Rupiah Dihantui Risiko Tekanan Imbas Perang AS-Israel vs Iran
JAKARTA, investor.id - Ekonom mengingatkan, menanasnya konflik di Timur Tengah akibat serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran berpotensi menekan stabilitas pasar keuangan domestik, terutama pelemahan nilai tukar rupiah (IDR) dan meningkatnya arus modal keluar dari pasar negara berkembang.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan bahwa peningkatan ketegangan geopolitik global umumnya memicu pergeseran portofolio investor dari aset berisiko (risk assets) ke aset safe haven seperti dolar AS (USD) dan obligasi pemerintah AS. Kondisi ini membuat arus modal ke emerging markets berpotensi melemah dalam jangka pendek.
Baca Juga:
Meneropong Pergerakan Rupiah Pekan Depan"Dampaknya bagi Indonesia umumnya muncul sebagai tekanan arus modal keluar, pelemahan rupiah, dan kenaikan imbal hasil surat berharga negara karena investor meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi," kata Josua saat dihubungi B-Universe, dikutip pada Senin (2/3/2026).
Ia menjelaskan, pada fase awal eskalasi, pelemahan rupiah biasanya masih terbatas apabila pelaku pasar menilai konflik bersifat temporer dan tidak meluas. Namun tekanan dapat meningkat signifikan jika konflik berlarut-larut atau memicu gangguan serius pada rantai pasok energi global.
Ketegangan yang mendorong penguatan dolar AS secara luas dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS juga dapat mengurangi daya tarik aset keuangan domestik. Selisih imbal hasil (yield spread) yang menyempit serta meningkatnya premi risiko membuat investor global cenderung melakukan penyesuaian portofolio.
"Tekanan dapat membesar bila konflik berlarut atau meluas dan mendorong penguatan dolar serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat," jelasnya.
Menurut Josua, pemerintah perlu memprioritaskan stabilitas energi dan makroekonomi melalui penguatan stabilitas rupiah dalam merespons eskalasi konflik geopolitik global. Langkah jangka pendek yang krusial adalah memastikan ketersediaan pasokan energi sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan daya beli masyarakat.
Di saat yang sama, pemerintah juga perlu mengantisipasi kenaikan inflasi impor akibat lonjakan harga energi dan biaya logistik global. “Penataan belanja subsidi juga harus lebih tepat sasaran agar kelompok rentan tetap terlindungi, tanpa mengorbankan kredibilitas fiskal,” sambungnya.
Ketahanan Rantai Pasok jadi Perhatian
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan
Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.Banjir Setinggi 30-80 cm Rendam Sejumlah Wilayah di Tangerang Selatan
Hujan deras yang mengguyur sejak pagi membuat sejumlah wilayah di Tangerang Selatan terendam banjir dengan ketinggian 30-80 cm.Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial
Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun
Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026
PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru
Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.Tag Terpopuler
Terpopuler






