Saham BBCA Lebih Murah dari Zaman Covid-19
JAKARTA, investor.id - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA kembali melemah 1,05% ke Rp 7.100 per akhir sesi I perdagangan Senin (2/3/2026).
Sebanyak 83,09 juta saham BCA diperdagangkan, frekuensi 33.530 kali, dan nilai transaksi Rp 587,78 miliar.
Meski memerah, berdasarkan data pada aplikasi Stockbit Sekuritas, saham BBCA membukukan net buy Rp 53,9 miliar.
Saham BBCA sendiri selalu berada di zona merah sejak 26 Februari 2026 pekan lalu. Dalam sebulan terakhir, saham ini anjlok 4,05% gara-garanya investor asing membukukan net sell mencapai Rp 10,68 triliun.
Sebelumnya, KB Valbury Sekuritas dalam risetnya tetap melihat peluang re-rating atau peningkatan valuasi pada saham BCA (BBCA), meski kepercayaan pasar dalam jangka pendek diperkirakan masih lemah dan dapat berlangsung cukup lama.
Peluang re-rating itu bakal didukung oleh penurunan biaya dana, imbal hasil kredit yang relatif stabil, rasio efisiensi (CIR) yang tetap solid, pertumbuhan pendapatan non-bunga (non-II), serta cadangan kerugian kredit yang masih terkendali. Ini diperkirakan mampu menopang laba BBCA tahun 2026.
Selain itu, tekanan jual yang sempat terjadi belakangan ini membuat saham BBCA diperdagangkan pada valuasi yang lebih rendah dibandingkan periode pandemi Covid-19.
KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 11.080. Target tersebut berdasarkan metode Gordon Growth Model (GGM).
Baca Juga:
Bocoran Dividen Telkom (TLKM)Target harga saham BBCA setara dengan proyeksi price to book value (P/B) 2026 sebesar 4,1 kali. Saat ini, saham BBCA diperdagangkan pada P/B sebesar 2,7 kali. Dengan begitu, valuasi BBCA dinilai relatif menarik.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






