Perang Pecah, Harga Minyak dan Emas Dunia Meroket Akibat Konflik di Selat Hormuz
JAKARTA, investor.id – Ketegangan hebat di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi dan komoditas global. Operasi militer yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran sejak Sabtu (28/2/2026), memicu kenaikan drastis harga minyak mentah dan emas sebagai aset aman (safe haven).
Kondisi diperparah dengan serangan terhadap sedikitnya tiga kapal di Selat Hormuz, jalur krusial yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Laporan dari UK Maritime Trade Operations (UKMTO) yang dikutip Financial Times mengonfirmasi dua kapal terkena serangan, sementara satu ledakan besar terjadi dekat dengan kapal ketiga. Akibatnya, biaya asuransi pengiriman melonjak dan lalu lintas maritim dilaporkan sempat lumpuh total.
Harga Minyak dan Emas Melambung
Pada perdagangan Senin (2/3/2026), harga minyak mentah jenis Brent sempat melonjak hingga 10% di pasar Asia. Hingga pukul 05:00 GMT, harga bertahan di level US$ 76,16 per barel atau naik sekitar 4%.
Sektor logam mulia pun tak ketinggalan. Para investor yang mengantisipasi konflik berkepanjangan mulai mengalihkan aset mereka ke emas. Harga emas dunia tercatat naik 1,4% menjadi US$ 5.350 per ons.
AS dan Israel mengumumkan serangan udara mereka telah menewaskan sejumlah tokoh penting di Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Menanggapi hal tersebut, Iran melancarkan serangan balasan di berbagai titik di Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump dalam wawancaranya dengan media Inggris pada Senin memperkirakan fase aktif konflik ini dapat berlangsung setidaknya selama empat minggu ke depan.
Upaya OPEC+ dan Ancaman Harga BBM
Merespons gejolak pasar, aliansi OPEC+, termasuk Arab Saudi dan Rusia, sepakat untuk meningkatkan produksi harian sebesar 206.000 barel guna meredam lonjakan harga. Namun, para analis memperingatkan langkah ini hanya memberikan dampak terbatas.
"Pasar sedang menunggu kejelasan mengenai dibukanya kembali jalur Selat Hormuz. Jika konflik berlarut-larut, harga minyak bisa menembus di atas US$ 100," ujar Kepala Riset Energi di MST Research Saul Kavonic.
Presiden Asosiasi Otomotif Inggris Edmund King juga memperingatkan kenaikan harga minyak mentah ini akan segera berdampak pada harga bensin di SPBU. "Besaran kenaikannya akan sangat bergantung pada seberapa lama konflik ini berlangsung," pungkasnya.
Mengapa Selat Hormuz Begitu Vital?
Selat Hormuz merupakan titik nadi (chokepoint) paling kritis dalam industri energi global. Selat sempit yang memisahkan Teluk Oman dan Teluk Persia ini menjadi satu-satunya jalur laut bagi eksportir minyak mentah terbesar dunia, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Irak.
Secara historis, setiap gangguan di Selat Hormuz selalu memicu kepanikan pasar global karena tidak adanya jalur alternatif yang sepadan untuk mengalirkan jutaan barel minyak per hari. Ketegangan yang terjadi saat ini merupakan eskalasi terbesar sejak awal dekade, yang menggabungkan serangan militer darat-udara dengan sabotase maritim.
Bagi Indonesia, gejolak di kawasan ini tidak hanya memengaruhi harga BBM nonsubsidi di dalam negeri, tetapi juga menekan neraca perdagangan akibat membengkaknya biaya impor migas. Meskipun posisi perdagangan bilateral langsung dengan Iran relatif kecil, efek domino pada rantai pasok global dan inflasi energi menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai pemerintah.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






