Pakar Ungkap Penyebab Reli Harga Emas Terhenti
JAKARTA, investor.id - Para analis aenior di bank ternama asal Amerika Serikat, J.P Morgan mengungkapkan dua tren berisiko yang dapat memberhentikan reli harga emas.
Direktur Eksekutif J.P Morgan Private Bank, Kriti Gupta dan Ahli Strategi Investasi Global JP Morgan, Justin Biemann menyebut bahwa reli harga emas dapat terhenti jika bank-bank sentral global menghentikan lonjakan pembelian.
“Penggerak terbesar harga emas adalah bank sentral,” ungkap Gupta dan Biemann dalam sebuah catatan, dikutip dari Kitco News, Rabu (18/2/2026).
Gupta dan Biemann menyoroti pembelian bersih emas telah berlipat ganda sejak konflik antara Rusia dan Ukraina pecah pada tahun 2022. Sejak saat itu, bank-bank sentral global telah memicu permintaan emas dalam upaya untuk mendiversifikasi cadangan dari dolar AS setelah AS membekukan aset Rusia.
Saat ini, Amerika Serikat, Jerman, Italia, Prancis, dan Rusia menjadi salah satu pemegang emas terbesar selain IMF.
“Bagaimana jika permintaan struktural dari bank sentral global itu melemah? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika mereka ingin menjual komoditas itu secara langsung?," ujar Gupta dan Biemann.
Mereka memaparkan, tren lonjakan pembelian emas pernah terhenti pada tahun 1999 hingga 2002, saat Inggris melakukan serangkaian lelang publik untuk menjual lebih dari 50% kepemilikan emasnya dan mendiversifikasi cadangannya ke mata uang asing.
Pada waktu yang sama, Swiss saat itu juga memilih untuk memisahkan franc Swiss dari emas.
“Secara teori, itu berarti penjualan masih mungkin terjadi. Begitu pula dengan permintaan yang mencapai titik jenuh. Namun, hal itu tidak akan terjadi. Setidaknya, tidak dalam waktu dekat," kata mereka.
Risiko Lainnya pada Reli Harga Emas
Gupta dan Biemann melanjutkan, risiko kedua terhadap kenaikan harga emas adalah kemungkinan investor ritel berpaling dari logam mulia tersebut.
“Jangan lupakan investor ritel. Mereka juga telah berbondong-bondong membeli emas," kata Gupta dan Biemann.
Mereka menyebut, para pembeli emas dari ritel sering membangun posisi logam mulia sebagai lindung nilai terhadap meningkatnya risiko geopolitik dan ketidakpastian makro. Namun, meskipun pola ini jelas berkontribusi pada apresiasi harga emas, masih ada sisi lain.
“Investor baru dapat melepaskan emas secepat mereka membelinya jika risiko mereda atau muncul lindung nilai lain. Volatilitas di akhir Januari menggambarkan gambaran yang jelas. Harga emas melonjak 20% dalam seminggu sebelum anjlok dengan margin yang sama dalam dua hari. Beberapa investor akan menunjuk episode ini sebagai contoh investor jangka pendek yang mendorong harga," jelas Gupta dan Biemann.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






