Perdagangan Emas Dunia Mulai Terdampak Konflik Timur Tengah
JAKARTA, investor.id – Konflik di Timur Tengah mulai berdampak pada perdagangan emas global. Pemerintah Ghana mempertimbangkan mengalihkan pengiriman emas artisanal ke pusat pemurnian alternatif setelah gangguan penerbangan menuju Dubai menghambat arus logistik logam mulia tersebut.
Dikutip dari Reuters, dua sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan perusahaan eksportir emas artisanal milik negara Ghana tengah menyiapkan jalur pengiriman baru jika gangguan penerbangan ke Uni Emirat Arab terus berlanjut.
Gangguan ini terjadi setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran meluas di kawasan Timur Tengah, sehingga sebagian besar penerbangan menuju Dubai dihentikan sementara.
Dubai selama ini menjadi salah satu pusat perdagangan emas terbesar di dunia dan jalur utama distribusi emas fisik ke pusat pemurnian besar seperti Swiss, Hong Kong, dan India. Bagi Ghana, produsen emas terbesar di Afrika dan keenam terbesar di dunia, sekitar 80% emas dari sektor pertambangan skala kecil dan artisanal biasanya diproses di Dubai.
Perdagangan emas artisanal Ghana saat ini dikelola oleh GoldBod, lembaga yang menjadi satu-satunya pembeli dan eksportir resmi emas dari sektor pertambangan skala kecil sejak dibentuk tahun lalu. Seorang pejabat senior GoldBod mengatakan pihaknya telah menyiapkan rencana cadangan untuk pengiriman emas ke pusat pemurnian di luar Uni Emirat Arab, seperti Shanghai dan beberapa hub pemurnian di India.
Baca Juga:
Arah Harga Emas Pekan DepanNamun pelaku industri menilai pengalihan rute tersebut berpotensi meningkatkan biaya logistik.
Harga emas dunia yang mencapai rekor tertinggi serta sentralisasi perdagangan melalui GoldBod turut mendorong lonjakan produksi resmi emas artisanal Ghana. Tahun lalu, produksi sektor tersebut meningkat 63% menjadi 96 metrik ton dengan nilai sekitar US$15,8 miliar atau sekitar 52% dari total produksi emas nasional.
Meski demikian, GoldBod menilai gangguan terhadap perdagangan emas tidak akan terlalu signifikan karena permintaan pasar tetap tinggi. “Selalu ada pasar untuk emas. Banyak pembeli yang sudah lama menunggu, bahkan ada yang bersedia membayar dengan harga premium,” ujar salah satu pejabat GoldBod yang enggan disebutkan namanya.
Aktivitas Penerbangan Turun Drastis
Emas biasanya dikirim melalui jalur udara karena nilai yang sangat tinggi dibandingkan beratnya. Namun saat ini aktivitas penerbangan di Bandara Dubai, yang biasanya menjadi salah satu bandara tersibuk di dunia, hanya beroperasi sekitar 25% dari kapasitas normal.
Analis StoneX Rhona O’Connell mengatakan ketika penerbangan kembali normal, pengiriman awal kemungkinan akan diprioritaskan untuk barang yang mudah rusak dibandingkan komoditas bernilai tinggi seperti emas.
Jika konflik di Timur Tengah berlangsung lebih lama, rencana alternatif GoldBod dinilai penting untuk mengurangi dampak ekonomi terhadap Ghana dan negara-negara Afrika lainnya. Seorang sumber dari perusahaan pertambangan emas artisanal di Ghana mengatakan potensi penutupan wilayah udara dapat berdampak besar terhadap perdagangan.
“Jika zona larangan terbang diterapkan, maka perdagangan akan berhenti dan pasokan devisa bisa terganggu. Hal itu berpotensi menekan nilai mata uang domestik dan berdampak pada ekonomi,” ujarnya.
Chief Executive London Bullion Market Association (LBMA) Ruth Crowell menilai gangguan perdagangan akibat konflik Timur Tengah juga dapat membuka peluang untuk menekan aliran emas ilegal di Afrika.
Menurut dia, situasi ini dapat mendorong pelaku pasar meninjau kembali rantai pasok mereka dan memastikan sumber emas berasal dari jalur yang lebih transparan dan bertanggung jawab.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






