Ada Saham Batu Bara Murah, Potensi Cuan 51%, Laba Gede
Lebih lanjut, Everson mengungkapkan bahwa laba bersih AADI selama 2025 tertekan oleh pelemahan harga jual rata-rata sebesar 13% yoy, meski volume penjualan batu bara naik 6% yoy menjadi 71,9 juta ton – dibandingkan panduan manajemen untuk tahun 2025 yang sebanyak 65-67 juta ton.
“Pendapatan selama 2025 turun 8% yoy menjadi US$ 4,9 miliar, sedikit lebih tinggi dari ekspektasi, yaitu 104% dari estimasi konsensus 2025,” pungkasnya.
Sementara itu, di lantai bursa, saham AADI masih tergolong murah. Meski murah, AADI yang merupakan salah satu saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) tetap memiliki return on equity (ROE) yang baik.
Berdasarkan data di Stockbit Sekuritas, yang diakses pada Selasa (10/3/2026), rasio PE saham AADI saat ini (trailing twelve months/TTM) tergolong murah sebesar 6,5 kali.
Di lain pihak, BRI Danareksa Sekuritas menaikkan peringkat sektor batu bara serta pandangan taktis (3 bulan) menjadi overweight, seiring potensi kenaikan harga batu bara. Saat ini, harga batu bara belum sepenuhnya mencerminkan potensi kenaikan harga lebih lanjut.
BRI Danareksa Sekuritas menetapkan Adaro Andalan Indonesia (AADI) sebagai pilihan utama di sektor batu bara, karena ada potensi kenaikan laba sebesar 20% hingga 94% pada 2026-2028.
Saham AADI juga berpotensi mengalami kenaikan target harga menjadi Rp 12.100-15.840 dalam skenario harga batu bara yang lebih bullish. Rekomendasinya adalah buy.
Jika mengacu harga saat ini, potensi cuan saham AADI maksimal sebesar 51,5%.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






