Harga Emas Meledak, Perang Meluas
Analis SP Angel menilai, meningkatnya fragmentasi geopolitik mendorong bank sentral negara-negara BRICS mengurangi eksposur terhadap aset berdenominasi dolar AS dan beralih ke emas. Tren ini diperkirakan berlanjut dalam waktu dekat.
Sementara itu, BNP Paribas memperkirakan permintaan investasi emas fisik akan menjadi salah satu pendorong utama harga emas sepanjang tahun ini.
Emas yang dikenal sebagai aset lindung nilai saat ketidakpastian telah mencetak sejumlah rekor baru dan melonjak hampir 23% sepanjang tahun berjalan.
Reli harga emas ini melanjutkan kenaikan spektakuler sebesar 64% pada 2025, yang didorong oleh pembelian masif bank sentral, arus dana besar ke exchange-traded fund (ETF), serta pergeseran kebijakan moneter AS ke arah yang lebih longgar.
Namun, dampak konflik juga mulai terasa di pasar fisik. Tiga sumber industri logam menyebut arus keluar-masuk emas fisik melalui pusat perdagangan emas Dubai akan terganggu dalam beberapa hari ke depan. Terlebih, sejumlah maskapai membatalkan penerbangan akibat situasi keamanan yang memburuk.
Dari sisi data ekonomi, pelaku pasar pekan ini akan mencermati laporan ketenagakerjaan AS, termasuk data ADP employment, klaim pengangguran mingguan, serta laporan non-farm payrolls yang kerap menjadi indikator arah kebijakan suku bunga.
Berbeda dengan emas, harga perak spot justru anjlok parah 3,46% ke US$ 90,54 per ons setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 30 Januari.
Harga platinum jatuh 2,28% ke US$ 2.314,27 per ons, sedangkan palladium melemah 0,28% ke US$ 1.783,18 per ons.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






