Minggu, 21 Juni 2026

Harga Emas Bisa Naik Terbatas Gara-gara Ini

Penulis : Natasha Khairunisa
5 Mar 2026 | 11:30 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi emas batangan. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)
Ilustrasi emas batangan. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

JAKARTA, investor.id - Perang antara Amerika Serikat, Israel dan Iran telah mendorong permintaan aset safe haven yang berkelanjutan terhadap emas.

Namun, seorang ahli strategi pasar menilai pergerakan harga emas saat ini dapat mengindikasikan bahwa logam mulia tersebut membutuhkan lebih banyak waktu untuk berkonsolidasi karena aset safe-haven lainnya masih undervalued.

Dikutip dari Kitco News, Kamis (5/3/2026) Kepala Ahli Strategi Pasar di MarketGauge, Michele Schneider mengatakan bahwa ia tidak melihat momentum yang cukup untuk harga emas menembus resistensi US$ 5.400 per troy ons.

ADVERTISEMENT

Seperti diketahui, harga emas sempat mengalami tekanan jual yang signifikan sehingga menguji support di kisaran US$ 5.000 per troy ons. Meskipun harga emas telah berhasil memantul dari titik terendahnya, menurut Schneider, volatilitas ini tampaknya merupakan bagian dari konsolidasi yang lebih luas.

Ia menambahkan bahwa pergerakan harga emas ke depan akan lebih bergantung pada pergeseran struktural di pasar keuangan dibandingkan berita perkembangan geopolitik.

“Tetapi satu-satunya pengecualian adalah jika konflik ini jadi lebih besar dan berkepanjangan, maka semua prediksi akan meleset. Saya pikir kita akan melihat harga minyak yang jauh lebih tinggi dan harga emas dan perak yang jauh lebih tinggi,” kata Schneider.

Namun, dalam jangka pendek, Schneider menilai risiko terbesar bagi emas adalah valuasi yang menarik di pasar obligasi. Menurutnya, dengan imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun yang turun di bawah 4% minggu lalu, investor tampaknya sedang menilai kembali arah investasi dalam lingkungan makroekonomi yang tidak pasti.

Schneider mencatat, pasar obligasi muncul sebagai tempat berlindung yang aman alternatif, terutama karena kekhawatiran meningkat tentang pasar kredit dan stabilitas sistem keuangan global.

“Menurut saya, yang sedang terjadi adalah perubahan besar. Para spekulator dan pedagang obligasi dapat mulai melirik obligasi sebagai jaring pengaman lebih dari emas," sebutnya.

Ia menjelaskan bahwa pergeseran ini mencerminkan kekhawatiran yang semakin meningkat terhadap sistem kredit dan kemungkinan bahwa pemerintah akan memprioritaskan stabilitas keuangan daripada menekan inflasi.

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 30 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 1 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 8 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia