HRTA Soroti Minat dan Tren Harga Emas
JAKARTA, investor.id - Hartadinata Abadi (HRTA) mengungkapkan bahwa minat terhadap emas makin menguat, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama setelah konflik di Timur Tengah terjadi pada awal Maret 2026.
HRTA mencatat, sebelum konflik memanas di Timur Tengah, rata-rata harga emas dunia telah berada di level US$ 5.015 per troy ons pada Februari 2026 atau sekitar Rp 2,71 juta per gram, meningkat 17% secara tahunan dan 6% dibandingkan bulan sebelumnya.
Harga emas bahkan ditutup pada level US$ 5.278 per ounce, mendekati rekor tertinggi yang tercapai pada Januari 2026.
Direktur Investor Relations HRTA, Thendra Crisnanda mengatakan bahwa dinamika geopolitik dan ekonomi global saat ini kembali menegaskan peran emas sebagai instrumen penyimpan nilai dalam jangka panjang.
“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, seperti konflik geopolitik maupun tekanan inflasi, masyarakat cenderung melihat emas sebagai sarana menabung nilai yang relatif stabil. Kami melihat minat terhadap kepemilikan emas tetap kuat, baik dari masyarakat maupun institusi,” ungkap Thendra dalam keterangan resmi, dikutip pada Kamis (12/3/2026).
"Ketegangan geopolitik juga menjadi katalis terbaru bagi pergerakan harga. Pada awal Maret, serangan militer yang menewaskan pemimpin Iran memicu kenaikan harga emas sekitar 1%, diikuti lonjakan harga minyak yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi ini mendorong sebagian pelaku pasar untuk menempatkan emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi," paparnya.
Selain dinamika geopolitik, Thendra menyoroti, arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi faktor penting terhadap pergerakan harga emas dunia.
Pada Februari 2026, Federal Reserve kembali menahan suku bunga AS di tengah inflasi yang masih berada di atas target, meskipun tetap membuka ruang untuk penurunan suku bunga di masa mendatang.
Baca Juga:
Saat Harga Emas Bikin Cemas"Ke depan, pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah katalis utama dari Amerika Serikat, termasuk rilis data tenaga kerja, inflasi (CPI), serta keputusan FOMC, yang berpotensi memengaruhi arah harga emas dunia," demikian paparan HRTA.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






