Harga Batu Bara Menguat, Ditopang Sentimen dari China, AS, dan Rusia
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara mayoritas menguat pada Senin (16/2/2026). Penguatan itu ditopang restrukturisasi industri di China, dukungan kebijakan energi Presiden Donald Trump di AS, serta gangguan pasokan Rusia dan Indonesia yang memicu kekhawatiran pasar global.
Harga batu bara Newcastle untuk Februari 2026 turun US$ 0,45% ke level US$ 116,25 per ton. Sedangkan Maret 2026 naik US$ 0,2 menjadi US$ 120,1 per ton. Sementara itu, April 2026 terkerek US$ 0,05 menjadi US$ 120,1 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Februari 2026 melejit US$ 0,5 menjadi US$ 105,35. Sedangkan, Maret 2026 menguat US$ 0,3 menjadi US$ 107,35. Sedangkan pada April 2026 terkerek US$ 0,3 menjadi US$ 106,5.
Dikutip dari Trading Economics, Kenaikan ini dipicu langkah restrukturisasi sektor batu bara di China serta dukungan kebijakan energi dari Presiden Donald Trump di Amerika Serikat (AS).
Penguatan harga terjadi setelah regulator menyetujui rencana akuisisi besar oleh China Shenhua Energy Co senilai sekitar US$19 miliar dari induknya, China Energy Investment Corp.
Aset yang diambil mencakup proyek batu bara menjadi kimia, tambang, pembangkit listrik, hingga jaringan logistik. Langkah ini akan memperkuat integrasi vertikal dan meningkatkan efisiensi rantai pasok, sekaligus mendongkrak kapasitas produksi batu bara Shenhua menjadi 512 juta ton per tahun.
Restrukturisasi tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya China merapikan industri batu bara di tengah indikasi konsumsi domestik yang mulai mencapai puncaknya. Konsolidasi ini juga memperkuat posisi perusahaan besar dalam menjaga stabilitas pasokan dan efisiensi biaya.
Di sisi lain, pemerintah AS mengambil langkah untuk menopang sektor pembangkit listrik berbasis batu bara yang mulai tertekan. Presiden Donald Trump mengalokasikan dana federal sebesar US$ 175 juta untuk meningkatkan fasilitas enam pembangkit, serta menginstruksikan Departemen Pertahanan AS membeli listrik dari lebih banyak pembangkit batu bara.
Kombinasi restrukturisasi industri di China dan dukungan kebijakan di Amerika Serikat memperkuat sentimen bullish di pasar batu bara global. Pelaku pasar kini melihat langkah tersebut sebagai sinyal bahwa batu bara masih memainkan peran penting dalam bauran energi global, meski tekanan transisi energi bersih terus meningkat.
Sementara itu, Energy News Beat melaporkan, harga batu bara menguat didorong oleh serangan drone Ukraina terhadap pusat ekspor batu bara utama Rusia di Laut Hitam serta kendala pasokan baru dari Indonesia, eksportir batu bara termal terbesar di dunia.
Pelabuhan Rusia Diiserang
Serangan terhadap pelabuhan Taman, yang menangani lebih dari 1 juta ton batu bara per bulan, memicu kekhawatiran gangguan ekspor Rusia dalam jangka pendek, sehingga meningkatkan volatilitas di pasar global yang sudah tertekan.
Pelabuhan Taman, yang terletak di wilayah Krasnodar, Rusia, diserang pada akhir pekan, menyebabkan kerusakan pada tangki penyimpanan minyak, gudang, dan terminal di desa Volna yang berada di dekatnya.
Kebakaran berlangsung hingga Minggu dan melukai dua orang, meskipun pihak berwenang melaporkan api berhasil dipadamkan pada Senin. Selain mengangkut minyak dan gandum, pelabuhan ini memainkan peran penting dalam ekspor batu bara Rusia ke Eropa dan wilayah lainnya.
Ketegangan geopolitik ini muncul di tengah tekanan yang lebih luas di pasar batu bara global, termasuk proyeksi penurunan 5% perdagangan batu bara laut global menjadi 1,47 miliar ton pada 2025. Penurunan ini akan menjadi kontraksi beruntun pertama dalam lebih dari dua dekade.
Meski demikian, gangguan pasokan seperti ini menegaskan bahwa batu bara masih berperan penting sebagai sumber energi transisi di tengah kekhawatiran keamanan energi.
tu bara tetap menjadi pilar utama bauran energi global, menyumbang sekitar 35% produksi listrik dunia meskipun ada dorongan dekarbonisasi. Perdagangan batu bara laut mencapai rekor 1,54 miliar ton pada 2024, namun diperkirakan menurun seiring melemahnya permintaan di pasar utama Asia.
Asia menyerap sekitar 60% impor batu bara global, dengan China dan India menyumbang hampir setengah dari volume batu bara termal. Permintaan Eropa menunjukkan pemulihan terbatas akibat rendahnya produksi energi terbarukan, namun secara keseluruhan perdagangan global cenderung menurun karena negara-negara importir meningkatkan produksi domestik mereka.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






