI Danareksa Sekuritas juga fokus pada PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), yang menunjukkan pemulihan operasional secara signifikan, terutama dari dimulainya kembali segmen HGNM (high grade nickel matte).

Pemulihan tersebut ditopang oleh peningkatan ASP sekitar 5% yoy, serta penurunan biaya tunai sebesar 9% yoy, yang mendorong perbaikan margin MBMA.

Memasuki 2026, kebijakan pemerintah – khususnya rencana pemangkasan produksi nikel sebesar 34% yoy menjadi sekitar 250 juta wmt – berpotensi menjadi katalis utama bagi saham-saham logam berbasis nikel.

“Dalam laporan kami sebelumnya mengenai PT Vale Indonesia Tbk (INCO), kami menyoroti potensi perubahan struktural pasar nikel global dari surplus sekitar 107 kt menjadi defisit 705 kt,” ungkap Andhika.

Rekomendasi Saham dan Target Harga 

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 30 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 1 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 8 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia