Harga Emas Masih Bisa Tancap Gas dari US$ 5.000, Ini Pendukungnya
JAKARTA, investor.id - Harga emas terus bertahan di sekitar level US$ 5.100 per troy ons dalam pola konsolidasi yang bergejolak. Namun, seorang investor menilai harga emas masih memiliki potensi untuk naik lebih lanjut karena ekonomi global menghadapi ketidakpastian.
Dikutip dari Kitco News, Rabu (11/3/2026) editor di Paradigm Press Group, Byron King mengatakan bahwa, pergeseran ekonomi struktural dan minat yang diperbarui pada aset safe haven menciptakan dorongan kuat bagi harga emas.
King mencatat bahwa, meskipun harga emas telah melonjak dalam beberapa tahun terakhir, reli saat ini masih dalam tahap awal.
Dia menyebut, investor yang meyakini bahwa mereka melewatkan pergerakan harga emas dari US$ 2.000 menjadi US$ 5.000 per troy ons harus fokus pada potensi keuntungan di masa depan daripada kinerja masa lalu.
“Orang-orang mengatakan mereka melewatkan pergerakan harga emas, tetapi mereka hanya melewatkan tahap pertama,” kata King.
“Jangan lewatkan pergerakan selanjutnya, karena harga emas bisa US$ 5.000 lebih tinggi," ujarnya.
Dia menjelaskan, pendorong utama di balik reli harga emas adalah kekhawatiran atas stabilitas jangka panjang mata uang fiat dan utang pemerintah Amerika Serikat.
Utang AS pun telah mendekati US$ 39 triliun. Dalam kondisi tersebut, menurut King, memegang emas fisik berfungsi sebagai alat penting untuk menjaga kekayaan.
“Jika Anda mengambil uang Anda dan membeli koin emas lalu menyimpannya, Anda telah menjaga daya beli tersebut,” katanya.
King juga mengatakan ia melihat reli harga emas saat ini sebagai bagian dari pergeseran yang lebih luas menuju ekonomi global multipolar dan persaingan yang diperbarui untuk sumber daya.
Pengeluaran pemerintah untuk mineral penting juga membantu mendorong minat terhadap emas. Dalam hal ini, King merujuk pada alokasi dana puluhan miliar dolar untuk proyek pertambangan yang terkait dengan material strategis seperti tembaga, logam tanah jarang, tungsten, dan antimon.
“Dunia kembali ke aset riil. Barang riil mengalahkan kertas keuangan," sebutnya.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






