Sabtu, 4 April 2026

Harga Emas Masih Bisa Tancap Gas dari US$ 5.000, Ini Pendukungnya

Penulis : Natasha Khairunisa
11 Mar 2026 | 09:40 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi emas batangan. (Foto: Bloomberg)
Ilustrasi emas batangan. (Foto: Bloomberg)

JAKARTA, investor.id - Harga emas terus bertahan di sekitar level US$ 5.100 per troy ons dalam pola konsolidasi yang bergejolak. Namun, seorang investor menilai harga emas masih memiliki potensi untuk naik lebih lanjut karena ekonomi global menghadapi ketidakpastian.

Dikutip dari Kitco News, Rabu (11/3/2026) editor di Paradigm Press Group, Byron King mengatakan bahwa, pergeseran ekonomi struktural dan minat yang diperbarui pada aset safe haven menciptakan dorongan kuat bagi harga emas.

King mencatat bahwa, meskipun harga emas telah melonjak dalam beberapa tahun terakhir, reli saat ini masih dalam tahap awal.

Advertisement

Dia menyebut, investor yang meyakini bahwa mereka melewatkan pergerakan harga emas dari US$ 2.000 menjadi US$ 5.000 per troy ons harus fokus pada potensi keuntungan di masa depan daripada kinerja masa lalu.

“Orang-orang mengatakan mereka melewatkan pergerakan harga emas, tetapi mereka hanya melewatkan tahap pertama,” kata King.

“Jangan lewatkan pergerakan selanjutnya, karena harga emas bisa US$ 5.000 lebih tinggi," ujarnya.

Dia menjelaskan, pendorong utama di balik reli harga emas adalah kekhawatiran atas stabilitas jangka panjang mata uang fiat dan utang pemerintah Amerika Serikat.

Utang AS pun telah mendekati US$ 39 triliun. Dalam kondisi tersebut, menurut King, memegang emas fisik berfungsi sebagai alat penting untuk menjaga kekayaan.

“Jika Anda mengambil uang Anda dan membeli koin emas lalu menyimpannya, Anda telah menjaga daya beli tersebut,” katanya.

King juga mengatakan ia melihat reli harga emas saat ini sebagai bagian dari pergeseran yang lebih luas menuju ekonomi global multipolar dan persaingan yang diperbarui untuk sumber daya.

Pengeluaran pemerintah untuk mineral penting juga membantu mendorong minat terhadap emas. Dalam hal ini, King merujuk pada alokasi dana puluhan miliar dolar untuk proyek pertambangan yang terkait dengan material strategis seperti tembaga, logam tanah jarang, tungsten, dan antimon.

“Dunia kembali ke aset riil. Barang riil mengalahkan kertas keuangan," sebutnya.

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 5 menit yang lalu

MPMX Raih Laba Bersih Rp 462 Miliar pada 2025

PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX), perusahaan konsumer  otomotif dan transportasi di Indonesia hari ini melaporkan hasil kinerja keuangan  untuk tahun buku 2025 yang telah diaudit. Perseroan tetap mempertahankan fundamental  bisnis yang solid di tengah dinamika kondisi pasar.  
Market 3 jam yang lalu

Pizza Hut (PZZA) Balikkan Rugi Jadi Laba

PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) membalikkan kinerja keuangan pada 2025 dengan mencetak laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 24,75 miliar.
National 3 jam yang lalu

Jenazah Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL Tiba di Indonesia

Tiga jenazah prajurit TNI yang gugur jalankan tugas di Lebanon tiba di tanah air dan dijadwalkan akan diterima Presiden Prabowo Subianto.
National 4 jam yang lalu

Gelar Munas, Hipmi Perkuat Peran Pengusaha Muda Hadapi Tekanan Global

Hipmi gelar Munas 2026 untuk memperkuat kontribusi pengusaha muda dalam perekonomian nasional di tengah tantangan ekonomi global.
International 4 jam yang lalu

Israel Gempur Beirut: Markas Hizbullah dan Jembatan Sungai Litani Hancur

Israel gempur Beirut dan hancurkan jembatan strategis di Sungai Litani. 1.300 orang tewas dalam sebulan, pasukan UNIFIL kembali jadi korban.
International 5 jam yang lalu

Gedung Big Tech AS Oracle Rusak Akibat Rudal Iran

Gedung Big Tech AS Oracle Dubai rusak akibat serpihan rudal Iran. 4 warga Bahrain terluka saat serangan udara kian meluas di kawasan Teluk.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia